
Beberapa hari ini Nando terus berada di sekitar Jennifer. Pria itu terus berusaha berada mendekati Jennifer meski memang selalu menggunakan paksaan yang sering kali membuat Jennifer marah padanya.
“Aku lihat akhir akhir ini kamu sering menghabiskan waktu dengan Jennifer.”
Ucapan Daniel membuat Nando yang sedang fokus dengan berkas di tangannya langsung menoleh. Pria itu menegakkan kepalanya menatap Daniel dengan sebelah alis terangkat.
“Maksud kamu?” Tanya Nando yang membuat Daniel tertawa. Daniel yakin Nando tidak mungkin tidak tau apa yang dia maksud.
“Jangan berpura pura polos Nando. Semua orang tau kamu dan Jennifer sangat di gadang gadang sebagai pasangan yang sangat serasi di kampus.”
Nando menghela napas kemudian tersenyum. Entah kenapa Nando ingin sekali membantu Jennifer agar bisa melupakan Leo secepatnya.
“Jangan salah paham. Aku hanya melakukan seperti apa yang seharusnya. Aku tidak ingin mereka semua tau bahwa hubungan aku dan Jennifer hanya sandiwara saja.” Ujar Nando yang masih belum menyadari perasaannya untuk Jennifer.
“Hey, aku bukan anak kecil yang tidak tau apa apa. Aku bisa melihat sendiri bagaimana kamu yang begitu berusaha mengejar Jennifer. Kamu juga selalu memaksa Jennifer agar selalu mau bersama dengan kamu kan?”
Nando mengeryit. Semua itu Nando lakukan untuk membuat Jennifer lupa pada Leo. Kakak kandungnya sendiri.
“Ayolah Daniel.. Jangan terlalu berlebihan dalam berpikir. Kamu sendiri tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Aku tidak ingin dekat apa lagi jatuh cinta pada siapapun.”
Daniel menyipitkan kedua matanya mendengar Nando yang tiba tiba menyinggung tentang cinta.
“Sorry.. Tapi aku sama sekali nggak mengatakan kamu jatuh cinta pada Jennifer. Aku hanya mengatakan akhir akhir ini kamu dan Jennifer semakin dekat. Itu saja.” Daniel tersenyum meledek pada Nando yang hanya bisa menghela napas saja.
“Atau jangan jangan memang sebenarnya kamu jatuh cinta padaku?” Tanya Daniel menatap Nando penuh selidik.
Kedua mata Nando membulat sempurna mendengarnya. Pria itu berdecak merasa kesal karena pertanyaan meledek Daniel padanya.
“Jangan membuatku marah Daniel. Itu benar benar sangat menjijikan.” Ketus Nando.
__ADS_1
Daniel tertawa mendengarnya. Pria itu merasa sangat geli karena kemarahan Nando padanya sekarang. Daniel tidak sungguh sungguh menanyakan tentang hal itu pada Nando. Tentu saja karena Daniel sendiri tau sahabat sekaligus bosnya itu adalah pria normal.
“Aku hanya bercanda Nando. Jangan marah.”
Nando hanya menggeleng saja. Sampai sekarang Nando juga bingung dan tidak tau darimana asal muasal isu tentang dirinya dan Daniel yang katanya adalah pasangan gay. Padahal Nando merasa kedekatannya dengan Daniel sudah sewajarnya. Mereka berdua juga tidak pernah memperlihatkan keintiman di depan umum. Tapi herannya seluruh kampus bahkan sampai mengisukan dirinya dan Daniel mempunyai hubungan terlarang. Yaitu hubungan sesama jenis yang sangat tidak benar adanya.
“Nanti setelah makan siang kita harus bertemu dengan Julio. Untuk membahas tentang kelanjutan kerja sama kita setelah proyek yang kemarin.” Ujar Daniel kemudian.
Nando langsung menatap kembali pada Daniel. Siang ini Nando sudah mengatakan pada Jennifer bahwa dirinya akan menemani gadis itu ke bandara untuk menjemput Leo dan Sinta yang baru pulang dari berbulan madunya diluar negeri.
“Kenapa mendadak sekali? Aku sudah ada janji dengan seseorang.”
Daniel berdecak. Rencana mereka sebenarnya tidak mendadak karena Nando sendiri sudah berkomunikasi dengan Julio. Daniel juga tau dari Nando yang mengatakannya sendiri.
