
Merasa jengah karena menganggap Jennifer lupa padanya yang di sebabkan oleh seorang Nando, Leo pun nekat menemui Nando di perusahaan milik keluarga Arseno. Dengan bermodalkan jabatannya yang sebagai CEO di perusahaan sang papah, Leo begitu sangat percaya diri menanyakan Nando pada petugas resepsionis di perusahaan besar tersebut.
“Saya Leo Ardiansyah, pemilik perusahaan Ardiansyah grup. Saya kesini mau bertemu dengan Nando Arseno.” Ujar Leo dengan gelagat angkuh dan sombong.
Petugas resepsionis yang adalah seorang wanita itu tampak diam dan berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk dengan hormat pada Leo. Siapapun tau siapa Leo di perusahaan itu. Tentu saja karena Leo adalah kakak dari Jennifer yang tidak lain adalah kekasih atau tunangan dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
“Baik tuan, saat ini tuan Nando sedang tidak ada di tempat. Anda bisa menunggunya di ruangan tuan Nando. Saya akan menghubungi tuan Daniel untuk mengantar anda.”
Leo berdecak. Mendengar seseorang memanggil Nando dengan penuh hormat benar benar membuat Leo merasa malas. Karena menurut Leo, Nando tidak sehebat yang orang orang katakan.
Tidak lama setelah resepsionis itu menghubunginya, Daniel pun muncul dari dalam lift. Pria itu mengangkat sebelah alisnya melihat Leo yang berdiri di depan meja resepsionis dengan tampang songong menurut Daniel.
Penasaran dengan kedatangan Leo yang tiba tiba ingin bertemu dengan Nando, Daniel pun segera mendekat. Pria dengan setelan jas abu abu itu menghampiri Leo yang menatap malas padanya.
“Selamat siang tuan Leo..” Sapa Daniel berusaha ramah dan sopan pada calon kakak ipar sahabatnya itu.
Leo mendesah malas. Entah kenapa pria itu merasa malas jika sudah menyangkut dengan orang orang yang dekat dengan Nando. Apa lagi Daniel juga sangat dekat dengan Nando. Selain sebagai asisten pribadi Nando, Daniel juga adalah sahabat dekat Nando yang Leo tau.
“Saya tidak punya banyak waktu sebenarnya. Tapi karena hal mendesak yang akhirnya memaksa saya untuk mau tidak mau datang kesini menemui atasan kamu.” Ujar Leo dengan gaya angkuhnya.
Daniel mengeryit. Ini pertama kali dirinya berhadapan langsung dengan seorang Leo. Dan Daniel tidak menyangka jika seorang Leo ternyata sangat angkuh dan sombong. Tidak seperti Jennifer yang super dan baik hati pada siapa saja.
“Oke.. Tapi saat ini tuan Nando sedang tidak berada di tempat tuan. Tuan Nando sedang pergi bersama dengan nona Jennifer. Mungkin sebentar lagi akan kembali ke perusahaan. Tuan bisa menunggu di ruangan tuan Nando. Mari saya antar.”
__ADS_1
Leo berdecak.
“Saya malas menunggu sebenarnya. Tapi ya sudahlah, tapi saya tidak bisa lama lama. Saya sibuk.” Ujar Leo kembali bersikap begitu angkuh kemudian melangkah lebih dulu dari Daniel yang hanya bisa menggelengkan kepalanya saja begitu juga dengan petugas resepsionis yang tadi sempat melayani Leo dengan ramah.
Daniel kemudian melangkah menyusul Leo. Daniel yakin setelah ini pasti akan terjadi masalah antara Nando dan Leo.
Setelah mengantar dan mempersilahkan Leo untuk duduk dan menunggu di ruangan Nando, Daniel pun segera menghubungi Nando dan mengatakan tentang Leo yang sedang menunggu di ruangannya.
