Forbidden Love

Forbidden Love
Ciuman selamat malam


__ADS_3

Hari ini Nando dan Jennifer benar benar banyak menghabiskan waktu berdua. Mereka benar benar melakukan kesepakatan itu untuk sama sama mencoba saling melengkapi dan membuka hati.


“Terimakasih untuk hari ini sayang..” Senyum Nando menatap Jennifer yang masih duduk di kursi samping kemudinya. Saat ini mobil Nando memang sudah berhenti tepat di depan teras depan rumah keluarga Ardiansyah.


“Nando itu terdengar sangat menggelikan. Tapi tidak apa apa. Aku akan mencoba untuk terbiasa.”


Nando tertawa geli. Memanggil dengan sebutan sayang pada Jennifer benar benar terasa seperti sudah menjadi kebiasaan baginya.


“Harusnya aku yang berterimakasih sama kamu karena kamu sudah ngajak aku makan enak, terus juga jalan jalan ke tempat tempat yang memang baru kali ini aku datangi dan itu sama kamu.” Ujar Jennifer lagi.


“Cukup melelahkan memang. Tapi hari ini juga sangat menyenangkan.” Lanjut Jennifer lagi.


“Memang itu kan yang harus selalu kita lakukan?” Tanya Nando menatap penuh perhatian pada Jennifer.


“Ya.. Aku harap usaha kita membuahkan hasil ya.. Setidaknya aku bisa melupakan perasaan yang tidak seharusnya ini pada kakak ku.”


“Bukan hanya berhasil melupakan Leo, Jennifer. Tapi aku pastikan kamu akan sangat mencintaiku nanti.” Ujar Nando dengan sangat percaya diri.


“Kamu benar benar terlalu sombong Nando.” Tawa Jennifer merasa geli.


“Ya sudah kalau begitu aku turun ya.. Kamu mau mampir dulu?”


Nando menggelengkan kepalanya. Pria itu ingin sekali mampir namun karena masih ada hal yang harus dia lakukan itu membuatnya tidak bisa.


“Aku ingin sekali menyapa calon kedua mertuaku sebenarnya, tapi aku masih ada sesuatu yang harus aku lakukan. Jadi aku pikir mungkin besok pagi saja aku kesini lagi untuk menjemput kamu.”


Jennifer menggelengkan kepalanya. Nando sudah overdosis dengan kepercayaan dirinya yang begitu tinggi.


“Terserah apa kata kamu saja. Aku turun ya..”


“Jennifer tunggu.”


Jennifer yang sudah melepas seatbelt nya menoleh kembali pada Nando yang mencekal lengannya mencegahnya yang sudah akan membuka pintu mobil untuk turun.

__ADS_1


“Kenapa lagi Nando?” Tanya Jennifer bingung.


“Kamu melupakan sesuatu.” Ujar Nando yang membuat Jennifer mengeryit bingung.


“Oh ya? Apa itu?” Tanya Jennifer lagi tidak mengerti dengan apa yang dia lupakan kali ini.


Nando tersenyum kemudian dengan cepat mendekatkan wajahnya pada Jennifer dan mencium sekilas bibir merah Jennifer membuat Jennifer tidak sempat menghindar.


Jennifer membulatkan kedua matanya. Nando menciumnya tanpa permisi.


“Kamu...”


“Aku hanya berinisiatif memberikan ciuman selamat malam pada tunanganku. Yang terpenting aku tidak memaksa kan?” Sela Nando berkata dengan santainya.


Jennifer mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang sudah mencapai ubun ubun nya. Nando memang tidak memaksanya. Tapi mencium tanpa permisi tetap saja tidak sopan menurutnya.


“Dasar nyebelin.” Umpat Jennifer yang kemudian segera turun dari mobil mewah Nando.


Nando terkekeh geli. Jennifer benar benar sangat menggemaskan jika sedang marah menurutnya.


Saat hendak masuk ke dalam rumah, Jennifer menoleh kembali pada Nando yang terus tersenyum menatapnya.


Jennifer menghela napas kemudian melangkah masuk ke dalam rumah tanpa memberikan lambaian tangan pada Nando yang begitu setia memastikannya benar benar masuk ke dalam rumah dengan aman.


Setelah Jennifer masuk kedalam rumah, Nando pun kembali melajukan mobilnya. Pria itu berlalu dengan kecepatan sedang dari pekarangan luas kediaman keluarga Ardiansyah.


