
“Ada apa pah?” Tanya Leo begitu sudah sampai tepat di depan kedua orang tuanya.
Tuan Ardiansyah tersenyum kemudian mengeluarkan sesuatu dari bawah meja kaca di depannya yaitu map berwarna biru yang kemudian di sodorkan pada Leo.
Leo yang tidak mengerti kenapa papahnya tiba tiba menyodorkan map tersebut mengeryit. Namun Leo tetap menerima map tersebut meskipun dalam keadaan hati dan pikiran yang bingung.
“Ini apa pah?” Tanya Leo menatap map tersebut sebentar kemudian beralih menatap kedua orang tuanya.
“Itu hadiah dari papah untuk kamu. Papah harap itu berguna untuk kamu ya nak. Ingat untuk selalu menjadi suami dan pemimpin keluarga yang baik.” Nasehat tuan Ardiansyah pada Leo.
Leo terdiam. Pria itu menatap sebentar pada mamahnya yang hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Leo buka ya pah..” Ujar Leo pelan.
“Ya.. Silahkan.” Angguk tuan Ardiansyah tersenyum.
Leo menghela napas kemudian mulai membuka map tersebut. Kedua matanya melebar begitu mendapati berkas yang berada di dalam map tersebut adalah sertifikat rumah atas nama dirinya.
“Pah ini..”
“Itu adalah hadiah pernikahan untuk kamu dan Sinta dari mamah sama papah nak. Papah harap kamu suka ya..” Sela tuan Ardiansyah masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
__ADS_1
Leo tersenyum tidak menyangka. Padahal dirinya dan Sinta sudah berniat akan mencari rumah untuk dia beli besok. Tapi kedua orang tuanya malah memberikan hadiah pernikahan yang sangat tidak Leo duga duga.
“Pah ini benar benar sangat berlebihan. Tapi terimakasih, terimakasih banyak.” Ujar Leo kemudian bangkit dari duduknya dan mendekat pada nyonya dan tuan Ardiansyah memeluknya bergantian.
“Besok kita cek rumahnya ya nak.. Barang kali ada yang tidak Sinta suka nanti, kita bisa merubahnya.” Ujar nyonya Ardiansyah dengan lembut.
“Iya mah, pah..” Angguk Leo menurut saja. Pria itu sangat bersyukur karena hadiah tersebut pasti akan sangat berguna untuknya dan Sinta untuk waktu yang sangat lama. Bahkan mungkin akan berguna seumur hidup mereka berdua.
Besok paginya setelah sepakat, Tuan dan nyonya Ardiansyah mengajak serta Jennifer untuk ikut mengecek rumah baru untuk Sinta dan Leo. Awalnya Jennifer menolak dengan alasan dirinya ada kelas pagi, namun Leo memaksa dan mengatakan Jennifer tidak menyayanginya sebagai kakak jika sampai tidak mau ikut serta untuk mengecek rumah baru yang di hadiahkan oleh kedua orang tuanya.
Jennifer yang tidak bisa lagi beralasan hanya menghela napas dan menganggukkan kepalanya. Namun Jennifer menolak untuk satu mobil dengan Sinta dan Leo. Jennifer lebih memilih satu mobil dengan kedua orang tuanya saat dalam perjalanan menuju rumah baru Leo dan Sinta.
“Masih jauh ya pah?” Tanya Jennifer yang merasa waktu pagi ini begitu sangat lambat.
“Kita belum ada 10 menit sayang. Memangnya kenapa sih? Kamu ada janji sama Nando ya?” Tanya nyonya Ardiansyah menoleh ke belakang dimana Jennifer duduk.
Jennifer berdecak. Meski dirinya di tuntut untuk selalu dekat dan berakting mesra dengan Nando, namun Jennifer juga tidak mau berbohong pada kedua orang tuanya dengan mengatakan bahwa dirinya ada janji dengan Nando. Pria paling menyebalkan yang pernah dia temui.
“Ya enggak juga pah. Tapi kan aku ada kelas pagi. Aku juga ada rencana mau mengoreksi tugas aku sama Mutia hari ini. Jadi aku nggak mau sampai telat. Begitu pah.” Jawab Jennifer yang berusaha berkata apa adanya pada kedua orang tuanya. Jennifer memang ada rencana dengan Mutia untuk memeriksa tugas mereka sebelum di kumpulkan pada dosen besoknya lagi.
