
Jennifer mengeryit saat tiba tiba Nando menepikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi dari kendaraan yang berlalu lalang saat itu. Gadis itu menelan sisa sandwich yang sedang di kunyahnya merasa sedikit curiga mengingat bagaimana Nando yang suka menciumnya tanpa permisi dan tanpa persetujuannya.
“Kok berhenti?” Tanya Jennifer yang membuat Nando menoleh kemudian tersenyum padanya.
Nando menghela napas. Pria itu melepaskan stir mobilnya dan menyodorkan tangannya pada Jennifer. Hal tersebut membuat Jennifer mengeryit dan bertanya tanya tidak mengerti dengan apa yang sedang di lakukan oleh tunangannya itu.
“Kenapa?” Tanya Jennifer lagi.
Nando tertawa geli. Pria itu meraih tangan Jennifer dan di tautkan pada tangannya sehingga sekarang tangan mereka saling berjabat. Kali ini tidak dengan pemaksaan.
“Karena kita memulai semuanya dari awal lagi, itu artinya kita juga harus mengabaikan apa yang telah lalu. Bukan begitu Jennifer?”
Jennifer hanya diam saja. Dia benar benar belum mengerti kemana arah pembicaraan Nando sekarang.
“Oleh sebab itu, ada baiknya kalau kita kenalan lagi. Anggap kita baru saling mengenal.” Lanjut Nando dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Hay Jennifer Bunga Ardiansyah, namaku Nando Putra Arseno.”
Jennifer mengerjapkan beberapa kali kedua matanya. Nando kembali memperkenalkan dirinya lagi padanya.
“Ayo dong kamu juga ngomong. Kenalin diri kamu sama aku.” Perintah Nando yang membuat Jennifer tergagap.
“Ah ya ya.. Aku Jennifer. Senang berkenalan dengan kamu Nando.” Balas Jennifer mengikuti cara Nando untuk kembali mengulang perkenalan mereka.
Nando tertawa pelan. Menggelikan memang. Namun menurut Nando itu sangat perlu mereka lakukan karena mereka berdua memang akan memulai kesepakatan untuk bersama. Kesepakatan kerja sama untuk sama sama menerima satu sama lain dengan waktu yang sudah mereka berdua tentukan sebelumnya.
“Semoga apa yang kita lakukan ini membuahkan hasil yang kita inginkan ya sayang..”
Jennifer mengeryit lagi kemudian berdecak mendengar panggilan sayang dari Nando. Gadis itu kemudian langsung melepaskan jabatan tangannya pada Nando.
__ADS_1
“Apaan sih? Nggak lucu banget tau nggak.” Ketusnya beralih menatap ke depan.
“Loh kenapa? Kan kita ini sudah tunangan. Ingat kesepakatan kita kemarin Jennifer. Hanya tidak ada paksaan kan? Untuk panggilan sayang dan ciuman sebagai pasangan yang sudah bertunangan itu wajar wajar saja.”
Mulut Jennifer terbuka tidak menyangka Nando akan berkata seperti itu. Gadis itu pikir Nando tidak akan begitu arogan dan seenaknya lagi padanya.
“Kok begitu.”
“Sudahlah, intinya sekarang dan sampai dua bulan ke depan itu kamu harus bisa menerima kehadiran aku di samping kamu. Kita harus sering bersama. Aku yakin kok aku bisa membuat kamu melupakan perasaan kamu sama Leo.”
Jennifer menghela napas kasar. Andai saja dirinya bisa sendiri melupakan Leo, Jennifer tidak mungkin mau menyepakati cara yang Nando sarankan kemarin.
“Kita jalan sekarang..” Ujar Nando yang kembali menghidupkan mesin mobilnya kemudian berlalu dari jalanan sepi tersebut.
Sementara Jennifer, dia akan mengikuti saja cara Nando. Jennifer tidak masalah jika akhirnya dirinya benar benar jatuh cinta pada Nando. Karena hanya dengan mencintai orang lain dirinya bisa menghilangkan rasa cintanya pada Leo, kakaknya sendiri.
