
Berbeda dengan Jennifer yang tersiksa karena terus berusaha melupakan perasaannya pada Leo, yang terjadi pada Leo dan Sinta justru malah sebaliknya. Mereka berdua selalu terlihat mesra dimanapun mereka berada. Bahkan saat berada di depan kedua orang tua mereka, mereka juga tidak sungkan memperlihatkan kemesraan mereka.
“Sayang...” Leo memeluk mesra pinggang Sinta yang sedang berdiri menikmati angin sejuk malam hari di balkon kamar Leo. Pria itu juga mengecup lembut tengkuk Sinta membuat si empunya memejamkan mata merasakan gelenyar aneh akibat sentuhan bibir panas Leo di kulit tengkuknya yang memang sengaja Sinta ekspos dengan cara mencepol tinggi rambut coklatnya.
“Ini sudah malam sayang.. Kenapa kamu malah berdiri disini? Anginnya cukup kencang malam ini. Jadi lebih baik kita masuk sekarang.” Ujar Leo terus menciumi tengkuk Sinta.
Sinta tersenyum dengan kedua mata terpejam. Sentuhan Leo selalu membuatnya merasa candu. Sinta bahkan merasa tidak ingin berhenti jika sudah mendapat sentuhan lembut penuh cinta dari suami tercintanya itu.
“Aku hanya ingin menghirup udara segar malam sayang..” Saut Sinta yang di sertai ******* pelan karena Leo yang terus saja menciumi tengkuknya serta mengusap usap mesra pinggang rampingnya.
Leo tertawa mendengar itu. Berciuman dan saling menyentuh memang sudah bukan lagi hal asing bagi mereka. Apa lagi mereka juga hidup di negara yang cukup bebas saat masih sama sama kuliah. Namun itu bukan berarti Leo bebas melakukan apapun pada Sinta. Mereka hanya melakukan sebatas ciuman dan sentuhan ringan saja, tidak sampai berhubungan intim.
“Leo tolong sudah.. Aku masih lelah..” Pinta Sinta yang sebenarnya juga sudah tidak bisa menahan gairahnya.
Leo menurut. Pria itu berhenti menciumi tengkuk Sinta. Namun kedua tangannya terus aktif mengusap usap mesra pinggang Sinta. Leo merasa tidak pernah puas meski hari ini sudah berkali kali menggauli istrinya itu. Rasanya benar benar sangat memabukkan.
“Apa aku sehebat itu?” Tanya Leo yang kemudian menempelkan dagunya di bahu Sinta.
“Ya.. Sangat. Aku bahkan sampai kewalahan melayani kamu sayang..” Jawab Sinta mengusap lembut pipi tirus Leo.
Usapan lembut tangan Sinta membuat sesuatu dalam diri Leo bangkit kembali. Pria itu memejamkan kedua matanya merasakan sesuatu yang tidak bisa dia tahan.
“Sayang.. Rasanya aku ingin terus berada di dalam kamu..” Bisik Leo tepat di depan daun telinga Sinta.
__ADS_1
Wajah Sinta merona. Bisikan Leo membuatnya tersipu. Leo seolah sedang memujinya sekarang.
“Kamu sangat memabukkan sayang.” Lanjut Leo lagi.
Pada akhirnya Sinta tidak bisa lagi menahan dirinya. Meski tubuhnya terasa masih sangat lelah, namun bisikan Leo membuat gairahnya langsung memuncak. Sinta kemudian memutar tubuhnya.
Tatapan mereka bertemu. Perlahan tangan Sinta mengalung di leher Leo. Dengan sangat lembut Sinta meraih bibir Leo, menciumnya dengan mesra, menggoda suaminya yang sebenarnya sudah lebih dulu tergoda meski Sinta tidak menggodanya.
Mereka berciuman di balkon kamar tanpa menghiraukan kalau kalau ada orang yang melihat aktivitas mereka berdua. Bagi mereka dimanapun tempatnya asal mereka berdua sama sama nyaman itu tidak masalah.
Tidak hanya bibir saja yang aktif saling berpagutan mesra, tangan mereka pun ikut bekerja. Apa lagi Leo yang memang begitu bersemangat dalam gairah yang membakarnya. Tanganya berlarian kesana kesini menyentuh bagian bagian sensitif tubuh istrinya yang berhasil membuat Sinta mendesah dalam ciuman mereka.
