
Mobil Leo, Nando, juga tuan Ardiansyah keluar secara beriringan dari pekarangan luas kediaman keluarga Ardiansyah. Pagi ini tuan Ardiansyah dan istrinya juga Jennifer dan Nando memang mengantar Leo dan Sinta yang akan pindah dan mulai menempati rumah barunya.
“Akhirnya.. Aku seneng banget karena mulai malam ini kita akan benar benar tinggal dirumah yang atas nama kamu sendiri sayang.. Walaupun memang bukan kita sendiri yang membelinya tapi paling tidak kita sudah punya hunian untuk kita berdua saja.” Ujar Sinta dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Leo ikut tersenyum mendengarnya. Memiliki sendiri tempat nyaman untuk di tinggali bersama istrinya memang adalah impiannya sejak dulu bahkan sebelum mereka berdua sah menjadi pasangan suami istri.
“Aku juga senang sayang. Semoga saja rumah yang akan kita tinggali bisa membuat kamu merasa nyaman dan betah yah.. Ya.. Walaupun rumah bukan rumah yang aku beli dengan hasil keringat aku sendiri. Tapi setidaknya kan aku tidak meminta sama mamah sama papah.”
Sinta terkekeh geli mendengarnya.
“Asal berdua sama kamu, aku pasti akan merasa sangat nyaman dan tentunya betah.”
Leo hanya tersenyum saja. Leo tidak bohong dirinya bahagia karena istrinya bahagia dengan perpindahan mereka pagi ini. Namun di sisi lain Leo juga merasa khawatir pada Jennifer. Tapi Leo berusaha untuk bersikap biasa saja di tengah rasa khawatir yang merundungnya. Leo tidak mau ada masalah lagi antara dirinya dan istrinya. Leo tidak ingin Sinta merasa kecewa lagi padanya. Karena Leo sendiri merasa tidak bisa jika harus di diamkan oleh istri yang sangat dia cintai.
Sekitar setengah jam perjalanan, mobil mereka sampai tepat di depan gerbang rumah berlantai dua yang akan di tinggali oleh Leo dan Sinta. Saat Leo membunyikan klakson mobil satpam yang pagi itu masih di kuasai rasa kantuk langsung meloncat karena terkejut kemudian segera bergegas untuk membukakan pintu gerbang agar mobil Leo, Nando, juga tuan Ardiansyah bisa masuk ke dalam pekarangan rumah yang tidak terlalu luas itu.
Satu persatu mobil itu mulai masuk secara beriringan dan terparkir dengan rapi berbaris di halaman depan teras rumah yang akan menjadi tempat tinggal Sinta dan Leo.
“Sayang, kita hanya punya waktu 30 menit untuk sampai ke kampus. Itu kalau kamu tidak mau telat menyerahkan skripsi kamu.” Ujar Nando saat Jennifer sedang melepaskan seatbealt yang melingkupi tubuh rampingnya.
“Iyaaa.. Kamu tenang aja. Aku nggak akan lupa waktu kok. Ya paling tidak kita masuk dulu untuk menghargai kak Leo dan kak Sinta.” Balas Jennifer tersenyum tipis.
__ADS_1
“Oke..” Angguk Nando mengerti dengan niat baik Jennifer.
Nando dan Jennifer kemudian dengan kompak turun dari mobil mewah Nando. Mereka berdua melangkah menuju bagian depan mobil kemudian saling bergandengan tangan melangkah mengikuti tuan dan nyonya Ardiansyah masuk ke dalam rumah yang akan menjadi tempat tinggal Sinta dan Leo ke depannya.
“Kami berdua benar benar sangat berterimakasih sama mamah juga sama papah. Kado pernikahan dari kalian benar benar sangat berharga dan bermanfaat bagi kami berdua mah pah..” Ujar Leo saat mereka berdua duduk di ruang tamu.
Ya, Leo dan Sinta memang sudah memenuhi semua perabotan di dalam rumah itu. Mulai dari perabotan yang penting bahkan sampai yang tidak terlalu penting.
“Jangan sungkan Leo. Papah sama mamah ini adalah orang tua kalian. Apa yang papah sama mamah berikan ini belum seberapa.”