Hampir satu jam perjalanan mereka baru sampai di parkiran kampus. Ya, Nando memang sengaja mengulur waktu agar bisa banyak mengobrol dan bercanda dengan Jennifer yang sepertinya sama sekali tidak keberatan meski mereka sangat lama dalam perjalanan menuju kampus.
“Nanti selesai kelas, aku kesana ya..” Senyum Nando saat Jennifer sedang melepas seatbelt yang melilit di pinggang dan bahunya.
Jennifer menoleh kemudian tersenyum lebar.
“Oke...” Setujunya.
Nando menghela napas pelan. Senang sekali melihat Jennifer yang bisa tersenyum lebar padanya. Apa lagi Jennifer juga begitu enjoy saat mengobrol dan bercanda dengannya. Tidak hanya itu saja, Jennifer juga beberapa kali menyuapkan sandwich yang di bawanya pada Nando sambil mengobrol tadi. Itu membuat Nando yakin bahwa caranya akan berhasil. Jennifer pasti akan bisa melupakan perasaannya pada Leo dan mengizinkannya masuk secara perlahan ke dalam hatinya.
“Aku turun duluan ya...”
Nando hanya mengangguk saja. Pria itu tersenyum menatap Jennifer yang mulai melangkah menjauh dari mobilnya dengan langkah mantap. Kentara sekali bahwa Jennifer juga merasakan nyaman seperti dirinya pagi ini.
__ADS_1
Nando kemudian menggelengkan kepalanya. Pria itu kembali melajukan mobilnya berlalu dari parkiran karena pagi ini dirinya harus menghadiri rapat penting.
----------
Begitu sampai di kelas, Jennifer langsung menghampiri Mutia yang sedang asik bervideo call dengan Lala. Ya, sahabatnya yang satu itu masih diluar negeri karena sedang liburan sekaligus bulan madu dengan Azka.
“Hey..” Sapa Jennifer pada Lala dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Hay Jen.. Aku telepon kamu tapi nggak pernah bisa. Handphone kamu nggak aktif terus.”
Jennifer tersenyum geli melihat ekspresi Lala yang sangat menggemaskan menurutnya. Apa lagi Lala juga terlihat semakin chuby sekarang.
“Maaf maaf.. Aku benar benar sedang malas memegang handphone. Ah ya, bagaimana kabar kamu dan Azka disana? Terus bagaimana bulan madunya? Asik banget pasti jalan jalan berdua sama suami.”
“Iya.. Ternyata Azka itu so sweet banget tau nggak. Kalian berdua pasti nggak akan percaya seorang Azka yang selalu terlihat pendiam dan kurang pergaulan itu begitu sangat lembut dan memanjakan aku disini.” Cerita Lala yang membuat Mutia dan Jennifer mengeryit saling menatap.
“Azka? so sweet? masa sih?” Tanya Mutia yang memang benar tidak percaya. Pasalnya hampir seluruh kampus tau bagaimana Azka yang sangat pendiam dan tidak suka bergaul. Azka bahkan tidak memiliki satupun teman dekat.
“Iya beneran aku nggak bohong. Dia tuh perhatian banget sama aku.”
Jennifer kemudian mengangguk anggukan kepalanya setuju. Gadis itu percaya saja apa yang Lala katakan karena memang tidak semua orang sama seperti apa yang orang lain pikirkan tentangnya.
“Iya deh percaya.. Semoga kamu bahagia ya La sama Azka.. Semoga kalian juga langgeng dan bisa saling mencintai dan menerima satu sama lain.” Kata Jennifer bijak.
Mutia hanya mengangguk pelan menyetujui apa yang Jennifer katakan. Setelah itu telepon di tutup karena memang dosen yang akan mengajar juga sudah mulai memasuki kelas mereka.
“Tumben banget kamu bisa bijak Jen.” Senyum geli Mutia.
Jennifer hanya tertawa saja. Entah kenapa Jennifer sendiri tidak tau. Rasanya hari ini sangat berbeda dari hari hari biasanya. Yang biasanya Jennifer merasakan beban berat di hatinya kini terasa biasa saja. Begitu plong dan enteng. Dan itu sangat berpengaruh pada pola pikir dan suasana hatinya.
__ADS_1