
Jennifer terus mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya dengan Nando tidak salah. Mereka hanya menghabiskan waktu bersama untuk saling melengkapi satu sama lain. Jennifer mencoba mengabaikan apa yang Leo katakan. Dia mencoba untuk tidak perduli dengan apapun yang Leo katakan tentangnya dan Nando. Toh Jennifer hanya sedang berusaha mencoba melupakan perasaanya pada Leo. Perasaan yang sebenarnya memang tidak seharusnya Jennifer miliki.
Sementara itu, semalaman Leo dan Sinta juga terus berdiam diaman. Mereka berdua bahkan tidur dengan posisi saling memunggungi. Tidak seperti biasanya yang berpelukan dan sangat mesra. Bahkan paginya saat bangun mereka juga terus diam diaman. Tidak ada pelukan hangat ataupun ciuman pagi yang mesra. Keduanya tampak tidak saling perduli satu sama lain. Bahkan Leo juga keluar lebih dulu tanpa menunggu istrinya.
Leo melangkah menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu dimana meja makan berada. Leo bermaksud untuk bergabung bersama kedua orang tua serta adiknya sarapan bersama pagi ini.
Ketika sudah sampai di anak tangga terakhir, langkah Leo terhenti saat tidak sengaja mendengar suara Jennifer.
“Ya udah mah, pah.. Jennifer sama Nando berangkat dulu ya.. Udah telat nih.. ini sarapannya Jennifer bawa ya mah.. Makasih banget mamah sudah sangat mengerti Jennifer..”
“Kamu sama mamah kaya sama siapa aja sih sayang.. Ya udah sana berangkat. Nando, kamu hati hati ya nyetirnya. Om sama tante titip Jennifer sama kamu.”
“Iya tante.. Tante sama om nggak perlu khawatir. Nando pasti akan menjaga Jennifer dengan sebaik baiknya. Kalau begitu kami pamit ya om, tante..”
“Hati hati..”
Leo menghela napas. Sekarang Leo sadar kemarahannya tidak ada artinya. Jennifer sama sekali tidak menggubrisnya. Jennifer justru semakin sibuk menghabiskan waktu dengan Nando, tunangannya. Sedang dirinya bahkan sampai berantem dengan Sinta, istrinya. Leo membuat Sinta menangis tanpa sedikitpun memikirkan perasaan istri yang sangat di cintainya itu. Dan semua itu karena Leo yang merasa tidak lagi di butuhkan oleh Jennifer.
“Ya Tuhan...” Gumam Leo mengusap kasar wajah tampannya. Leo benar benar merasa sangat bodoh sekarang. Leo marah hanya karena melihat Jennifer yang sibuk menghabiskan waktu dengan Nando yang sudah jelas statusnya adalah tunangan Jennifer.
Suara langkah Sinta membuat Leo menoleh ke belakang. Dan karena tatapan Leo, langkah Sinta otomatis berhenti. Wanita itu kemudian melengos enggan membalas tatapan suaminya. Sinta masih merasa sangat kesal karena Leo yang semalam marah marah saat dirinya mengingatkan agar tidak terlalu mengekang Jennifer.
__ADS_1
Leo menghela napas. Pria itu pelan pelan memutar tubuhnya dan menghadap pada Sinta yang berjarak hanya beberapa anak tangga dari tempatnya berdiri.
“Aku sadar apa yang aku katakan sama kamu itu sangat salah. Tidak seharusnya aku terlalu mengekang Jennifer agar tidak terlalu sering bersama Nando. Kamu benar, tidak ada salahnya memang kalau mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama. Mereka pasangan yang saling mencintai. Sama seperti kita dulu. Bukan begitu sayang?”
Sinta tersenyum sinis. Ucapan Leo semalam benar benar berhasil menorehkan luka di hatinya. Sekarang Sinta bahkan ragu apakah Leo benar benar mencintainya atau tidak.
“Untuk apa yang sudah aku katakan sama kamu semalam, aku benar benar minta maaf Sinta. Aku sangat mencintai kamu. Maaf kalau ucapan aku menyakiti hati kamu.”