Dan malam itu mereka melakukannya di balkon kamar dibawah cahaya terang lampu dan cahaya lembut rembulan yang menjadi saksi betapa mereka sangat mesra dan intim saat itu.
Pagi ini Jennifer sengaja pergi pagi pagi sekali agar tidak bertemu dengan Sinta dan Leo yang selalu saja memperlihatkan kemesraan di depannya. Namun begitu sampai tidak jauh dari anak tangga pertama langkahnya harus terhenti karena Leo yang memanggilnya. Padahal Jennifer pikir Leo mungkin belum bangun dari tidurnya pagi pagi buta seperti itu.
Jennifer menghela napas kemudian memutar tubuhnya menatap pada Leo yang sedang melangkah menghampirinya.
“Kamu udah mau berangkat jam segini dek? Ini masih pagi banget loh.”
Jennifer hendak membuka mulut untuk menjawab pertanyaan sang kakak saat tiba tiba pandangannya tidak sengaja tertuju pada tanda merah di leher Leo. Jennifer tidak bodoh. Jennifer tau apa arti tanda merah di leher kakaknya itu.
Dada Jennifer terasa berdenyut ngilu membayangkan apa yang Leo dan Sinta lakukan jika sedang berdua saja di kamar. Namun Jennifer juga menyadari mereka bebas melakukan apa saja karena mereka memang sudah sah sebagai pasangan suami istri baik secara hukum negara maupun agama.
__ADS_1
“Ya kak.. Aku ada janji dengan Nando mau sarapan bersama pagi ini.” Jennifer menjawab dengan membuang muka enggan menatap lagi pada tanda merah tersebut.
“Ooh.. Begitu ya. Ya sudah kalau memang begitu. Hati hati ya di jalan dek. Belajar yang pinter, jangan pacaran mulu.” Ujar Leo yang di akhiri dengan tawa pelannya.
Jennifer hanya diam saja mendengar candaan sang kakak. Gadis itu kemudian memutar tubuhnya dan berlalu begitu saja dari hadapan Leo menuruni satu persatu anak tangga.
Leo yang memang sering menyadari sikap aneh dan tidak biasa Jennifer hanya diam saja. Leo sering bertanya tanya dalam hati kenapa adiknya tidak lagi manja padanya seperti dulu. Leo juga selalu bertanya tanya kenapa sikap Jennifer berubah begitu drastis padanya.
Leo pun sudah beberapa kali bertanya pada Jennifer tentang perubahan sikapnya. Namun Jennifer tidak pernah menjawabnya.
“Huft.. Apa mungkin karena dia sudah punya Nando? Atau karena aku sudah bersama dengan Sinta makannya dia berusaha untuk tidak bersikap manja lagi padaku?” Leo bergumam pelan dengan segala kebingungan di hati juga pikirannya. Perubahan Jennifer benar benar membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
“Sayang.. Ya ampun.. Aku kan suruh kamu tunggu sebentar tadi. Kok udah keluar aja sih?”
Leo menoleh mendengar suara istrinya. Senyumnya mengembang ketika mendapati Sinta yang sudah mengenakan dress simpel warna orange diatas lutut meski rambutnya memang masih di gulung dengan menggunakan handuk.
“Memangnya kenapa sih sayang? Kamu masih mau lagi? Hem?” Goda Leo menoel gemas ujung dagu runcing istrinya.
Sinta berdecak dengan wajah memerah. Leo selalu saja membahas tentang ranjang jika sedang bersamanya semenjak mereka sah menjadi pasangan suami istri. Bahkan Leo juga sering menanyakan akan menggunakan gaya apa saat mereka bercinta dengan alasan kenyamanan Sinta adalah saat bersamanya adalah prioritas utama.
“Jangan mulai deh. Ayo masuk ke kamar lagi. Memangnya kamu nggak sadar apa ada tanda merah di leher kamu.” Sinta berkata dengan menahan malu karena memang yang menciptakan tanda merah itu adalah dirinya semalam saat mereka sedang berada di puncak kenikmatan bersama.
Mendengar itu Leo terdiam. Dirinya sempat mengobrol dengan Jennifer tadi. Itu artinya Jennifer juga pasti sudah melihat tanda kepemilikan itu di lehernya.
__ADS_1
“Ya Tuhan...” Lirihnya.