Forbidden Love

Forbidden Love
Hadiah pernikahan untuk Leo


__ADS_3

“Nak..”


Jennifer sedang fokus dengan majalah di pangkuannya saat tuan Ardiansyah memanggilnya dengan sangat lembut. Saat ini mereka termasuk nyonya Ardiansyah sedang berada di ruang keluarga. Mereka sedang menonton TV bersama meskipun memang fokus Jennifer tidak pada layar TV yang ada di depan mereka.


“Ya pah..” Jennifer mengangkat kepalanya dan menatap pada sang papah dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Boleh papah minta tolong?” Tanya tuan Ardiansyah yang memang selalu membiasakan berbicara sopan meski pada anak anaknya.


Jennifer mengangkat sebelah alisnya kemudian menatap sebentar pada mamahnya yang hanya tersenyum menatapnya. Mereka berdua duduk berdampingan di sofa panjang yang ada di depan sofa tunggal yang Jennifer duduki.


“Tentu saja papah. Memangnya apa yang bisa Jennifer bantu?” Jawab Jennifer kemudian bertanya dengan polos perihal pertolongan apa yang harus dia lakukan untuk sang papah.


“Tolong panggilin kakak kamu ya.. Suruh dia turun kesini menemui papah.” Senyum tuan Ardiansyah yang membuat Jennifer terkejut.


Di mintai tolong untuk memanggil Leo memang sering Jennifer dapatkan dari sang papah. Bahkan dulu jika Leo sedang pulang ke rumah Jennifer selalu di suruh untuk memanggil Leo di kamarnya yang berakhir mereka bercanda di kamar Leo. Dan Jennifer dengan manjanya akan meminta gendong saat mereka menuruni anak tangga. Tapi sekarang keadaannya sudah tidak lagi seperti dulu. Leo sudah menikah dan Jennifer tidak bisa lagi bermanja pada Leo. Jennifer juga harus sedikit menjaga jarak agar bisa mengikis pelan pelan perasaannya pada Leo.


Melihat Jennifer yang malah melamun, tuan Ardiansyah mengeryit. Pria itu menoleh dan menatap sesaat pada istrinya yang hanya mengedikkan bahu tidak tau kenapa Jennifer malah melamun di mintai tolong untuk memanggil kakaknya.


“Dek..” Panggil tuan Ardiansyah dengan panggilan sayangnya pada putri bungsunya itu.


Jennifer tersadar dari segala apa yang di pikirkannya. Gadis cantik yang mengenakan piyama motif balon pendek itu kembali mengarahkan pandangannya pada sang papah.


“Ah iya pah.. Sebentar.” Katanya cepat.

__ADS_1


Jennifer kemudian buru buru meletakan majalah yang di pangkunya ke atas meja. Gadis itu bangkit dari duduknya dan berlalu dari hadapan kedua orang tuanya untuk memanggil Leo seperti permintaan tolong sang papah.


Tuan dan nyonya Ardiansyah yang sempat melihat putri kesayangannya tampak melamun memikirkan sesuatu kembali saling menatap.


“Mah, entah kenapa papah merasa sejak Leo mengenalkan Sinta pada Jennifer, dia terlihat berbeda dan terkesan sengaja menjauh dari Leo. Jennifer juga selalu punya alasan untuk menolak apapun tawaran Leo. Bahkan dia meminta di belikan mobil baru ke papah. Padahal dari dulu Jennifer selalu malas untuk mengendarai mobil sendiri.” Ujar tuan Ardiansyah yang merasakan ada perbedaan sikap dari putri bungsunya.


“Mamah pikir hanya mamah yang berpikir seperti itu pah. Ternyata papah juga.” Balas nyonya Ardiansyah yang ternyata sependapat dengan apa yang juga di pikirkan oleh suaminya tentang putri bungsu mereka.


