Forbidden Love

Forbidden Love
34. Melangkah


__ADS_3

2 tahun berjalan begitu cepat, setelah melalui berbagai masalah benang kusut itu kini ter rajut indah.


Dua kepala keluarga merajut ulang benang silaturahmi, dengan segala kerendahan hati untuk saling menggalah dan memaafkan, nampaknya hal itu justru menjadi babak awal prahara hati bagi Ray dan Alexsa.


Bagaimana tidak semakin hari perasaan nya semakin tak terbendung kepada saudara laki-lakinya, begitupun dengan Ray yang kini memutuskan untuk melanjutkan pendidikan kemiliteran swasta sekaligus manajemen bisnis internasional sebagai bekal awal untuk melanjutkan bisnis keluarga bersama dengan Rohman yang ikut serta bersamanya.


Pun dengan Alexsa yang memutuskan kembali ke tanah air untuk melanjutkan pendidikan di salah satu universitas negeri di Bali, dengan harapan mampu melupakan perasaan nya kepada sang kakak.


“Semoga ini menjadi pilihan yang terbaik untukmu nak.” Tutur Raisa kepada Lexsa.


“Emmh entah lah bu, aku berharap juga begitu.” Sahutnya dengan lembut dan tertunduk sembari menyeret koper berukuran besar ditangan nya.


Siang itu kedatangan nya kembali ketanah air di dampingi oleh sang ibu yang telah rujuk kembali bersama ayah kandung nya, ya dia adalah Frans lelaki begundal yang di gadang-gadang sebagai produk daur ulang oleh kakek Alexsa sendiri.


Pantas saja gadis itu memiliki wajah yang sangat menawan dengan rambut dan alis tebal berwarna coklat tua mencolok khas silangan lokal dan mancanegara.


“Ibu akan kembali ke Jakarta? Atau kembali ke Spanyol?” tanya gadis cantik berambut coklat itu pada Raisa.


“Mungkin ibu akan kembali bersama dengan Daddy mu tetapi sebelum itu ibu akan ke makam kakek terlebih dahulu.” Terang sang ibu.


Bak terbangun dari mimpi buruk banyak sekali hal yang terjadi dalam 2 tahun belakangan ini, kematian kakek Alexsa yang kemudian disusul dengan kepergian Ani untuk selama-lama nya, menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga mereka.


“Jaga dirimu dengan baik, jangan nakal, aku selalu memantaumu dari sini.” Sebuah notifikasi masuk di ponsel gadis belia itu.

__ADS_1


“Iya aku tau, cerewet sekali.” Balasnya melalui sebuah pesan tertulis.


“Ingat Alexsa jangan biarkan perasaan mu kepada Ray berlarut-larut, ibu harap ini hanya bagian dari sepenggal cinta remaja.” Pecah Raisa membuyarkan keasikan anaknya bermain ponsel, dan gadis itu hanya berhenti sejenak dari aktivitasnya sebagai penanda bahwa dia mendengarkan nasehat ibunya.


“Kau yakin ingin mengambil kedoteran? Bukanya terakhir kamu berkata ingin mengambil pariwisata?” lanjut Raisa mencoba mengalihkan fokus anaknya.


“Emh, aku yakin bu.” Sahutnya singkat.


“Ingat kau harus bersungguh-sungguh, belajar bukan untuk ajang bermain belaka, jurusan itu akan menyita waktu dan fikiran mu.” Papar Raisa.


“Semoga dengan aku menyibukkan diri seperti itu, membuatku melupakan kakak.” Terangnya sendu.


“Jangan jadikan itu sebagai pelampiasan dan pelarian mu saja, jalan mu masih panjang, kelak kau akan menjumpai banyak sekali lelaki di masa depan, jangan terlalu menaruh hatimu pada mereka, ibu tak ingin kebodohan ibu dimasa lalu kembali terulang dengan mu.” Ucap Raisa dengan lembut.


Sebuah mobil land rover membelah jalan di sepanjang Bypass Ngurah Rai siang itu.


“Ibu, bisakah nanti aku tidak naik mobil ini saat pergi kekampus, ini terlalu mencolok untuk ku.” Pinta Alexsa pada ibunya.


“Lalu kau ingin mobil apa?”


“Terserah yang penting tidak mencolok dan jangan terlalu besar.” Pinta Lexsa.


“Dengan catatan harus selalu dengan sopir, demi keamanan mu.”

__ADS_1


“hmmm baiklah...” jawab Lexsa.


Sebuah rumah berkonsep vila tepat di belakang GWK menjadi pilihan mereka untuk tinggal.


Ya rumah itu adalah tempat dimana Ray dan Lexsa dulu menghabiskan waktu bersama.


“Kita akan tinggal disini sampai rumah kita selesai di renovasi.” Ucap Raisa pada anaknya.


“Baik bu.” Balasnya sembari berjalan menuju kamar untuk beristirahat setelah penerbangan yang cukup lama dari Spanyol.


“Lusa proses perkuliahan mu akan di mulai, apa kau ada rencana untuk pergi ber Spa sore ini?” triak Raisa pada anaknya yang mulai berjalan menaiki anak tangga.


“Tidak bu, ibu saja aku ingin tidur. Nanti ku kabari jika aku berubah fikiran.” Ucap Lexsa sedikit berteriak.


Langit mulai menguning siluit senja mulai meraba, diranjang yang berukuran besar itu dua insan saling mendamba, beradu dengan senja yang membara.


Frans yang sedari tadi memilih untuk diam dan mendengarkan perkataan istri dan anaknya kini mengambil alih atas istrinya.


“Kau selalu sama, sempit dan membara.....” ucap lelaki itu terengah sembari memompa pinggangnya.


“Emmhh... kau juga sama, tetap perkasa meski tua.” Sahut Raisa meremang.


“Ya... aku memang tua, tetapi aku tidak renta...” ucapnya tertahan sembari menepuk bongkahan indah milik Istrinya, hingga menyisakan 4 jari sebagai tanda kepemilikan dari suaminya.

__ADS_1


Sepasang dara tua itu akhirnya menikah ulang di salah satu gereja di Spanyol 1 tahun lalu, dengan segala kelapangan hati menerima segala kekurangan masing-masing.


__ADS_2