
Hari ini adalah hari kedua Jennifer akan kembali berusaha membuka hatinya untuk Nando. Curahan hatinya pada Nando semalam berhasil membuat beban dalam hatinya terasa terangkat. Jennifer merasa seperti baru saja meletakan beban berat di punggungnya yang selama ini dia pikul sendiri. Apa lagi Nando juga menyanggupi akan selalu ada untuk Jennifer kapanpun dan dimanapun Jennifer membutuhkannya.
Jennifer keluar dari kamarnya dengan senyuman penuh semangat. Gadis itu semakin yakin bahwa dirinya bisa melupakan Leo dan menerima Nando untuk masuk ke hatinya. Karena Nando bukan hanya baik padanya. Tapi juga pengertian dan peka.
“Jennifer.”
Suara Sinta membuat Jennifer menoleh. Jennifer yang hendak berlalu dari depan pintu kamarnya tersenyum saat mendapati Sinta yang juga sudah rapi dengan baju kasualnya. Ya, siapapun tau siapa Sinta. Dia adalah wanita cerdas yang bisa melakukan apa saja. Tidak heran jika kakaknya bahkan sampai sangat tergila gila padanya.
“Kak Sinta..” Gumam pelan Jennifer begitu Sinta sampai tepat di depannya.
“Kamu sudah mau berangkat?” Tanya Sinta pada Jennifer dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Iya kak.. Nando sudah nungguin aku dibawah.” Jawab Jennifer dengan senyuman pula.
“Oh, padahal kakak tadi mau ngajak kamu buat berangkat bareng. Tapi ternyata kakak kalah cepat sama Nando.”
Jennifer hanya tertawa saja. Kalaupun Nando belum datang Jennifer juga pasti tidak akan mau berangkat bareng dengan Sinta. Jennifer akan lebih memilih menunggu sampai Nando datang menjemputnya.
“Kamu sama Nando benar benar sangat cocok Jennifer. Kakak juga sudah lama mengenal dia. Nando adalah laki laki yang baik. Dia multitalent dan yah.. Kakak akui dia adalah partner bisnis yang paling the best.”
Jennifer hanya tersenyum saja. Jennifer tau Sinta sedang menyudutkannya. Tentu saja karena pasti Sinta juga tau perasaan Jennifer pada Leo.
“Kakak berharap kalian bahagia dan langgeng sampai ke pernikahan ya.. Kakak yakin Nando bisa menjadi suami yang baik untuk kamu Jennifer. Dia pasti bisa membimbing kamu untuk menjadi Jennifer yang lebih baik.”
Jennifer menghela napas. Jennifer juga sadar mencintai Leo adalah dosa terbesar yang tidak akan bisa di maklumi oleh siapapun. Tapi menurut Jennifer itu bukan berarti Sinta bisa menyudutkannya dan menganggap dirinya adalah yang paling benar.
__ADS_1
“Tentu saja. Pilihan aku tidak pernah salah kak. Aku memilih Nando karena aku juga tau Nando memang laki laki yang sangat baik untuk aku. Ya sudah kalau begitu aku duluan ya kak.. Mamah sama papah udah nungguin di bawah buat sarapan. Nando juga sudah datang sejak tadi.” Balas Jennifer dengan tenang kemudian berlalu tanpa menunggu persetujuan dari Sinta.
Sinta yang melihat itu hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Sinta sendiri tidak tau apa yang membuat Jennifer sampai mendambakan kakak kandungnya sendiri.
“Sayang.. Kamu ngapain disini?”
Sinta menoleh saat mendengar suara Leo. Wanita itu kemudian tersenyum manis pada pria yang sangat di cintainya itu.
“Ah enggak. Tadi aku ngobrol sebentar sama Jennifer. Tapi Jennifer udah turun ke bawah. Katanya Nando sudah menunggunya sama mamah sama papah.” Jawab Sinta.
Ekspresi Leo yang semula begitu lembut menatap Sinta langsung berubah begitu mendengar nama Nando di sebut. Entah kenapa tiba tiba Leo merasa tidak suka pada Nando yang dia anggap seperti berniat menggantikan posisinya sebagai pelindung untuk Jennifer.
