
Dengan langkah gontai Jennifer melangkah di koridor kampus. Melihat tanda merah di leher kakaknya tadi pagi membuatnya benar benar merasa sangat terpuruk. Tanda merah itu pasti di ciptakan oleh Sinta. Ingin sekali Jennifer marah, tapi Jennifer juga tidak mungkin melakukannya mengingat dirinya adalah adik kandung Leo meski dirinya juga sangat mencintai pria itu.
“Ya Tuhan.. Aku tau aku sudah sangat berdosa karena mencintai kakakku sendiri. Tapi Tuhan.. Tolong bantu aku.. Bantu aku untuk menghindari semua dosa ini.” Batin Jennifer pilu.
Jennifer benar benar ingin bisa melupakan Leo. Tapi baginya itu bukanlah hal yang mudah karena sampai sekarang Leo masih menjadi pemilik di hatinya.
Jennifer menghela napas pelan. Andai dirinya bisa menghapus rasa itu dengan instan, dirinya pasti tidak akan tersiksa seperti sekarang.
“Hey..”
Langkah Jennifer terhenti saat tiba tiba ada seseorang yang meraih dan menggenggam tangannya. Jennifer berdecak mendapati siapa orang yang menggenggam tangannya sekarang. Siapa lagi kalau bukan Nando.
“Dia lagi..” Gumam Jennifer kesal.
Jennifer berusaha melepaskan genggaman tangan Nando, namun Nando justru semakin mengeratkan genggaman tangannya membuat Jennifer tidak mampu melepasnya.
“Kamu mau apa lagi sih Nando? Kamu mau buat aku malu lagi di depan semua orang yang disini?” Tanya Jennifer kesal juga marah.
“Iisshh.. Jangan berburuk sangka sama tunangan sendiri begitu dong sayang..”
Jennifer bergidik mendengar Nando memanggilnya dengan sebutan sayang. Muak sekali rasanya.
“Aku dari tadi nyariin kamu tau. Kata Mutia kamu belum berangkat tadi pagi. Bahkan kamu ketinggalan kelas. Pasti kamu bangun telat ya gara gara mimpiin aku?” Nando berusaha menggoda Jennifer. Pria itu menatap Jennifer dengan menaik turunkan alisnya.
“Iiihh.. Amit amit aku mimpiin laki laki nggak normal kaya kamu.” Sinis Jennifer membuat Nando tertawa.
“Ikut aku yuk.”
Nando menarik tangan Jennifer begitu saja tanpa mau mendengarkan penolakan dari Jennifer. Pria itu membawa Jennifer ke taman belakang kampus tepatnya di bawah pohon dimana disana tidak ada siapapun kecuali dirinya dan Jennifer.
“Nando kamu apa apaan sih? Suka banget maksa.” Marah Jennifer menghempaskan tangannya membuat genggaman tangan Nando terlepas.
“Dasar nggak jelas. Gila !!” Umpat Jennifer yang kemudian berniat berlalu namun lengannya kembali di tahan oleh Nando yang kemudian mendorong kasar tubuh Jennifer hingga punggung gadis itu terbentur keras ke batang pohon besar yang ada di belakangnya.
__ADS_1
“Awh..” Ringis Jennifer karena benturan tersebut.
Sebelum Jennifer kembali berniat meninggalkannya, Nando lebih dulu mengunci tubuh Jennifer membuat gadis itu tidak leluasa bergerak.
“Dengar Jennifer, suka atau tidak suka sekarang kamu adalah tunangan aku. Jadi mau tidak mau kamu akan tetap menjadi milikku.” Ujar Nando pelan tepat di depan wajah Jennifer. Pria itu bahkan harus sedikit menunduk untuk menatap lekat kedua bola mata Jennifer.
“Kamu pikir aku sudi? Asal kamu tau Nando, sampai kapanpun juga aku nggak akan mungkin jatuh cinta pada laki laki gila yang suka mengancam dan memaksa seperti kamu.” Jennifer sangat marah mendengar apa yang Nando katakan. Jennifer tidak bisa menerima apa yang Nando katakan karena memang pria itu selalu saja memaksanya.
Nando menyipitkan kedua matanya tidak suka dengan Jennifer yang selalu saja menolaknya. Padahal Nando merasa dirinya sudah sempurna untuk menjadi pasangan Jennifer.
“Kenapa?” Tanya Nando menatap Jennifer serius.
Jennifer tersenyum sinis.