“Ya sudah iya.. Tapi paling enggak kamu lihat dulu lah rumah baru yang papah dan mamah hadiahkan untuk kakak kamu. Jangan membuat kakak kamu berpikir kamu tidak lagi menyayanginya loh.”
__ADS_1
Jennifer hanya bisa menghela napas. Leo salah jika berpikir Jennifer tidak menyayanginya. Karena pada kenyatannya sampai sekarang Jennifer bahkan masih sangat menyayangi dan mencintai kakaknya sendiri, Leo.
Jennifer benar benar merasa sangat jenuh dan bosan selama dalam perjalanan menuju kediaman baru kakaknya. Di samping itu Jennifer juga merasa sangat tidak siap jika harus melihat kemesraan Leo dan Sinta lagi nantinya. Itu benar benar membuat api cemburu berkobar di hatinya. Terasa panas namun juga sangat sakit.
Sekitar setengah jam perjalanan mobil Leo dan tuan Ardiansyah sampai di depan kediaman mewah dengan gerbang tinggi warna hitam. Disana juga sudah ada satpam yang berjaga yang langsung dengan sigap membukakan pintu gerbang untuk mobil Leo dan tuan Ardiansyah.
Mereka semua turun dari kendaraan masing masing. Jennifer menatap bangunan mewah berlantai dua dengan gaya modern itu. Gaya rumah itu benar benar sangat nyaman di pandang oleh mata menurut Jennifer.
“Ayo masuk..” Ajak tuan Ardiansyah.
Leo, Sinta, nyonya Ardiansyah, juga Jennifer melangkah beriringan masuk ke dalam rumah yang menjadi kado pernikahan dari tuan Ardiansyah untuk Leo dan Sinta. Mereka berkeliling melihat lihat ke seluruh sudut rumah yang memang masih kosong itu. Satu pun belum ada perabotan disana meskipun rumah itu sudah sangat rapi dan nyaman untuk segera di tempati.
“Papah sengaja nggak langsung isi perabotan. Ya, biar kamu bisa bebas mengisi apa saja perabotan yang kamu mau disini. Kamu juga bisa mengatur sesuka hati kamu supaya kamu dan Sinta merasa nyaman tinggal disini nantinya.” Ujar tuan Ardiansyah pada Leo. Saat ini mereka berdua sedang berada di balkon lantai dua rumah mewah itu. Hanya berdua, tanpa nyonya Ardiansyah, Sinta, maupun Jennifer.
“Ya pah.. Nanti Leo dan Sinta yang mengatur bagaimana baiknya. Leo dan Sinta juga benar benar sangat berterimakasih untuk kado pernikahan papah yang sangat berlebihan ini.” Senyum Leo yang masih merasa sangat tersanjung dengan kado yang di berikan papah dan mamahnya itu.
“Tidak perlu berlebihan seperti itu nak. Papah hanya mencoba memberikan yang terbaik untuk kamu. Ya.. Mungkin setelah ini kamu tidak akan merasa membutuhkan papah sama mamah karena kamu sudah punya kehidupan dan kewajiban sendiri sebagai kepala rumah tangga. Satu pesan papah yang jangan pernah kamu lupakan Leo. Jadilah suami yang setia dan bertanggung jawab. Jaga dan sayangi istri kamu dengan baik. Karena dengan begitu kamu akan berhasil sebagai seorang laki laki.”
Leo tertawa pelan mendengarnya. Pria itu mengangguk mantap mengiyakan pesan dari sang papah.
“Ya pah. Leo akan berusaha menjadi suami dan kepala keluarga yang baik. Tapi yang juga harus papah dan mamah tau, sampai kapanpun Leo akan terus membutuhkan papah sama mamah. Karena tanpa kalian berdua, Leo tidak akan mungkin ada di dunia ini.” Ujar Leo membuat tuan Ardiansyah tersenyum merasa sangat bangga padanya.
__ADS_1
“Kamu memang kebanggaan mamah sama papah Leo.” Tuan Ardiansyah menepuk pelan bahu Leo dengan penuh rasa bangga.