
Sorenya Nando bertemu dengan Client yang menolak pertemuannya di undur. Mereka berdua membahas tentang kerja sama yang baru mereka berdua rencanakan. Namun dalam pembahasan serius itu Nando beberapa kali menghela napas dan berusaha menjernihkan pikirannya mengabaikan bayangan wajah cantik Jennifer yang terus saja tersenyum padanya. Bahkan beberapa kali Nando menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri karena merasa seperti mendengar suara Jennifer. Namun sepertinya itu hanya pendengarannya saja yang sedang salah karena pada kenyataannya di sekitar restoran tempat janji temunya dengan Client tersebut sama sekali tidak ada Jennifer.
“Maaf sebelumnya tuan Arseno, apa anda baik baik saja? Saya merasa anda kurang fokus dengan pembahasan rencana kerja sama kita.”
Bibir Nando terbuka sesaat mendengar apa yang di sampaikan oleh Client nya. Pria itu memang sedang sangat tidak fokus sekarang. Tentu saja karena dalam pikirannya hanya ada pertanyaan tentang sedang apa dan dimana sekarang Jennifer sekarang. Apa lagi beberapa kali Nando mengecek ponselnya Jennifer juga sama sekali tidak mengirim pesan padanya.
“Ah ya.. Maaf kalau begitu. Saya memang sedikit kurang fokus tadi. Bisa kita ulang sekali lagi pembahasan kerja samanya? kali ini saya akan fokus.” Senyum tipis Nando kemudian.
Pria paruh baya itu menganggukkan kepala dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Sebagai seorang yang juga pernah mengalami masa muda juga masa lajang dia tau apa yang sedang di rasakan oleh Nando sekarang.
“Tentu saja..”
Dan sekali lagi mereka membahas tentang kerja sama tersebut. Nando berusaha untuk fokus dan mengesampingkan berbagai pertanyaan tentang Jennifer yang bersarang di benaknya. Nando yakin Jennifer akan baik baik saja bersama Mutia dan Lala.
Sampai menjelang sore Nando tidak juga kunjung mendapat pesan dari Jennifer. Hal itu membuat Nando semakin uring uringan. Nando bahkan sampai memarahi bawahannya yang tidak sengaja membuat kesalahan. Padahal biasanya Nando sangat pengertian jika memang kesalahan yang dilakukan oleh bawahannya tidak sampai fatal.
Daniel yang melihat sikap tidak biasa Nando hanya bisa menggelengkan kepalanya. Daniel tau apa penyebab Nando seperti itu.
“Kamu membuatnya takut Nando.”
Nando melirik Daniel sekilas. Pria itu benar benar sedang tidak bisa mengontrol emosinya sekarang.
“Dia melakukan kesalahan. Aku merasa itu pantas untuk dia dapat.” Ujar Nando dengan kedua mata fokus membaca berkas yang membutuhkan tanda tangan darinya.
Daniel menghela napas. Nando memang sedang tidak baik baik saja perasaannya.
__ADS_1
“Ayolah... Jangan menyangkut pautkan urusan pekerjaan dengan perasaan Nando. Ela hanya melakukan sedikit kesalahan kepenulisan di laporannya. Aku rasa teguran kamu keterlaluan tadi.”
Nando terdiam sesaat. Kedua matanya yang tadi fokus dengan laptopnya kini menerawang mengingat kembali apa yang dia ucapkan pada bawahannya.
“Kamu tidak jadi pergi dengan Jennifer baru kali ini. Baru pertama kali. Kalau memang kamu siap menjalin hubungan serius, kamu juga harus siap mengerti segala hal. Tidak setiap hari kalian harus bersama kan? Kalian berdua punya urusan masing masing. Kamu dengan pekerjaan dan Jennifer dengan aktivitasnya sebagai seorang mahasiswi.”
Nando memejamkan kedua mata mendengar apa yang Daniel katakan. Pria itu kini sadar apa yang dilakukannya dengan menegur keras bawahannya adalah salah.
“Maaf Nando, bukan aku menggurui kamu. Tapi aku pikir sangat tidak pantas kalau kamu marah seperti tadi hanya karena kesalahan secuil yang di lakukan karyawan.” Lanjut Daniel yang tidak ingin Nando salah mengartikan maksudnya.