“Jangan pura pura bodoh Nando. Kita ini bersama hanya demi keuntungan bersama. Bahkan bisa di bilang kamu memanfaatkan aku untuk kepentingan kamu sendiri. Bagaimana mungkin aku menjadi milik kamu kalau kita saja sama sama tidak saling suka.”
“Itu gampang. Kita hanya harus mengusahakannya. Kita bisa memulainya dengan terus bersama. Karena orang bijak mengatakan cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu karena terbiasa bersama.” Kata Nando dengan entengnya.
“Teriak saja. Teriak sekencang kencangnya supaya semua orang melihat kita yang sedang berdua sekarang Jennifer.” Tantang Nando membuat rahang Jennifer mengeras.
“Kamu gila !!” Jennifer semakin marah karena Nando yang malah menantangnya.
Nando tersenyum sinis. Pria itu kemudian mendekatkan wajahnya membuat Jennifer langsung melengos. Jennifer tidak ingin Nando kembali seenaknya menciumnya.
“Jennifer dengar baik baik. Kamu hanya harus berusaha untuk membuka hati untukku. Kita mulai dengan sama sama berusaha untuk saling melengkapi. Aku yakin kita pasti bisa bersama. Bagaimana?”
Jennifer hanya diam saja. Semuanya tidak semudah seperti yang Nando katakan.
“2 Bulan Jennifer. Beri aku waktu 2 bulan untuk membuat kamu benar benar bisa melupakan Leo. Kalau dalam waktu 2 bulan itu kamu tidak bisa melupakan Leo sedikitpun, aku janji aku nggak akan lagi mengganggu kamu. Ikatan pertunangan kita juga akan selesai. Hubungan sandiwara kita berakhir. Bagaimana?”
Jennifer tampak berpikir mendengarnya. Jennifer sudah berusaha sendiri untuk melupakan Nando. Namun sedikitpun Jennifer tidak berhasil. Jennifer justru merasa perasaannya pada Leo semakin kuat.
“Tapi itu terserah kamu saja. Aku tidak akan memaksa.” Lanjut Nando yang kemudian melepaskan tubuh Jennifer dengan pelan. Nando juga memundurkan langkahnya memberi ruang bebas pada Jennifer yang sejak tadi dia sandera dalam pelukannya.
__ADS_1
Jennifer menelan ludah. Gadis itu sedang berpikir jika melupakan Leo dengan usahanya sendiri tidak bisa, mungkin dirinya memang butuh partner untuk melakukannya. Dan satu satunya orang yang menawarkan diri untuk menjadi partnernya adalah Nando.
“Apa kamu serius?” Tanya Jennifer yang masih enggan menatap Nando.
Nando tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Caranya dengan menahan diri tidak memaksa Jennifer ternyata berhasil.
“Ya...” Jawabnya pelan dan singkat.
Jennifer menghela napas. Tidak ada salahnya dirinya mencoba, pikirnya sekarang.
“Asal kamu tidak terus menekan dan memaksaku aku tidak keberatan.” Katanya menatap Nando dengan tenang.
Nando tersenyum simpul membuat Jennifer menyadari sesuatu. Nando lebih tampan dari kakaknya saat sedang tersenyum.
“Jadi kita sepakat?” Tanya Nando sambil menyodorkan tangannya pada Jennifer.
Jennifer menatap tangan besar Nando yang mengudara menunggu jabatan darinya. Gadis itu berusaha meyakinkan dirinya bahwa langkah yang dia ambil dengan bekerja sama dengan Nando serius kali ini bukan langkah yang salah.
Jennifer menghela napas kasar kemudian mengangguk dan menjabat mantap tangan besar Nando.
“Oke, sepakat.” Jawabnya mantap.
Nando tersenyum lebar. Dengan gerakan cepat pria itu mendekatkan wajahnya dan mencium sekilas bibir berlipstik Jennifer.
Hal itu membuat kedua mata Jennifer membulat dengan sempurna.
“Kamu..”
“Aku tidak memaksa kali ini Jennifer. Ciuman bukan larangan dalam kesepakatan kita.” Sela Nando dengan santainya.
Jennifer berdecak. Karena kesal, gadis itu langsung melepaskan jabatan tangannya kemudian menginjak keras kaki Nando dan berlalu begitu saja dari bawah pohon besar itu meninggalkan Nando yang mengaduh kesakitan karena injakan kerasnya.
“Dasar otak mesum.” Dumel Jennifer.
__ADS_1