Forbidden Love

Forbidden Love
Memulai kesepakatan


__ADS_3

Tidak mau terus tersiksa karena menanggung beban sendiri di hatinya, Jennifer kembali berusaha untuk mengikis perasaannya pada Leo. Kali ini dengan bantuan Nando yang akan berusaha untuk mengetuk pintu hatinya berdasarkan dengan kesepakatan bersama.


Jennifer menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di depannya. Setelah sepakat untuk memulai semuanya dari awal dengan Nando, Jennifer pun membulatkan tekadnya hari ini. Pagi ini Jennifer akan memulai semuanya.


“Oke, tidak perlu menghindar lagi dari kakak. Aku harus menghadapi kenyataan ini dengan kepala tegak. Aku yakin aku bisa.” Senyum Jennifer menatap pantulan wajah cantiknya sendiri di cermin yang ada di depannya.


Jennifer menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Setelah merasa yakin dengan apa yang akan di mulainya dengan Nando hari ini, Jennifer meraih tas selempangnya. Ketika tangannya hendak meraih kunci mobilnya, Jennifer mengeryit kemudian tersenyum.


“Besok pagi aku jemput kamu ya..” Suara Nando tiba tiba terngiang kembali di telinganya. Semalam memang Nando meneleponnya dan mengatakan akan menjemputnya pagi ini.


Jennifer mengurungkan niatnya mengambil kunci mobil miliknya. Gadis itu tersenyum lagi kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu dari depan cermin tersebut.


Sementara itu, Leo sedang menikmati semilir angin sejuk di pagi hari saat mendengar suara klakson mobil Nando. Pria itu menoleh kearah gerbang dan mengeryit ketika melihat mobil newah milik Nando mulai memasuki pekarangan luas kediaman kedua orang tuanya.


“Tumben pagi pagi sudah kesini.” Gumam Leo. Pria itu menghela napas. Nando memang terlihat baik dan selalu bersikap manis di depannya pada Jennifer. Tapi entah kenapa tiba tiba Leo merasa ragu dengan hubungan Nando dan adiknya. Apa lagi Leo juga pernah bertanya pada Nando dulu tentang hubungannya dengan Jennifer namun Nando malah mengelak.


“Tapi Jennifer nggak mungkin bohong. Dan juga Jennifer terlihat sangat lengket dengan Nando.” Leo kembali bergumam, kali ini dengan helaan napas pelan.


Pria itu bukan tidak percaya pada adiknya sendiri, hanya saja Leo takut Jennifer tidak benar benar bahagia bersama Nando. Leo takut Jennifer hanya terpaksa bersama dengan Nando.


“Aku harus tanya sama Jennifer sekarang juga.”


Tidak ingin sesuatu yang tidak di inginkan di alami oleh adiknya, Leo pun bergegas berlalu dari balkon kamarnya. Pria itu bahkan melewati Sinta yang sedang membereskan tempat tidur mereka berdua begitu saja.


Hal itu membuat Sinta mengeryit bingung namun kemudian mengedikkan kedua bahunya tidak mau ambil pusing.

__ADS_1


Saat Leo keluar dari kamarnya, saat itu pula Jenniifer baru keluar dari kamarnya. Melihat itu Leo langsung memanggil Jennifer membuat Jennifer menoleh dan mengurungkan niat untuk melangkah menuju tangga.


Jennifer terdiam saat Leo melangkah menghampirinya. Gadis itu menarik napas pelan pelan dan menghembuskannya perlahan.


“Oke, aku pasti bisa.” Batin Jennifer meyakinkan dirinya sendiri.


“Kamu udah mau berangkat?” Tanya Leo ketika sampai tepat di depan Jennifer.


“Ya kak.. Aku ada kelas pagi hari ini. Aku juga ada janji dengan Nando mau pergi berdua.” Jawab Jennifer dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Leo mengangguk paham.


“Maksudnya kalian mau kencan begitu?” Tanyanya lagi.


Jennifer tersenyum. Ini adalah kali pertama dirinya dan Nando sepakat untuk pergi berdua selama mereka berhubungan.


Leo mengeryit. Jennifer tampak sangat berbeda dari biasanya. Adiknya tampak sangat sumringah pagi ini.