------------


Sementara itu di dalam rumah.


“Jennifer.”


Jennifer baru saja menapakkan satu kakinya di anak tangga pertama menuju lantai dua saat mendengar suara berat Leo yang memanggil namanya.

__ADS_1


Jennifer menurunkan lagi satu kakinya kemudian memutar tubuhnya menghadap pada Leo yang berdiri dengan jarak sekitar empat meter darinya. Padahal Jennifer pikir Leo sudah tidur, karena sejak pulang dari bulan madu dengan istrinya, kakaknya memang selalu beristirahat lebih awal. Tapi sekarang, sudah pukul 9 malam Leo masih terjaga seperti memang sengaja menunggunya pulang.


Jennifer menelan ludah ketika mendapatkan tatapan serius dari kakaknya itu. Leo jarang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi seperti itu.


“Kakak, kakak belum tidur?” Tanya Jennifer pelan.


“Tidur? Adik kakak sampai malam belum pulang kamu pikir kakak bisa tidur? Apa lagi handphone kamu juga sama sekali tidak bisa di hubungi. Kamu sama sekali nggak ada kabar hari ini dek. Kamu pikir kakak bisa tenang begitu?”


Jennifer terkejut. Nada bicara kakaknya sedikit meninggi seperti orang yang sedang berusaha menahan amarah. Jennifer memang sengaja mematikan data di ponselnya karena sedang malas memegang benda pipih itu. Selain itu Jennifer juga ingin fokus dengan kebersamaannya bersama Nando sebagai usaha terakhirnya untuk melupakan Leo.


“Kakak ke kampus kamu tadi siang. Kakak berniat mengajak kamu untuk makan siang bersama dek, tapi kamu nggak ada dan Mutia bilang kamu pergi dengan Nando. Berkali kali kakak mencoba menghubungi kamu tapi tetap tidak bisa.” Lanjut Leo masih berbicara dengan nada yang sama pada Jennifer.


Jennifer menahan napasnya sebentar kemudian menghelanya dengan kasar. Jennifer merasa kakaknya terlalu mengekangnya kali ini. Padahal apa yang Jennifer lakukan dengan pergi bersama yang berstatus sebagai tunangannya adalah bukan suatu hal yang salah.


“Memangnya kenapa sih? Toh yang penting sekarang aku pulang ke rumah dan aku baik baik saja kan? Aku juga pergi sama Nando kan? Nando itu pacar aku kak, dia tunangan aku. Dia bisa menjaga aku dengan baik. Kakak nggak perlu lah berlebihan seperti ini.”


Leo menyipitkan kedua matanya mendengar apa yang Jennifer katakan. Tidak biasanya Jennifer berani melawannya. Apa lagi jika Jennifer sudah jelas bersalah.


“Kamu melawan kakak?” Tanya Leo penuh penekanan. Tatapannya yang semula serius kini berubah tajam pada Jennifer.


Jennifer mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Gadis itu tidak menyangka kakaknya akan begitu tajam menatapnya.


Perlahan Leo mendekat pada Jennifer yang langsung menundukkan kepala tidak berani membalas tatapan tajamnya.


“Kakak khawatir sama kamu Jennifer. Kakak nggak bisa percaya begitu saja dengan orang lain meskipun itu Nando.”


Jennifer menelan ludah. Gadis itu benar benar merasa takut sekarang. Leo tidak biasanya marah sampai seperti itu padanya.


Menyadari adiknya yang ketakutan tidak berani menatapnya, Leo pun tersadar. Pria itu kemudian menghela napas kasar. Leo menyesal karena sudah membuat adik kesayangannya ketakutan.


“Maaf dek.. Kakak nggak bermaksud memarahi kamu. Kakak hanya khawatir sama kamu. Kakak takut kamu kenapa napa.” Katanya kemudian menarik lembut tubuh ramping Jennifer, merengkuhnya masuk ke dalam pelukan hangatnya.


Sementara Jennifer, dia hanya diam saja mendapat pelukan hangat dari kakaknya. Jennifer kemudian memejamkan kedua matanya merasakan nyaman dalam dekapan Leo.

__ADS_1


“Tuhan.. Untuk kali ini saja izinkan aku merasakan pelukan nyaman ini bukan dari kakak ku. Tapi dari laki laki yang sangat aku cintai.” Batin Jennifer.


__ADS_2