Forbidden Love

Forbidden Love
Mari saling mencintai


__ADS_3

Setelah selesai melihat lihat sekeliling rumah baru Leo dan Sinta, Jennifer langsung memesan taxi online agar mengantarnya menuju kampus. Apa lagi sejak tadi Mutia juga sudah menghubunginya dan menanyakan dimana dirinya berada.


Jennifer berkali kali menghela napas saat dalam perjalanan menuju kampus. Lagi lagi rasa cemburu itu terasa membakar hatinya melihat kemesraan Leo dan Sinta. Jennifer selalu berusaha juga selalu yakin bahwa dirinya pasti bisa melupakan kakaknya mengikis rasa yang tidak seharusnya itu. Namun pada kenyataannya usaha tersebut tidak semudah tekad dan keyakinannya. Apa lagi jika Jennifer harus melihat mereka berdua terlalu sering.


“Ya Tuhan.. Semoga nanti kak Leo sibuk dan tidak sering sering datang kerumah saat aku ada di rumah.” Gumam Jennifer pelan penuh harap. Jennifer berharap keduanya akan sibuk dengan dunianya sendiri di rumah barunya sehingga Jennifer tidak perlu bertemu keduanya. Dengan begitu Jennifer yakin dirinya akan lebih mudah melupakan Leo.


Begitu sampai di depan gerbang kampus, Jennifer pun langsung membayar ongkos untuk taxi online tersebut. Setelah itu Jennifer turun dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke area gedung universitas tempat dirinya menimba ilmu.


“Jennifer.” Itu suara berat Nando. Jennifer hapal betul dengan suara pria menyebalkan itu.


Jennifer menghela napas jengah kemudian menoleh dan mendapati Nando yang sedang melangkah menghampirinya. Jika saja kedua orang tuanya tidak begitu percaya dengan hubungannya dan Nando, Jennifer enggan bersandiwara dengan Nando yang selalu menekan dan memaksanya sesuka hati.


“Kamu darimana saja? Dari pagi aku cariin kamu. Aku telepon juga nggak di angkat. Aku jemput ke rumah tapi kata bibi kamu lagi pergi sama om dan tante, juga Leo dan Sinta.”


Jennifer menahan napas. Gadis itu merasa tidak perlu memberitahu Nando darimana dirinya pagi ini. Selain karena itu bukan urusan Nando, Jennifer juga merasa Nando tidak perlu terlalu banyak tau tentang keluarganya.


“Aku rasa kamu cukup tau saja aku pergi dengan mamah dan papahku. Kamu tidak perlu tau kemana tujuan kami Nando.” Ujar Jennifer malas.


Nando menggelengkan kepalanya. Jennifer benar benar tidak seperti gadis pada umumnya yang sangat memujanya. Jennifer bahkan sangat anti padanya.


“Tapi sebagai tunangan bahkan calon suami kamu, aku merasa harus tau segalanya tentang kamu juga tentang keluarga kamu Jennifer.”

__ADS_1


Kedua mata Jennifer melebar mendengar apa yang Nando katakan dengan santainya.


“Jangan mimpi kamu Nando. Aku tau siapa dan bagaimana kamu. Kamu itu hanya laki laki tidak normal yang memanfaatkan aku dengan menggunakan ancaman. Kamu pikir aku sudi menikah dengan laki laki penyuka sesama jenis seperti kamu Nando? Aku masih waras dan aku nggak mau hidup dengan orang tidak normal seperti kamu.” Tekan Jennifer berkata dengan pelan karena tidak ingin siapapun mendengar apa yang dia katakan pada Nando.


Kedua mata Nando menyipit merasa tidak suka dengan apa yang Jennifer lontarkan. Isu dirinya penyuka sesama jenis benar benar mencoreng namanya sebagai pria normal. Isu yang entah darimana asal muasalnya.


“Jaga mulut kamu atau aku..”


“Kamu mau apa? kamu mau mengancam aku lagi? Kamu pikir aku takut? Semua teman teman seluruh kampus juga sudah melihat photo itu. Dan mereka sudah menghujat aku dengan kata kata tidak pantas mereka. Jangan kamu pikir dengan kamu mengeluarkan Kiki dari kampus aku akan berterimakasih sama kamu Nando. Karena pada dasarnya orang yang membuat semua teman teman kampus menghujat itu kamu, bukan Kiki.” Sela Jennifer panjang lebar.