“Begitu ya.. Ya sudah kalau begitu kamu hati hati ya dek.. kalau ada apa apa kamu jangan sungkan untuk cerita sama kakak.. kakak akam selalu ada buat kamu.” Leo menepuk nepuk pelan bahu Jennifer membuat Jennifer tersenyum simpul.


“Kakak nggak perlu khawatir. Aku bisa jaga diri aku kok. Kan ada Nando juga yang akan selalu jagain aku..” Balas Jennifer.


Leo hanya mengangguk pelan. Entah kenapa mendengar Jennifer yang begitu percaya Nando bisa menjaganya membuat Leo merasa ada sesuatu yang beda pada hatinya. Leo merasa tidak rela jika posisinya sebagai pelindung pertama untuk Jennifer di gantikan oleh Nando.


“Ya sudah aku berangkat ya kak..” Jennifer tersenyum dan menyodorkan tangannya pada Leo bermaksud menyalimi kakaknya itu yang kemudian langsung di sambut oleh Leo dengan cepat.

__ADS_1


“Ya.. hati hati.” Lirih Leo.


Jennifer hanya mengangguk saja kemudian melangkah menuju tangga menuruninya satu persatu menuju lantai satu rumahnya untuk menunggu Nando yang memang sudah mengatakan akan menjemputnya pagi ini lewat sambungan telepon.


Leo menghela napas pelan. Pria itu terus menatap punggung Jennifer yang semakin menjauh darinya. Pria itu tiba tiba merasa kehilangan sosok ceria dan manja Jennifer. Leo bahkan mendadak merasa merindukan masa masa kebersamaannya dengan Jennifer dulu. Masa dimana Jennifer selalu bergantung padanya. Masa dimana Jennifer sangat manja dan selalu marah jika Leo sehari saja tidak memberi kabar padanya.


“Kenapa sayang?”


Lamunan Leo buyar saat mendengar suara lembut Sinta. Pria itu menoleh dan tersenyum pada Sinta yang sedang melangkah menghampirinya. Wanita itu sudah tampak rapi dengan dress pendek sepaha warna pink yang begitu pas melekat di tubuh rampingnya. Rambutnya yang panjang dan ikal di biarkan tergerai membuatnya semakin terlihat menawan dimata Leo.


“Enggak, nggak papa kok sayang. Hanya saja tiba tiba aku merasa merindukan kemanjaan Jennifer padaku dulu.” Senyum Leo menjawab.


Sinta terkekeh geli. Sinta juga tau bagaimana Jennifer yang begitu manja pada Leo. Tentu saja karena Leo sendiri yang menceritakan. Sinta juga sering mendengar secara langsung bagaimana manjanya Jennifer pada Leo saat mereka sedang berkomunikasi lewat sambungan telepon dulu saat dirinya dan Leo masih sama sama kuliah di luar negeri.


“Sekarang kan Jennifer sudah besar sayang. Dia sudah dewasa. Kalau sekarang dia sudah nggak manja lagi sama kamu mungkin karena Jennifer merasa sudah memiliki orang sepesial di hatinya. Apa lagi kita juga tau bagaimana Nando yang begitu mengistimewakan Jennifer. Yang penting kita doakan saja semoga kebahagiaan selalu melingkupi Jennifer.” Ujar Sinta dengan lembut dan penuh perhatian.


Leo menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang di katakan oleh istrinya.


“Ya sudah lebih baik sekarang kita turun. Mamah sama papah pasti udah nungguin kita di meja makan untuk sarapan.” Senyum Sinta melingkarkan kedua tangannya di lengan kekar Leo.


“Oke..” Saut Leo setuju.


Mereka berdua kemudian melangkah beriringan menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu dimana meja makan berada. Mereka berdua tidak ingin membuat kedua orang tuanya menunggu terlalu lama mengingat Leo dan tuan Ardiansyah juga harus berangkat ke perusahaan pagi ini.


Begitu sampai di meja makan, Leo mengeryit karena tidak mendapati Jennifer disana.

__ADS_1


“Mah, pah, Jennifer mana?” Tanya Leo pada kedua orang tuanya.


“Jennifer sudah berangkat tadi sama Nando nak. Kayanya mereka buru buru banget. Tapi Jennifer sudah mamah bawain bekal kok tadi.” Jawab nyonya Ardiansyah yang membuat Leo diam.


__ADS_2