Forbidden Love

Forbidden Love
36 Bertemu Kembali


__ADS_3

Wise men say


Only fools rush in


But I can't help falling in love with you


Shall I stay?


Would it be a sin


If I can't help falling in love with you?


Alunan musik nan indah berbaur dengan debur ombak yang ber irama serta rembulan utuh menjadi pelengkap keharmonisan keluarga Raisa malam itu, di sebuah restoran tepi laut semenanjung Jimbaran mereka bertiga menyebutnya malam keakraban.


“Mungkin besok kami akan kembali sayang, kami tak mungkin meninggalkan Lisa terlalu lama dengan bibimu.” Seraut Raisa berubah sendu saat mengatakan itu pada putrinya.


“Hmmmm mungkin ini sedikit menyakitkan tetapi jika aku menolak tidak akan merubah keputusan ibu.” Ucap Alexsa sembari menahan nafas dari dadanya.


“Pergilah ibu aku hanya bercanda.” Timpal Alexsa lagi.


“Jangan khawatir sayang, ibu akan sering menjengukmu dan kau pun bisa mengunjungi kami kapan saja. Come on ini bukan perpisahan right ?” Sekali lagi Raisa menyakinkan putri sulungnya.


“Baiklah..... Lalu apa Lisa akan bersekolah disana ibu?” tanya Alexsa.


“Kami akan memberikan kebebasan pada Lisa untuk memilih, Lisa bisa bersama dengan siapa saja yang dia kehendaki kakek, bibi mu atau bahkan bersamamu disini?” timpal Frans.


“Kau yakin mengikut sertakan Lisa disini dad? Itu hanya akan membuat kami bersenang-senang dan menghamburkan uang kalian, lalu kami lupa dengan tujuan kami disini.” Sahut Lexsa dengan antusias.


“Baiklah dengan begitu satu daftar pilihan telah otomatis tercoret.” Ucap Frans dengan tawa kecil mengerutkan ekor matanya.


Makan malam kali ini berakhir dengan peluk hangat dan bersua foto bersama.

__ADS_1


Dengan mengendarai kendaraan pribadi mereka kembali menuju villa, suasana malam itu sedikit lebih hangat dari malam biasanya. Terlihat seperti keluarga bahagia bukan.


Sembari menatap keluar dari kaca mobil, pikiran Lexsa melayang jauh tak terhingga, bayang-bayang Ray selalu menghantui ingatan nya.


“Kau sedang apa kak, aku sangat merindukanmu.” Angan Lexsa mengalun rangkaian memori indah mereka berdua di belahan bumi utara. Setelah sekian banyak hal yang terjadi pada mereka, prahara hati dua insan itu kian mematang seiring jalan.


Lexsa memulai kuliahnya kembali setelah jeda 2 tahun kelulusanya. Kini usianya menginjak 20 tahun dan perasaanya tentu tidak bisa dikatakan cinta monyet lagi, monyet itu sudah berubah menjadi kingkong sekarang.


Sesampai dikamarnya gadis cantik itu membuka ponselnya dan segera mencari kontak kekasih hati nya. Mencoba menghubungi namun nihil tak tersambungkan dari 2 tahun yang lalu. Perasaan nya mulai hambar namun keteguhan hatinya tetap terjaga hingga saat ini.


Hingga ponsel yang ia pegang mulai terkulai diatas bantal dengan jemari manis senantiasa enggan melepaskan, beralun menuju alam mimpi.


“Alexsa ayo bangun, lekas sarapan jangan sampai terlambat pergi kuliahnya.” Triak Raisa sambil mengetuk pintu kamar putrinya.


“Emmhhh iya ibu aku sudah bangun.” Sahutnya terperanjat dari tempat tidur. Segera Alexsa bersiap untuk merapikan diri dan bersiap tanpa mandi tentunya, kebiasaan itu sudah menjadi senjata andalan saat bangun kesiangan dulu.


“Apa tidurmu nyenyak sayang?” Sapa Frans sembari menusuk omelet keju, aroma makanan itu begitu menggoda indra penciuman.


“Lexsa jangan lupa bawa kotak bekal itu, ibu sudah yakin kau tak akan sempat bersarapan dengan kami disini.” Tutur Raisa.


“Ah iya trimakasih bu, dad aku pergi dulu.” Sahut Lexsa dengan senyum manis mengembang di pipinya.