Sinta menghela napas kasar. Bahkan Sinta juga curiga Leo sebenarnya juga mencintai adiknya sendiri. Terbukti dengan Leo yang selalu tidak terima jika melihat Jennifer dan Nando bersama.
“Sayangnya sekarang aku ragu sama kamu Leo. Kamu bahkan mengesampingkan urusan kita hanya karena Jennifer dan Nando bersama. Kamu membuat perpindahan kita tertunda. Kamu egois.” Balas Sinta membuat Leo menelan ludahnya merasa takut.
“Kamu tau kan Leo? mempunyai hunian sendiri adalah impian semua istri. Sebagus dan senyaman apapun rumah mamah sama papah tapi menurut aku akan lebih nyaman tinggal di gubuk kecil asal gubuk itu adalah hak milik kita berdua.”
Leo tau itu, sejak awal mereka berencana untuk menikah impian Sinta memang mempunyai rumah sendiri. Tidak dirumah kedua orang tuanya ataupun di rumah keluarga Ardiansyah. Dan jika saja Leo tidak terus memikirkan Jennifer, hari ini juga mereka berdua sudah bisa pindah ke rumah yang menjadi kado pernikahan mereka dari tuan Ardiansyah.
“Maaf...”
“Sudahlah, aku sudah telat.” Sela Sinta yang kemudian melangkah cepat menuruni anak tangga dan melewati Leo begitu saja.
“Sayang aku...” Leo mencekal lengan Sinta dengan lembut mencoba untuk kembali menjelaskan, namun dengan pelan Sinta melepaskan cekalan lembut tangan Leo di lengannya.
__ADS_1
Sinta kemudian melangkah menjauh enggan mendengarkan apapun yang ingin Leo katakan. Sinta merasa sangat tersakiti karena ucapan Leo semalam. Mereka berdua bahkan sampai berdebat hanya karena Jennifer dan Nando belum pulang. Leo juga tidak perduli meski melihat Sinta menangis dan terus mendebatnya dengan sengit.
Leo menghela napas dan berdecak pelan. Pria itu benar benar menyesal, sangat menyesal karena tidak bisa menahan emosinya. Seharusnya Leo tidak mendebat Sinta semalam dan mendengarkan serta memahami maksud istri tercintanya.
Leo melangkah menyusul Sinta menuju meja makan. Begitu sampai disana, Leo mengeryit karena Sinta bersikap begitu lembut padanya bahkan sampai menarikkan kursi untuknya duduk.
“Kamu mau makan apa sayang? Mau nasi goreng atau sandwich aja?” Tanya Sinta tersenyum penuh perhatian pada Leo yang hanya diam saja. Padahal Leo pikir Sinta akan bersikap cuek padanya karena sedang marah.
“Hey, kenapa malah diam?”
Leo mengerjapkan kedua matanya beberapa kali saat Sinta menepuk pelan bahunya. Wanita itu terus bersikap lembut dan perhatian seperti biasanya seolah mereka tidak sedang bertengkar sekarang.
“Ah ya.. Aku mau sandwich saja sayang.” Jawab Leo kemudian.
“Oke, mau selai coklat apa kacang?” Sinta kembali bertanya sambil meraih dua lembar roti tawar.
“Hem, coklat saja deh.” Jawab Leo tersenyum.
Tuan dan nyonya Ardiansyah yang melihat itu tersenyum merasa ikut bahagia. Sinta dan Leo memang selalu terlihat kompak dan mesra.
Sambil menyantap sandwich buatan istrinya Leo terus berpikir. Pria itu benar benar tidak tau kenapa Sinta tiba tiba bersikap begitu baik padanya padahal tadi bahkan Sinta melepaskan cekalan tangannya pertanda Sinta tidak ingin mendengarkan apapun darinya. Namun detik berikutnya Leo sadar. Pria paham dan mengerti sekarang dengan sikap istrinya. Sinta pasti tidak ingin memperlihatkan bahwa mereka berdua sedang berantem di depan kedua orang tuanya. Sinta berusaha menutupi semuanya dan terlihat tetap baik baik saja di depan tuan dan nyonya Ardiansyah.
__ADS_1