
Jennifer dan Nando duduk di kursi panjang yang ada di balkon kamar Jennifer. Mereka sama sama menatap kearah bulan yang tampak sangat begitu indah malam ini. Jennifer sama sekali belum menjawab pertanyaan yang tadi Nando lontarkan padanya.
“Kamu bisa ceritakan semuanya sama aku sekarang. Aku akan menjadi pendengar yang baik untuk kamu.” Ujar Nando tanpa menatap Jennifer yang ada di sampingnya.
Jennifer menghela napas menoleh kemudian tersenyum pada Nando yang masih duduk disampingnya dengan tatapan mengarah pada rembulan malam yang begitu sempurna bulatnya.
“Tidak ada yang penting sebenarnya. Aku hanya sedang membutuhkan seseorang untuk menjadi pendengar yang baik. Dan nggak tau kenapa yang aku hubungi justru kamu, bukan Mutia atau Lala.”
Nando tersenyum geli mendengar itu. Nando juga sempat berpikir demikian. Tapi kemudian Nando mengabaikan itu dan merasa senang karena Jennifer membutuhkannya di saat saat seperti ini.
“Itu artinya kamu percaya sama aku, Jennifer.” Balas Nando dengan bangganya.
Jennifer mengeryit. Sulit di percaya sebenarnya. Karena Mutia dan Lala adalah sahabat yang sangat Jennifer percaya setelah keluarganya. Bahkan bagi Jennifer mereka berdua sudah seperti saudara. Tapi sekarang di saat dirinya hampir saja terjerumus kembali ke dalam perasaan terlarangnya Jennifer justru menghubungi Nando dan memintanya untuk segera datang di malam yang sudah larut itu.
“Itu terdengar sangat mustahil sebenarnya Nando. Tapi sepertinya memang begitu. Aku harap aku tidak salah memilih kamu sebagai orang yang aku percaya.” Senyum Jennifer menatap dari samping wajah tampan Nando.
“Aku jamin tidak. Kamu memilih orang yang tepat sayang.”
Jennifer berdecak. Nando memanggilnya dengan sebutan sayang lagi. Itu benar benar terdengar sangat menggelikan.
“Panggil saja aku Jennifer, Nando.” Protes Jennifer enggan terus terusan di panggil sayang oleh Nando.
“Memangnya kenapa? Tidak ada yang melarang bukan aku memanggil tunanganku dengan sebutan sayang. Ayolah Jennifer, ingat kesepakatan kita.” Nando melayangkan tatapan tidak ingin di tolaknya. Pria itu sudah menyadari sekarang bahwa hatinya memang terpaut pada Jennifer. Dan Nando tidak akan menyia nyiakan kedekatan mereka sekarang. Nando akan membuat Jennifer juga tidak bisa tanpanya. Karena dengan begitu mereka akan bisa bersama dengan status yang sesungguhnya.
“Baiklah, terserah kamu saja.” Jennifer menyerah. Gadis itu tidak ingin berdebat sekarang.
__ADS_1
Nando mengedikkan kedua bahunya. Pria itu kembali menatap bulan di langit malam.
“Aku yakin kamu menyuruhku datang kesini bukan tanpa alasan. Bukan sekedar hanya membutuhkan teman untuk mendengarkan kamu. Bukan begitu sayang?”
Nando kembali menoleh pada Jennifer yang juga ikut menoleh membalas tatapannya. Jennifer benar benar tidak menyangka Nando bahkan lebih peka dari seorang Mutia.
“Kamu bisa katakan apa saja yang sedang membuat hati kamu merasa terbebani padaku sekarang.” Lanjut Nando.
Jennifer menahan napasnya sejenak. Sebenarnya Jennifer malu mengakui bahwa dirinya mencintai Leo kakaknya sendiri. Namun tanpa dirinya mengaku pun Nando sudah bisa menebaknya dengan tepat.
“Ini tentang perasaanku Nando. Tadi kakak ku marah karena aku tidak bisa di hubungi. Dia bahkan menatapku dengan tajam. Aku benar benar tidak menyangka kakakku bisa bersikap seperti itu. Tapi kemudian dia menyesal dan memelukku dengan erat. Aku akui aku memang bodoh, sangat bodoh. Karena sampai sekarang aku terus memikirkan itu. Aku bahkan sempat mengira kakakku cemburu dengan kedekatan kita.” Cerita Jennifer dengan ekspresi sendu.