“Hati-hati di jalan sayang, semoga harimu menyenangkan.” Sahut keduanya.


Jauh di belahan bumi lain, seorang lelaki berperawakan tegap berjalan menelusuri lorong yang lembab dan minim pencahayaan, dengan setelan jas hitamnya tangan lelaki itu bersembunyi di balik saku celana. Langkahnya perlahan namun pasti tanpa meninggalkan suara pada gesekan antara pantofel dan lantai.


“Sudah berapa kali aku menegaskan, jangan pernah barmain – main dengan dara muda sepertiku, ambisiku masih terlalu menggebu untuk mengejarmu.” Tegas lelaki berperawakan tegap itu pada seseorang yang duduk diatas kursi dengan tangan dan kakinya terantai besi.


“Katakan Vernon, siapa yang berdiri di belakangmu?” Tanya lelaki berperawakan tegap itu dengan sedikit berbisik penuh selidik, membuat nyali siapapun menciut mendengarkannya, Ya dia adalah Ray.


Lelaki itu kini menjadi semakin matang dan menakutkan, setelah menyelesaikan sekolah militernya, Ray kini terjun sebagai mata-mata di perusahaan ayahnya. Sang pewaris tunggal kekayaan Lazaro.

__ADS_1


“Hahahaha.... kau kalah, dia selangkah lebih dulu darimu R, pria itu disana sedang mengawasi gadismu.” Ucap Vernon yang terakhir kalinya sebelum Ray menghabisi nyawanya saat itu juga.


“Siapkan penerbanganku menuju Bali, dan bereskan sisanya.” Ucapnya sembari bergegas meninggalkan tempat itu menuju bandara.


Keluarga Lazaro selalu memiliki cara yang terbilang unik untuk membereskan lawanya, mereka sungguh bermain sangat cantik bahkan memiliki krematorium yang canggih untuk menghilangkan jejak korbannya.


“Mission berlanjut, aku akan terbang malam ini juga, target mengintai keponakan tersayangmu saat ini.” Urai Ray melalui sambungan telephonenya.


“Lakukan, dan ingat jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan.” Sahut seseorang di balik sambungan telepon itu.


Klik..tutt...tuutt...tuutt.


“Cerewet.” Pungkas Ray sembari mematikan sepihak sambungan telepon dari ayahnya.


“Kau akan pergi sendiri kali ini kawan?” Sela Rohman yang sudah berdiri dengan tangan terlipat di dada.


“Tentu saja tidak, kemasi barangmu dan pergi bersamaku, kita akan berbagi tugas kali ini.” Timpal Ray dengan bibir menyungging.


“Sudah kuduga, aku sangat paham akal bulusmu.” Gerutu Rohman sembari berjalan mengekor sahabatnya.


“Apa kau tidak ingin menengok keluargamu juga?”


“Astaga aku sampai tidak ingat pada mereka, oh tuhan terimakasih. Hehe....” celoteh Rohman.


Dua hari berlalu tanpa terasa, dua lelaki dewasa yang sudah seperti saudara itu baru saja tiba di bandar udara Ngurah Rai Bali menggunakan pesawat komersil, karna tak ingin keberadaan mereka mudah terlacak oleh musuh yang selalu mengintai, dan tentu saja mereka menggunakan identitas kewarganegaraan Indonesia karna identitas tersebut hanya mereka dan kerabat mereka saja yang tahu, selama ini mereka menggunakan nama dan identitas baru menjadi warga negara Britania Raya lalu masuk akademi dengan menggunakan kode kombinasi angka dan huruf sehingga kerahasiaan sangat terjaga disana.


“Hufhhh... akhirnya kita sampai di tanah air tercinta lagi, aku sangat merindukan ini.” Ucap Rohman sembari mengeluarkan nafas panjang.


“Jangan sampai terlena dengan tujuan utama kita.” Balas Ray dengan datar lalu beranjak keluar dari dalam pesawat.


Mereka berdandan seperti turis lokal pada umumnya, celana seperempat , kaos polo yang sedikit kebesaran serta sepatu sneaker dan kacamata hitam bertengger diatas kepala mereka, sangat jauh berbeda dengan penampilan mereka sebelumnya yang terkesan kaku dengan setelan jas hitam mereka.

__ADS_1


__ADS_2