Nando dan Jennifer yang duduk berdampingan hanya bisa diam saja mendengarkan apa yang Leo dan tuan Ardiansyah obrolkan. Sementara Sinta, wanita itu tersenyum manis merasa sangat bersyukur karena mempunyai mertua yang sangat baik dan mengerti dirinya juga Leo.
Beberapa menit mereka larut dalam obrolan yang membuat Nando merasa tidak nyaman. Pria itu sebenarnya tidak sedang sibuk oleh urusan perusahaan. Justru Nando sedang mengkhawatirkan Jennifer. Nando khawatir Jennifer telat memberikan skripsinya pada dosen yang seantero kampus juga tau sangat killer itu.
“Ya Nando.. Sebentar.” Saut Jennifer yang mengerti dengan maksud Nando. Gadis itu menatap Nando dengan tenang.
Setelah berbicara pada Nando, Jennifer kemudian beralih menatap pada Leo dan tuan Ardiansyah, papahnya.
“Kak, pah.. Aku harus ke kampus sekarang. Aku harus menyerahkan tugas pada dosen.” Ujar Jennifer yang berhasil mengalihkan perhatian mereka.
“Ayolah Jennifer.. Kamu baru duduk beberapa menit. Kenapa harus buru buru sekali. Menyerahkan tugas kampus kan bisa nanti atau besok. Duduk saja dengan tenang dulu.” Leo menatap Jennifer sendu. Pria itu tidak percaya dengan alasan Jennifer tentang tugas kampus. Pria itu malah mencurigai Nando sengaja mempengaruhi Jennifer agar lekas pergi dan mengikutinya.
__ADS_1
Nando menyipitkan kedua matanya mendengar apa yang Leo katakan. Entah kenapa sejak mendengar cerita Jennifer malam itu tentang kemarahan Leo pada Jennifer, Nando menjadi curiga dan menganggap Leo juga mempunyai perasaan terlarang pada Jennifer.
Sedangkan Jennifer dan tuan juga nyonya Ardiansyah tersenyum geli. Mereka menganggap Leo mencegah kepergian Jennifer sekarang karena sedang manja dan ingin menghabiskan waktu bersama sebelum mereka benar benar tinggal terpisah. Sangat aneh memang karena sejak dulu juga mereka sebenarnya sudah tinggal terpisah karena Leo yang meneruskan pendidikan di luar negeri.
“Sayang.. Mana boleh begitu. Tugas ya tugas.. Itu adalah tanggung jawab Jennifer sebagai seorang mahasiswi. Kamu harusnya memberi contoh yang baik buat Jennifer, bukan malah mengajari yang enggak enggak dengan menunda waktu penyerahan tugas. Lagian kan lain waktu Jennifer dan Nando juga pasti akan main kesini. Bukan begitu dek?”
Jennifer menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Sinta katakan. Kali ini gadis itu sependapat dengan kakak iparnya.
“Ya kak.. Kalau aku sama Nando ada waktu, kami berdua pasti akan main lagi kesini.” Setuju Jennifer mendukung apa yang Sinta katakan.
Sementara Nando, pria itu hanya diam saja dan enggan untuk ikut berbicara pada Leo. Nando merasa malas jika harus berurusan dengan Leo yang menurutnya sangat berlebihan dalam bersikap pada Jennifer.
“Ya sudah kak, pah, mah, aku sama Nando ke kampus dulu ya.. Ayo..”
Jennifer menepuk pelan paha Nando yang langsung bangkit dari duduknya. Mereka berdua kemudian berlalu dari ruang tamu di rumah Leo dan Sinta dengan kedua tangan saling bertaut.
Sementara Leo yang melihatnya berdecak sebal. Melihat Nando dan Jennifer yang selalu terlihat mesra membuatnya merasa sangat muak.
“Kamu tidak bermaksud mengulangi kesalahan kamu tempo hari kan sayang?” Bisik Sinta dengan senyuman agar tuan dan nyonya Ardiansyah tidak tau apa yang dia ucapkan pada Leo.
Leo menghela napas. Pria itu kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu khawatir tentang itu sayang..” Balas Leo lembut.
“Baguslah kalau begitu.”