Forbidden Love

Forbidden Love
Pindah


__ADS_3

Setelah mendapatkan maaf dari Sinta, Leo mencoba untuk mengabaikan apapun yang Jennifer dan Nando lakukan. Meski sebenarnya Leo merasa kesal setiap mendapati Jennifer yang di pulangkan terlalu malam oleh Nando. Namun karena sudah berjanji dan tidak ingin membuat istrinya marah apa lagi kecewa, Leo pun berusaha sekuatnya menahan ketidak sukaan nya pada Nando.


“Apa lagi yang kurang sayang?” Tanya Leo pada Sinta yang sedang mengemasi barang barang mereka. Ya, besok pagi mereka akan pindah ke rumah baru yang di berikan oleh tuan dan nyonya Ardiansyah. Mereka berdua akan menetap disana.


“Hemm.. Semua barang barang kita sudah masuk semua kan? Kalau semuanya sudah berarti sudah nggak ada yang kurang lagi.”


Leo menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak terasa gatal itu. Leo merasa bingung karena tidak mengingat semua barang barang yang dia bereskan tadi.


“Hem sayang, aku lupa apa saja yang tadi aku bereskan. Biar aku cek ulang saja ya..”


Sinta mengeryit kemudian tertawa merasa sangat lucu dengan apa yang di katakan suaminya. Padahal Leo begitu sangat semangat membantunya membereskan semua barang barang mereka. Namun begitu di tanya Leo justru kebingungan sendiri.


“Oke oke.. Biar aku bantu.” Sinta mengangguk anggukan kepalanya kemudian mendekat pada Leo yang berdiri disamping ranjang. Kebetulan Sinta juga sudah selesai membereskan semua barang barang yang dia handle.


“Maaf sayang.. Aku terlalu semangat sampai lupa memperhatikan barang barang tadi.” Ujar Leo merasa sangat menyesal dengan kebodohannya.


Sinta tersenyum memaklumi. Wanita itu kemudian mulai membantu Leo membongkar kembali barang yang sudah Leo packing yang seharusnya sudah beres itu.


Namun sedikitpun Sinta tidak marah ataupun menyalahkan Leo. Sebaliknya, wanita itu malah membantu Leo membongkar kembali barang barang tersebut membantu Leo.


Setelah membongkar dan membereskannya dengan teliti memastikan tidak akan ada barang yang ketinggalan, Leo dan Sinta pun bergegas untuk beristirahat karena besok pagi mereka akan pindah untuk menempati rumah pemberian tuan Ardiansyah.


---------


Dikamar Jennifer sedang mengecek skripsi yang besok akan dia serahkan pada dosen. Jennifer tidak ingin jika sampai ada kesalahan yang pasti akan membuatnya mengulang lagi seperti teman temannya yang lain. Meski sebenarnya Jennifer juga sangat yakin skripsinya akan dinilai bagus dan di terima karena ada bantuan dari Nando juga yang jelas sudah sangat berpengalaman. Ya, pria itu memang tidak pernah sungkan membantu apa saja yang Jennifer tidak bisa atau kurang paham. Hal itu tentu saja terjadi karena sepanjang hari setelah melakukan aktivitas mereka selalu menghabiskan waktu bersama dan baru akan berpisah begitu malam tiba.


Jennifer menghela napas dan tersenyum sembari menutup buku skripsinya. Gadis itu kemudian menoleh kearah pintu balkon kamarnya yang masih terbuka. Entah kenapa Jennifer tiba tiba ingin sekali kesana.

__ADS_1


Jennifer bangkit dari duduknya kemudian melangkah pelan menuju pintu balkon kamarnya yang terbuka dan keluar dari kamar berdiri dengan kedua tangan yang bertumpu pada pagar tralis balkon kamarnya.


Jennifer mendongak menatap langit penuh bintang malam ini. Dan tiba tiba saja senyuman Nando nampak disana. Hal itu membuat Jennifer tersenyum lebar. Nando benar benar berhasil mengalihkan dunianya. Nando berhasil membuat Jennifer tidak terus memikirkan Leo, kakaknya. Padahal awalnya Nando sangat menyebalkan dan begitu buruk di mata Jennifer. Tapi sekarang yang terjadi justru sebaliknya, Nando menjadi tempat yang paling nyaman untuk Jennifer mengekspresikan dirinya dengan bebas.