Nando yang juga tidak mengerti dan penasaran dengan kedatangan tiba tiba Nando memutuskan untuk segera kembali ke perusahaan dan beralasan ada kepentingan mendadak pada Jennifer. Karena tidak mungkin rasanya jika Nando mengatakan dengan jujur pada Jennifer bahwa Leo sedang menunggunya di perusahaan miliknya.
“Belajar yang pintar ya.. Nanti sore aku jemput lagi. Ingat, jangan pulang dulu sebelum aku datang. Oke?” Ujar Nando pada Jennifer begitu mobilnya sampai tepat di parkiran kampus.
“Iya tuan.. Saya paham.” Saut Jennifer bercanda dengan tawa gelinya.
Nando menghela napas menatap Jennifer yang melangkah menjauh dari mobilnya. Pria itu kemudian tersenyum merasa senang karena semakin hari hubungannya dengan Jennifer semakin dekat. Jennifer juga sudah tidak lagi ketus padanya. Jennifer selalu tersenyum dan pasrah saja saat Nando memeluk ataupun menciumnya. Bahkan Jennifer juga sudah mau membalas dan mengimbangi ciuman Nando.
Setelah Jennifer tidak lagi terlihat, Nando kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata. Nando yakin Leo tidak mungkin datang tanpa sebab. Leo pasti punya tujuan tiba tiba datang ke perusahaannya.
Dalam waktu yang cukup singkat, mobil Nando sampai di depan perusahaan yang di pimpinnya. Pria itu bergegas turun dari mobil dan memasrahkan kendaraan mewah beroda empat itu pada satpam yang ada disana.
Beberapa kali Nando mendapat sapaan ramah dari para karyawannya yang hanya di balas dengan anggukan saja oleh Nando. Pria itu melangkah lebar menuju lift yang akan membawanya ke lantai dimana ruang kerjanya berada. Nando benar benar tidak sabar ingin menemui Leo.
“Dimana dia?” Tanya Nando pada Daniel yang saat itu sedang fokus dengan berkas di tangannya.
__ADS_1
Mendengar suara Nando, Daniel pun mengangkat kepalanya dan sedikit mendongak menatap Nando yang memasang mimik serius di wajah tampannya.
“Dia ada di ruangan kamu. Aku pikir kamu harus cukup bersabar menghadapinya yang begitu angkuh dan sombong Nando.”
Nando hanya diam saja. Nando tau kenapa Leo bersikap demikian pada Daniel.
“Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu.” Ujar Nando menepuk pelan bahu Daniel.
Daniel hanya mengangguk saja. Pria itu berharap tidak akan ada hal yang buruk yang terjadi setelah ini.
Nando melangkah menuju ruangannya dan membuka pintu bercat coklat gelap itu kemudian menutupnya kembali.
Suara pintu yang di buka berhasil menarik perhatian Leo. Pria itu tersenyum sinis saat mendapati Nando yang masuk dan melangkah mendekat ke arahnya.
“Maaf membuat anda menunggu.” Ujar Nando sambil mendudukan dirinya di sofa panjang yang berseberangan dengan sofa yang di duduki Leo.
“Tidak perlu pura pura bersikap sopan padaku Nando. Disini tidak ada papahku, apa lagi Jennifer. Perlihatkan saja bagaimana aslinya kamu yang sebenarnya. Tidak usah merasa sungkan.” Kata Leo dengan sinis.
Nando mengeryit. Sudah bisa di pastikan kedatangan Leo siang ini hanya ingin mencari masalah dengannya.
“Apa maksud kamu Leo?” Tanya Nando yang merasakan kesabarannya mulai menipis karena sikap Leo.
“Kamu tidak perlu bersandiwara di depanku Nando. Kamu sudah berhasil membuat Jennifer menjauh dari keluarganya, termasuk aku, kakaknya.. Jadi lebih baik sekarang kamu katakan dengan jujur apa mau kamu sebenarnya.”
__ADS_1
Nando semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Leo. Karena selama ini Nando memang tidak pernah memiliki tujuan lain selain ingin membuat Jennifer benar benar mencintainya dan memilikinya seutuhnya.