“Yah.. Aku akui aku memang salah. Tapi aku benar benar tidak bisa mengontrol emosiku saat ini.” Lirih Nando sambil mengusap wajah tampannya dengan frustasi. Nando benar benar menyesal dengan apa yang tadi dia lakukan dengan memarahi bawahannya hanya karena masalah sepele.
Daniel tersenyum tipis. Itulah yang membuatnya betah berteman dan bekerja sebagai tangan kanan Nando.
“Lain kali pikirkan dulu sebelum berbicara. Ingat, kata orang bijak mulut itu lebih tajam dari pedang.”
“Oke.. Lebih baik sekarang kamu pulang saja. Untuk masalah pekerjaan biar aku yang handle. Sepertinya kamu butuh istirahat.”
Nando menatap Daniel yang memberi saran padanya. Sesaat Nando terdiam sebelum akhirnya menganggukkan kepala setuju dengan apa yang Daniel katakan.
“Ya.. Sepertinya memang lebih baik begitu. Kalau begitu aku pulang dulu.”
Daniel menganggukkan kepalanya. Daniel berharap kedepannya Nando bisa lebih bijak menghadapi setiap permasalahan terutama saat mengontrol emosinya sendiri.
Nando bangkit dari duduknya kemudian berlalu dari hadapan Daniel. Pria itu melangkah menjauh dari Daniel yang hanya bisa tersenyum maklum dengan perubahan moodnya hari ini. Ya, Jennifer memang mulai berpengaruh besar di kehidupan Nando.
__ADS_1
Sampai malam tiba Jennifer tidak kunjung memberi kabar pada Nando. Gadis itu benar benar lupa waktu karena keasyikan mengobrol dengan Mutia dan Lala. Jennifer juga tidak ingat dirinya akan menghubungi Nando. Apa lagi Jennifer juga sudah mengatakan akan mengajak Nando makan malam bersama dirumahnya.
Hal itu membuat Nando terus menunggu. Bahkan Nando juga terus menatap ponsel yang ada di depannya berharap benda pipih berharga mahal miliknya itu berdering dan nama kontak Jennifer tertera disana.
Nando berdecak pelan dan menghela napas kasar. Pria itu mulai bertanya tanya lagi sedang apa dan dimana Jennifer sekarang. Bahkan bayangan Jennifer sedang tertawa bersama para pria hampir saja mempengaruhi pemikirannya.
“Ya Tuhan.. Enggak enggak. Aku nggak boleh berpikiran buruk pada Jennifer. Jennifer itu perempuan baik baik. Aku yakin dia juga adalah perempuan yang bisa menjaga kepercayaan.” Gumam Nando lirih.
Suara ketukan pintu membuat Nando menoleh kearah pintu kamarnya. Pria itu bangkit dari duduknya di sofa yang ada di seberang ranjang kemudian melangkah pelan menuju pintu untuk membukanya.
“Mommy..” Senyum Nando saat mendapati mommy nya yang ada di depan pintu kamarnya.
“Ada apa mom?” Tanya Nando kemudian.
Nyonya besar Arseno mengeryit. Wanita itu menatap heran pada putranya yang terlihat tidak seperti biasanya.
“Ada apa? Hey boy, ini sudah waktunya makan malam. Kenapa kamu tidak juga turun ke bawah. Mommy sama daddy sudah sejak tadi menunggu kamu di meja makan.”
Nando mendesis pelan. Yang dirinya inginkan sekarang adalah telepon atau pesan dari Jennifer. Bukan yang lain. Nando juga tidak perduli dirinya sudah makan atau belum.
“Aku belum laper mom.” Katanya pelan.
“Mommy nggak nanya kamu lapar atau enggak Nando. Mommy menyuruh kamu turun dan makan sekarang.” Ujar nyonya besar Arseno lembut namun tegas.
“Tapi kan mom..”
__ADS_1
“Kamu butuh makan bukan hanya karena lapar. Makan itu kebutuhan tubuh kamu Nando.” Sela nyonya besar Arseno tidak ingin mendengar alasan apapun dari mulut Nando.
Nando hanya bisa berdecak dan mengangguk pasrah. Tidak ingin mommy nya marah, Nando pun dengan sangat terpaksa mengikuti apa yang mommy nya katakan.