Nando mendengarkan dengan seksama apa yang Jennifer ceritakan. Pria itu bahkan menatap dengan penuh perhatian pada Jennifer yang berada di depannya.
Nando tersenyum tipis. Mendengar Jennifer mengakui kesalahannya membuat Nando yakin bahwa dirinya memang tidak salah menautkan hatinya pada sosok Jennifer. Karena menurut Nando sangat jarang ada seorang gadis yang mau mengakui kesalahannya dan berusaha untuk memperbaikinya bagaimanapun caranya.
“Aku tau sayang. Meskipun aku bukan kamu tapi aku bisa memahami bagaimana posisi kamu. Memperbaiki kesalahan memang tidak mudah. Tetapi selama kita terus berusaha untuk memperbaiki dan tidak terpengaruh oleh apapun untuk mengulanginya lagi itu adalah pilihan yang sangat tepat. Dan aku yakin kamu bisa melakukan itu. Ingat aku selalu ada untuk kamu. Oke?”
Jennifer menatap Nando masih dengan ekspresi yang sama. Apa yang Nando katakan membuatnya merasa tidak sedang di adili. Sebaliknya, Jennifer merasa perlahan Nando seperti sedang mencoba menariknya keluar dari kesalahan agar Jennifer tidak mengulanginya lagi.
Nando kemudian meraih kedua tangan Jennifer dan menggenggamnya lembut. Dan Jennifer, dia hanya diam saja dan membiarkan Nando menggenggam kedua tangannya.
“Pokonya kamu harus yakin kamu bisa. Kamu tidak sendiri menghadapi semuanya. Ada aku, ada Mutia dan Lala. Mereka sahabat yang baik yang pasti siap mendengar keluh kesah kamu.” Nando kembali meyakinkan dan menentramkan hati Jennifer yang sedang gundah.
Jennifer mengangguk pelan. Gadis itu merasa sangat beruntung karena mempunyai orang orang yang sangat perduli padanya.
__ADS_1
“Mulai sekarang kalau misalnya kakak kamu marah lagi karena kamu yang nggak bisa di hubungi, kamu hanya harus berpikir positif bahwa Leo mungkin mengkhawatirkan kamu karena dia sangat menyayangi kamu sebagai adiknya. Aku bisa melihat bagaimana Leo yang ingin selalu bisa menjaga dan memastikan yang terbaik buat kamu sayang.”
Jennifer tersenyum. Nando benar benar tidak seperti yang Jennifer pikirkan selama ini. Meski terkadang memang menyebalkan tapi ternyata Nando punya sisi dewasa dan sikap penuh kelembutan juga perhatian.
“Makasih ya Nando. Jujur aku nggak nyangka kamu ternyata sebaik ini.”
“Yah.. Aku baik tidak pada semua orang. Aku hanya melakukan apa yang memang harus aku lakukan pada orang orang yang aku sayang.” Balas Nando membuat Jennifer mengeryit.
“Orang orang yang kamu sayang?” Tanya Jennifer bingung.
“Ya.. Dan kamu adalah salah satu dari orang orang itu.” Jawab Nando dengan tenang.
Jennifer terkejut mendengar itu. Selama ini dirinya tidak pernah memberikan kesan yang baik pada Nando. Jennifer selalu menolak ajakan Nando bahkan mengecap Nando buruk karena terus memaksa dan melakukan segalanya semaunya sendiri.
Melihat Jennifer yang malah terdiam Nando mengeryit. Pria itu kemudian melepas satu tangan Jennifer dan menoel gemas ujung hidung mancung Jennifer membuat Jennifer tersentak dan tersadar dari lamunannya.
“Nando apaan sih?” Sebal Jennifer tidak terima karena Nando mengejutkannya.
“Abisnya kamu malah ngelamun sih. Aku tau kok aku ini keren, dan yah.. Tampan. Tapi kamu tidak perlu menatapku sampai seperti itu. Toh aku milik kamu bukan?”
Jennifer berdecak dan memutar jengah kedua bola matanya. Sikap terlalu percaya diri Nando kembali mengapung ke permukaan.
“Apa kata kamu sajalah Nando.” Balas Jennifer dengan helaan napas.
Nando terkekeh geli. Menggoda Jennifer sepertinya akan menjadi hobi baru untuknya.
__ADS_1