“Jangan lupakan kamu sendiri yang membuat janji dengan Julio, Nando. Sebagai asisten, aku hanya mencatat dan mengingatkan jadwal kamu.” Ujar Daniel dengan perasaan sedikit kesal.
“Apa pertemuannya tidak bisa di tunda besok saja Daniel? Aku harus menemani Jennifer untuk menjemput Leo dan istrinya di bandara.” Tanya Nando mencoba bernegosiasi dengan Daniel.
“Julio akan ke luar negeri besok Nando. Dia akan mengunjungi kedua orang tuanya disana. Aku rasa jika di undur besok Julio pasti akan menolak.” Jawab Daniel menatap Nando jengah.
Nando berdecak pelan.
“Kalau nanti sore atau nanti malam, bagaimana?” Tanya Nando lagi membuat Daniel menggeleng. Jennifer sepertinya sangat penting untuk seorang Nando.
“Kamu telepon sendiri saja lah. Bicara sama Julio sendiri.” Kata Daniel yang tidak tau harus bagaimana lagi berbicara pada Nando yang sedang sangat memprioritaskan Jennifer.
“Aku mau kembali ke kampus dulu. Semua pekerjaanku sudah beres. Kalau kamu ada apa apa telepon saja.” Daniel bangkit dari duduknya di kursi depan meja kerja Nando kemudian melangkah berlalu begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari Nando.
Sementara Nando, dia tidak perduli dengan tingkah Daniel karena memang sejak dulu Daniel seperti itu. Nando lebih memilih menghubungi Julio untuk meminta pengunduran jadwal pertemuan mereka yang seharusnya mereka harus bertemu siang nanti.
__ADS_1
Setelah bernegosiasi cukup lama, akhirnya Julio pun memaklumi alasan Nando yang mengatakan harus menemani Jennifer menjemput Leo di bandara.
Setelah sama sama sepakat Nando menyudahi teleponnya. Nando langsung menyelesaikan dengan cepat pekerjaannya karena tidak ingin terlambat menemani Jennifer ke bandara.
Setelah pekerjaannya selesai, Nando langsung menuju kampus. Pria itu bahkan mengendarai mobilnya dengan kecepatan maximal karena takut Jennifer akan menjemput Leo dan Sinta sendiri ke bandara.
Dalam waktu singkat Nando sampai di parkiran kampus. Kebetulan saat itu Jennifer juga hendak masuk kedalam mobilnya. Nando bergegas turun dan berlari mendekat pada Jennifer.
“Hey.” Sapa Nando meraih lengan Jennifer yang saat itu sudah akan masuk ke dalam mobilnya.
Jennifer tersentak kemudian menoleh dan langsung melayangkan tatapan tajamnya pada Nando.
“Lepas.” Ketusnya sambil menghempaskan tangannya membuat pegangan tangan Nando pada lengannya terlepas.
Nando hanya diam saja. Entah kenapa Jennifer selalu saja sensitif padanya. Padahal Nando selalu berusaha ada di samping Jennifer.
Tidak ingin banyak berdebat dengan Jennifer, Nando pun merebut kunci mobil Jennifer dan kembali menarik Jennifer menjauh dari pintu mobilnya. Pria itu menutup pintu mobil Jennifer dan menguncinya.
“Nando kamu..”
“Kita harus ke bandara sekarang. Leo dan Sinta pasti sudah akan sampai.” Sela Nando lalu menarik pergelangan tangan Jennifer untuk mengikutinya.
Jennifer ingin protes tapi tidak mungkin karena sekarang banyak teman teman kampus di sekitar mereka. Nando pasti akan kembali mengancamnya.
Nando membukakan pintu mobilnya dan menuntun Jennifer masuk ke dalam mobilnya. Pria yang saat ini begitu rapi dengan setelan formalnya itu kemudian ikut masuk ke dalam mobilnya dan segera menghidupkan mesin mobil mewahnya.
“Aku harap kamu sudah mulai bisa mengikis perasaan kamu pada Leo Jennifer.” Ujar Nando menoleh sekilas pada Jennifer.
Jennifer hanya diam saja. Sampai saat ini perasaannya pada Leo masih tetap sama. Begitu dalam dan kuat.
__ADS_1