“Mereka benar benar sangat serasi bukan?” Tanya Sinta sambil membenarkan dasi yang melingkar di kerah kemeja warna biru Leo.
“Terkadang apa yang kita lihat tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya. Nando mungkin terlihat baik sekarang. Tapi kita nggak tau bagaimana dia yang sesungguhnya. Kan kita tidak melihatnya setiap saat.” Jawab Leo dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Sinta mengeryit tidak mengerti kenapa suaminya malah berkata seperti itu. Padahal Leo juga awalnya sangat setuju dengan hubungan Jennifer dan Nando.
“Ya.. Tapi apa salahnya kita berharap yang terbaik untuk Jennifer. Kan kalau Jennifer bahagia kita sebagai kakaknya juga ikut bahagia. Begitu juga sebaliknya, kalau Jennifer menderita kita juga akan merasakan hal yang sama. Ya kan sayang?”
Leo hanya diam saja. Sekali lagi pria itu menghela napas, dan kali ini dengan kasar.
“Mungkin.” Jawabnya tidak terlalu perduli.
Sinta mengangkat kedua alisnya. Kentara sekali Leo sangat tidak setuju dengan apa yang di katakan nya tentang Jennifer dan Nando.
__ADS_1
“Lebih baik sekarang kita juga turun. Kita akan telat nanti jika terlalu banyak membahas sesuatu yang tidak penting.” Ujar Leo kemudian.
Sinta hanya mengangguk saja. Wanita itu tau apa yang sedang suaminya pikirkan.
“Oke...” Balas Sinta.
Mereka berdua kemudian turun menuju lantai satu dengan Sinta yang melingkarkan kedua tangannya di lengan kekar Leo. Wanita itu seolah ingin menunjukkan dan menyadarkan Jennifer bahwa yang sangat Leo cintai hanya dirinya.
Saat sampai di meja makan, Leo mengeryit karena tidak mendapati Jennifer disana. Padahal tadi Sinta mengatakan Jennifer baru saja turun.
“Mah, pah, mana Jennifer? Kenapa dia tidak sarapan?” Tanya Leo menatap bergantian pada kedua orang tuanya.
“Jennifer baru saja pergi nak. Nando menjemputnya tadi. Dia memang nggak sarapan sama kita karena katanya hari ini ada kelas pagi. Tapi tadi Jennifer sudah membawa bekal sekalian juga untuk Nando. Mereka bilang akan makan bersama di mobil nanti.” Jawab nyonya Ardiansyah tersenyum menatap putra sulungnya.
Leo berdecak. Nando benar benar seperti sedang menunjukan padanya bahwa dirinya jauh lebih baik dari siapapun termasuk Leo.
“Akhir akhir ini entah kenapa aku merasa Jennifer semakin menjauh dari kita mah, pah. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Nando dari pada sama kita.”
Sinta memilih diam. Sinta tidak ingin ikut berkomentar karena takut salah bicara yang pasti akan membuatnya terlihat jelek dimata kedua mertuanya.
Sementara tuan dan nyonya Ardiansyah, mereka tidak mengerti dengan apa yang Leo katakan. Karena menurut mereka berdua kedekatan Jennifer dan Nando sangat wajar mengingat mereka adalah pasangan yang sedang jatuh cinta. Menghabiskan waktu berdua dengan orang yang sangat di cintai dan bisa membuat nyaman adalah suatu hal yang indah menurut mereka berdua. Dan mereka yakin itu juga yang sedang di rasakan oleh Jennifer dan Nando.
“Leo kamu nggak boleh ngomong begitu. Nggak enak dong kalau sampai Nando mendengarnya. Kamu juga kan pernah merasakan juga apa yang Jennifer dan Nando rasakan sekarang.” Tegur tuan Ardiansyah.
Leo melengos. Dengan perasaan kesal Leo duduk di kursinya karena kedua orang tuanya justru malah menegurnya dan tidak mendukung apa yang dirinya katakan.
__ADS_1