
Berbeda dengan Jennifer dan Nando yang sedang menikmati hari bersama seharian ini, Leo justru di buat uring uringan sendiri. Pria itu mondar mandir di teras depan rumah karena tidak tenang memikirkan Jennifer yang sampai lewat waktu makan malam selama dua jam belum juga pulang ke rumah.
Hal itu tentu di sadari oleh Sinta. Wanita yang sudah mengenakan piyama tidur itu berdiri di ambang pintu utama dengan menyenderkan lengannya di kusen pintu. Sinta menghela napas menatap tidak mengerti pada Leo yang terus saja gelisah tidak tenang karena kedekatan Jennifer dan Nando.
“Kemana mereka berdua sebenarnya? Kenapa mereka tidak tau waktu untuk pulang.” Gumam Leo sambil mondar mandir yang tentu dapat di dengar oleh Sinta.
Sinta menggelengkan kepalanya. Wanita itu tidak tau kenapa tiba tiba suaminya bersikap seperti itu. Padahal dulu Leo sangat bersemangat begitu tau Jennifer akan bertunangan dengan Nando.
“Besok kita akan pindah ke rumah baru kita Leo, bisa tidak kamu fokus saja dengan urusan kita sendiri. Jennifer itu sudah besar, sudah dewasa. Jennifer juga adalah anak baik baik. Dia pasti tau batasan batasan dalam bergaul dengan Nando atau teman temannya yang lain.” Ujar Sinta yang membuat Leo langsung menoleh padanya.
“Aku juga tau itu. Adikku memang anak baik baik. Aku percaya pada adikku Jennifer. Tapi aku tidak bisa percaya pada Nando. Apa kamu mengerti?”
Leo menatap Sinta dengan tatapan tajam penuh rasa kesal. Saat ini Leo benar benar tidak ingin mendengar apapun yang bersikap mengguruinya. Yang Leo mau hanya Jennifer pulang sekarang.
Sinta menggeleng dan tersenyum miris mendengar serta melihat tatapan tidak biasa suaminya itu.
“Kamu terlalu berlebihan Leo. Kamu seperti tidak pernah merasakan bagaimana indahnya bersama pasangan. Atau jangan jangan sebenarnya kamu tidak pernah merasakan kebahagiaan sama aku saat kita bersama? Entah itu dulu ataupun sekarang?”
Leo menyipitkan kedua matanya. Ucapan Sinta sudah terlalu bercabang kemana mana menurutnya. Padahal Sinta sendiri tau bagaimana Leo yang sangat mencintainya.
“Jangan membuatku marah Sinta. Ini tidak ada hubungannya dengan hubungan kita. Aku hanya khawatir pada adikku, apa itu salah?”
__ADS_1
“Enggak Leo. Sikap kamu sekarang ini benar benar sangat berlebihan. Kamu menyinggung hatiku. Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan ini salah? Jennifer dan Nando itu adalah pasangan, bahkan mungkin sebentar lagi mereka akan menikah? Memang apa salahnya kalau mereka menghabiskan waktu bersama?” Sinta mulai tidak bisa menahan dirinya. Sikap Leo sudah melampaui batas menurutnya sekarang.
“Sinta cukup. Kamu tidak perlu memancing emosiku terus menerus. Lebih baik sekarang kamu masuk, lalu tidur. Aku akan disini menunggu sampai Jennifer pulang. Aku akan memberi pelajaran pada si brengsek itu.” Leo melengos enggan menatap wajah istrinya yang matanya mulai berkaca kaca.
“Apa kamu pikir Nando sama seperti kamu Leo? Apa kamu pikir Nando tidak bisa menahan diri seperti apa yang dulu hampir kamu lakukan beberapa kali sama aku saat kita tinggal bersama di Amerika?”
Pertanyaan sinis Sinta membuat Leo kembali menoleh padanya. Leo akui dirinya memang beberapa kali hampir melakukan kesalahan. Leo hampir terbawa nafsu untuk melakukan apa yang tidak seharusnya dia lakukan pada Sinta sebelum mereka menikah dulu.
“Apa maksud kamu menyama nyama kan aku dengan Nando Sinta? kamu membela dia? iya?”