Nando mengepalkan kedua tangannya. Ucapan Jennifer mulai membangkitkan emosi dalam diri Nando. Ke keras kepalaan Jennifer membuat Nando merasa harus memberi pelajaran padanya agar Jennifer tidak berkata seenaknya padanya.


“Kamu itu cuma...”


Ucapan Jennifer berhenti saat tiba tiba Nando merengkuh dan mengunci tubuh Jennifer dalam dekapannya dengan bibir yang menempel sempurna di bibir Jennifer. Kedua mata Jennifer membulat sempurna. Nando menciumnya dengan begitu bernafsu di depan semua teman teman kampus yang berlalu lalang.


Jennifer berusaha untuk memberontak namun karena tubuh dan kedua tangannya yang di kunci oleh Nando, Jennifer menjadi tidak bisa bergerak. Bahkan untuk melengos saja Jennifer tidak mampu karena Nando begitu cekatan menahan kepalanya menggunakan tangan kirinya.


Semua pasang mata yang melihat Nando mencium Jennifer terkejut juga tidak menyangka karena Nando mencium Jennifer di depan mereka. Hal itu membuat mereka semua memandang Nando sebagai pria yang sangat romantis.


“Ya Tuhan.. Andai aku yang menjadi Jennifer...” Ujar seorang gadis yang merasa iri dengan kemesraan Nando dan Jennifer.

__ADS_1


Menyadari Jennifer yang hampir kehabisan napas karena ciumannya, Nando pun segera melepaskan tautan bibirnya. Pria itu menempelkan keningnya pada kening Jennifer yang sedang berusaha menormalkan pernapasannya.


“Mari kita berusaha untuk saling mencintai Jennifer.” Bisik Nando.


Kedua mata Jennifer membulat mendengarnya. Ucapan Nando benar benar terdengar sangat tidak mungkin. Bagaimana mungkin Jennifer bisa mencintai Nando yang sangat menyebalkan dan selalu mengancamnya.


“Kamu benar benar sudah tidak waras Nando.” Tekan Jennifer menatap Nando sinis.


Saat Jennifer hendak memberontak untuk melepaskan pelukan paksa Nando, Nando terus menahannya membuat Jennifer tidak berdaya untuk sekedar bergerak.


“Kita sama sama masih sendiri Jennifer. Status kita juga sudah jelas. Jadi mari kita saling membuka hati. Aku yakin dengan begitu kamu bisa melupakan Leo. Kamu bisa mencintaiku yang akan dengan setia menemani kamu sampai kapanpun. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Oke?”


Jennifer mengepalkan kedua tangannya. Jika saja sekarang dirinya dan Nando tidak sedang berada di depan banyak teman teman kampus, Jennifer pasti sudah membenturkan lututnya ke bagian penting Nando sehingga pelukan paksa pria itu terlepas.


Pelan pelan Nando melepaskan pelukannya. Pria itu kemudian meraih tangan Jennifer dan menggenggamnya lembut. Nando menarik lembut tangan Jennifer menyuruh agar Jennifer mengikuti langkahnya.


Jennifer yang tidak mungkin memberontak di depan banyak teman teman kampus hanya menurut dan menurut saja. Namun begitu sampai di koridor yang cukup sepi, Jennifer langsung menghempaskan tangannya membuat genggaman tangan Nando terlepas darinya.


“Kamu keterlaluan Nando. Kamu mempermalukan aku di depan banyak orang. Kamu gila.” Umpat Jennifer marah.


Nando menyipitkan kedua matanya. Yang Nando lakukan dengan mencium Jennifer di depan banyak teman teman kampus memang keterlaluan. Tapi Nando melakukan itu untuk menghentikan ocehan Jennifer yang terus saja mengatakan dirinya tidak waras.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu malu Jennifer. Justru seharusnya kamu bangga karena dari sekian banyaknya perempuan disini kamu adalah satu satunya yang aku pilih.” Nando berkata dengan penuh percaya diri. Pria itu memang sengaja memilih Jennifer karena tau Jennifer berbeda dari gadis lain.


“Dasar gila !!” Ketus Jennifer kemudian berlalu begitu saja.


__ADS_2