“Mamah rasa Jennifer cemburu dengan Sinta pah. Jennifer merasa perhatian Leo tidak lagi sepenuhnya untuknya. Papah tau sendiri bagaimana dari kecil Leo memanjakan adiknya. Tapi dengan menjauhnya Jennifer dari Leo mamah rasa itu pilihan yang cukup baik dari pada nanti akan menimbulkan kesalah pahaman. Karena sekarang yang harus menjadi fokus Leo adalah Sinta pah, istrinya.”


Tuan Ardiansyah menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang istrinya katakan. Dia juga berpikir akan lebih baik jika Jennifer dan Leo tidak lagi sedekat dulu karena itu akan menimbulkan kesalah pahaman nantinya.


Sementara itu Jennifer sudah sampai tepat di depan pintu kamar Leo dan Sinta. Mereka berdua memang pulang kerumah keluarga Ardiansyah dan memilih menginap lebih dulu sebelum memutuskan untuk mencari rumah yang akan mereka beli nantinya. Tentu karena mereka berdua juga ingin memiliki rumah sendiri agar tidak tinggal dirumah kedua orang tua.


Jennifer menghela napas. Hatinya terus terasa di sayat setiap melihat Leo dan Sinta. Apa lagi jika harus melihat keduanya di dalam kamar bersama. Rasanya pasti akan lebih menyakitkan.


Sekali lagi Jennifer menghela napas. Dan kali ini dengan helaan kasar sebelum akhirnya Jennifer mengangkat tangan kanannya dan mengetuk pelan permukaan pintu bercat coklat gelap kehitaman di depannya.


Dua kali ketukan pintu langsung dibuka dari dalam. Dan yang membuka adalah Sinta, istri Leo.


“Eh Jennifer, ada apa dek?” Senyum Sinta bertanya dengan pelan dan lembut.


Jennifer tergagap. Dia pikir yang akan membuka pintu adalah Leo, tapi ternyata Sinta.

__ADS_1


“Emmm.. itu tadi papah minta tolong sama aku buat manggil kak Leo. Papah sama mamah sedang menonton TV sekarang dan kak Leo di suruh menghadap.” Ujar Jennifer sedikit gelagapan.


“Siapa yang?” Tanya Leo dari dalam kamar.


Sinta yang saat itu sudah membuka mulut hendak menyauti apa yang Jennifer ucapkan langsung menoleh ke dalam kamar lagi. Senyuman lebar langsung menghiasi bibirnya begitu mendapati suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya.


“Ini, Jennifer. Dia bilang kamu di panggil sama papah.” Jawab Sinta dengan sangat lembut.


Sementara Jennifer, Gadis itu merasa kikuk juga panas berada di antara keduanya tanpa ada Nando di sampingnya. Tidak ingin semakin terbakar api cemburu, Jennifer pun memilih untuk berlalu. Sinta dan Leo terlalu terbuka keromantisannya membuat siapa saja yang berada di antara mereka pasti akan merasa malu dan kikuk sendiri.


“Ya udah kalau begitu, aku ke kamar ya kak.” Pamit Jennifer.


Sinta hendak menahan namun Jennifer berlalu begitu saja dan melangkah cepat menuju kamarnya.


“Loh, Jennifer nya mana yang?” Tanya Leo yang muncul dari dalam kamar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk saja yang melilit di pinggangnya.


“Dia udah masuk ke kamarnya sayang. Mungkin dia sudah mengantuk.” Jawab Sinta.


Leo menganggukkan kepalanya. Walaupun sebenarnya Leo merasa aneh karena Leo sendiri tau Jennifer tidak mungkin merasa mengantuk mengingat masih jam berapa saat itu.


“Ya sudah lebih baik sekarang kamu pake baju. Aku udah siapin diatas kasur itu. Papah sama mamah udah nungguin kamu loh di bawah.” Saran Sinta.


“Oke..” Balas Leo menganggukkan kepala setuju dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu. Tidak lama kemudian, Leo keluar dengan penampilan sudah rapi dan menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu rumahnya dimana kedua orang tuanya sedang menunggu.


“Ada apa pah?” Tanya Leo begitu sudah duduk di depan kedua orang tuanya.


__ADS_2