“Nando.. Aku benar benar masih tidak menyangka bisa begitu dekat sama kamu sekarang. Kamu berhasil Nando.. Dan sepertinya aku mulai tergantung sama kamu..” Gumam Jennifer terus menatap bayangan Nando yang tersenyum manis di langit penuh bintang malam ini.


Tidak hanya bayangan senyuman Nando saja, bahkan bayangkan kebersamaan mereka mulai bermunculan hingga akhirnya bayangan saat mereka berdua berciuman juga muncul membuat wajah Jennifer langsung memanas hingga akhirnya terlihat memerah seperti udang rebus.


“Ya Tuhan.. Kenapa harus bayangan itu juga muncul sih..”


Merasa malu karena bayangan dirinya dan Nando yang sedang berciuman itu muncul, Jennifer pun menutup wajah merahnya menggunakan kedua tangannya. Jennifer benar benar tidak pernah berpikir sebelumnya hubungannya dengan Nando begitu intim sampai mereka berciuman tanpa adanya pemaksaan. Bahkan Jennifer juga menikmati dan membalas ciuman mesra Nando tanpa sedikitpun merasa keberatan.


Deringan ponsel yang begitu nyaring dari dalam kamar membuat Jennifer menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. Sebuah keryitan muncul di keningnya. Penasaran dengan siapa yang meneleponnya, Jennifer pun langsung masuk kembali ke dalam kamar dan melangkah menuju meja belajarnya dimana banyak buku buku tebal miliknya tertata rapi disana. Ya, ponsel milik Jennifer memang tergeletak disana.


Sekali lagi Jennifer tersenyum. Ya, Nando meneleponnya.


“Ya Nando...” Sapa Jennifer begitu mengangkat telepon dari Nando.


“Suara kamu masih terdengar tegas. Apa kamu belum tidur sayang?”


Jennifer tersenyum geli. Jennifer yakin sebentar lagi Nando akan protes karena dirinya yang belum tidur sekarang.


“Ya, tadi aku memeriksa skripsiku sekali lagi memastikan tidak ada yang salah agar tidak mengulang.” Jawab Jennifer dengan senyuman.


“Hey, kamu meragukan kecerdasan tunangan kamu sendiri begitu? Sudah, lebih baik sekarang kamu tidur. Aku pastikan skripsi kamu yang paling bagus besok.”


Jennifer tertawa pelan.

__ADS_1


“Oke oke.. Baiklah tuan muda Arseno. Kalau begitu aku tidur dulu.”


“Bagus.. Aku tutup teleponnya.”


Sambungan telepon di sudahi oleh Nando. Pria itu memang sengaja menghubungi Jennifer untuk memastikan apakah Jennifer sudah tidur atau belum.


Jennifer menggelengkan kepalanya. Tidak mau berbohong pada Nando, Jennifer memutuskan untuk benar benar tidur. Gadis itu melangkah menuju ranjang dan naik kemudian berbaring dengan nyaman disana.


-------------


Paginya.


Jennifer membantu membawakan barang barang Leo dan Sinta dan memasukannya ke dalam bagasi. Meski sebenarnya ada setitik perasaan yang membuat Jennifer merasa akan ada sesuatu yang hilang darinya namun Jennifer berusaha mengabaikannya. Jennifer tidak ingin lagi hanyut kemudian tenggelam lagi ke dalam perasaan yang tidak seharusnya itu.


“Kak, apa masih ada lagi yang belum di turunkan?” Tanya Jennifer pada Sinta yang baru saja menaruh koper kecil di atas koper yang tadi bi bawa oleh Jennifer.


“Sepertinya sudah selesai dek..” Jawab Sinta membalas tatapan Jennifer dengan senyuman.


“Terimakasih sudah membantu. Maaf kakak sudah merepotkan kamu.” Ujar Sinta kemudian.


“Tidak usah sungkan kak.. Kalau kakak butuh bantuan aku siap membantu.” Senyum Jennifer tersenyum pula.


“Ah ya kak.. Aku nggak bisa ikut ke dalam mobil kalian ya, karena Nando bilang juga ingin ikut mengantar kalian. Mungkin sebentar lagi dia sampai.”


“Oke.. Aku benar benar senang mendengarnya.” Balas Sinta tersenyum lebar.


Sementara Leo, diam diam pria itu mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan perasaannya. Sebentar lagi dirinya akan tinggal terpisah dengan Jennifer yang artinya Leo tidak akan lagi tau kapan saja Jennifer bersama Nando.

__ADS_1


__ADS_2