Mereka berdua semakin sengit berdebat tanpa ada yang mau mengalah. Sinta terus mencecar Leo dengan pertanyaan pertanyaan yang menyulut emosi Leo. Hal itu membuat Leo benar benar tidak bisa menahan emosi hingga terus membalas dengan sengit setiap apa yang Sinta lontarkan. Hingga suara klakson mobil Nando membuat perhatian mereka teralihkan. Leo dan Sinta yang wajahnya sudah memerah dan basah oleh air mata menatap mobil Nando yang mulai masuk ke dalam pekarangan luas kediaman keluarga Ardiansyah dengan pak satpam yang membukakan pintu.
Nando dan Jennifer turun dari mobil secara bersamaan. Baju mereka berdua sudah tidak sama lagi seperti pagi saat mereka berangkat. Jennifer juga membawa paper bag berisi baju kotor penuh tanah basahnya karena memang sebelum kembali ke kampus Nando mengajak Jennifer untuk lebih dulu membeli baju baru untuk langsung mereka berdua kenakan. Karena memang tidak mungkin mereka kembali ke kampus dalam keadaan baju yang kotor setelah bermain bersama anak anak di pedesaan setelah makan siang tadi.
Jennifer yang menyadari tatapan tajam kakaknya mengeryit bingung. Jennifer juga melirik pada Sinta yang sedang mengusap pipi basahnya. Jennifer tidak bodoh, dia tau Sinta sedang menangis.
Tidak berbeda dengan Jennifer, Nando juga menyadari hal tersebut.
“Dari mana saja kamu Jennifer?” Tanya Leo dengan penuh penekanan.
Jennifer menelan ludahnya. Entah dimana lagi salahnya kali ini. Kakaknya benar benar tidak seperti biasanya.
__ADS_1
“Apa kalian berdua tidak tau batasan? Ini sudah malam dan kalian berdua baru pulang. Apa mentang mentang kalian sudah bertunangan kalian merasa bebas melakukan apa saja, begitu?” Nada bicara Leo mulai meninggi membuat Nando mengeryit. Leo bertingkah seperti orang yang sedang cemburu.
Jennifer menundukkan kepalanya. Bukan takut karena kemarahan kakaknya, tapi Jennifer berusaha menahan perasaannya yang meronta ronta dengan harapan Leo sedang cemburu padanya dan Nando. Jennifer berusaha menekan perasaan tersebut karena tidak ingin lagi terjerumus kedalam dosa besar yang tidak akan bisa di ampuni.
“Hey.. Tidak perlu marah marah seperti itu? Kami berdua tau batasan batasan yang kamu maksud. Kamu tidak perlu khawatir apa lagi menggurui. Aku tau bagaimana caranya menjaga Jennifer dengan baik.” Nando membalas karena tidak terima dengan apa yang Leo katakan. Leo terlalu berlebihan menurutnya. Dan Nando tidak suka dengan sikap Leo yang seperti itu.
Karena tidak bisa menahan emosi, kepalan tangan Leo hampir saja mendarat dengan sempurna di wajah tampan Nando jika saja Nando tidak bisa dengan sigap menahannya.
“Kamu..”
“Jangan kamu pikir aku tidak berani melawan mu Leo. Aku tidak akan membiarkan siapapun membuat kekasihku merasa tidak nyaman, termasuk kamu.” Sela Nando kemudian menghempaskan tangan Leo kasar.
Jennifer menutup mulutnya terkejut melihat apa yang hampir terjadi di depannya. Leo hampir saja memukul wajah Nando.
“Sudah, tidak apa apa sayang. Kamu tidak perlu mendengarkan kakak kamu. Lebih baik sekarang kamu masuk ke dalam lalu istirahat. Besok aku jemput.” Ujar Nando pada Jennifer dengan sangat lembut. Nando juga mencium lembut kening Jennifer mencoba menenangkan hati dan pikiran gadis itu.
“Iya.. Aku masuk ya..”
“Hem...”
Tanpa berkata apapun pada Leo dan Sinta, Jennifer masuk ke dalam rumah dengan Nando yang terus mengawasi. Nando tidak ingin perasaan Jennifer kembali melemah, karena hal itu bisa membuatnya semakin susah mendapatkan hati gadis itu.
__ADS_1
Sedang Leo, Pria itu melengos enggan melihat kemesraan Jennifer dan Nando.