
Jennifer membuka kotak bekal yang di bawanya dari rumah. Pagi ini menu sarapan pagi keluarganya adalah nasi goreng dengan telor ceplok. Dan Jennifer tadi memilih untuk sarapan dalam perjalanan karena tidak ingin terlambat menghadiri kelas pagi ini.
Jennifer tersenyum. Seperti biasanya, masakan bibi selalu terlihat menggugah selera.
Jennifer kemudian beralih menatap pada Nando yang sedang fokus dengan kemudinya. Jennifer yakin Nando pasti juga belum sempat sarapan pagi ini karena terlalu cepat menjemputnya.
“Nando, aku tau kamu pasti juga belum sarapan kan? Bagaimana kalau kita sarapan sama sama?”
Nando tersenyum mendengarnya. Tebakan Jennifer benar benar sangat tepat. Nando memang tidak sempat sarapan pagi tadi. Itu karena Nando tidak ingin membuat Jennifer sampai menunggunya. Padahal Nando juga baru bisa memejamkan matanya di sepertiga malam setelah pulang dari rumah Jennifer. Mereka mengobrol cukup lama hingga akhirnya Nando menyuruh untuk Jennifer tidur karena malam yang sudah larut.
“Kamu saja dulu. Aku nanti saja. Lagian aku juga sedang menyetir. Masa iya aku sarapan sambil nyetir.” Ujar Nando melirik dan menatap sebentar pada Jennifer.
Jennifer tertawa. Kali ini Nando tidak tau maksud baiknya.
“Tenang saja. Berhubung sekarang aku lagi baik, aku bakal bantuin kamu sarapan. Aku suapin kamu.” Senyum Jennifer menawarkan bantuan pada Nando.
“Kalau begitu boleh deh.” Angguk Nando tersenyum lebar.
“Oke..”
Jennifer kemudian mulai menyendok nasi goreng dan telur dadar di kotak bekalnya setelah itu menyodorkannya tepat di depan mulut Nando yang tentu saja dengan senang hati Nando terima.
Mereka berdua sarapan bersama dengan sekotak bekal yang Jennifer bawa. Mereka juga menggunakan garpu dan sendok yang sama tanpa sedikitpun merasa jijik. Keduanya benar benar sudah seperti pasangan yang saling mencintai. Mereka berusaha melengkapi satu sama lain.
Obrolan dan candaan ringan juga sesekali Nando lontarkan yang membuat Jennifer kadang tertawa namun juga kadang merasa kesal. Namun hal itu yang justru membuat Jennifer merasa nyaman berdua dengan Nando.
Tidak lama kemudian mereka berdua sampai tepat di parkiran depan kampus. Keduanya kompak turun dari mobil mewah Nando dan berjalan beriringan dengan tangan Nando yang terus menggandeng tangan Jennifer.
“Kenapa sih dari sekian banyaknya perempuan harus Jennifer yang Nando pilih? Kenapa bukan aku saja?”
“Yee... Apa lagi kamu yang pas pasan begitu. Kiki yang cantik dan modis saja kalah. Dia bahkan di keluarkan dari kampus karena mengusik Jennifer.”
__ADS_1
Jennifer tersenyum mendengar obrolan dari dua gadis yang berdiri di koridor yang dirinya dan Nando lewati. Sekarang Jennifer mengerti kenapa Nando sampai nekat mengeluarkan Kiki dari kampus. Tentu saja karena Jennifer menghargai usaha Nando untuk menjaga nama baiknya.
“Nanti siang kamu ada kelas nggak?” Tanya Nando saat mereka sudah sampai di depan kelas Jennifer. Tangan besarnya masih menggandeng tangan Jennifer.
“Eemm.. Nanti siang nggak ada sih. Adanya nanti sore jam empat. Kenapa memangnya?” Jawab Jennifer kemudian balik bertanya pada Nando.
“Kalau begitu nanti siang aku jemput kamu ya.. Soalnya abis ini aku juga ada kelas. Kita makan siang sama sama. Setelah itu aku bakalan ajak kamu ke suatu tempat.”
Jennifer mengeryit penasaran.
“Oh ya? Kemana?” Tanya nya lagi.
Nando terkekeh.
“Nanti juga kamu tau.” Katanya yang memang sengaja ingin membuat Jennifer penasaran.
“Yeee.. Sok sok an misterius kamu mah.” Decak Jennifer mencebikkan bibirnya.
Nando tertawa semakin lebar. Pria itu kemudian melepaskan genggaman tangannya karena sebentar lagi kelas Jennifer akan di mulai. Buktinya semua yang akan mengikuti kelas tersebut juga berbondong bondong masuk melewatinya dan Jennifer.
“Oke.. Kalau gitu aku masuk ya?”
Nando menganggukkan kepalanya. Pria itu menghela napas pelan menatap Jennifer yang masuk ke dalam kelas kemudian duduk tepat disamping Mutia.
Setelah memastikan Jennifer duduk dengan aman di samping Mutia, Nando pun berlalu dari depan kelas Jennifer.
Sementara di kelas, Mutia tersenyum penuh arti menatap Jennifer yang mengeryit merasa aneh dengan tatapan yang di layangkan oleh Mutia.
“Kamu kenapa Tia? Kok natap aku begitu?” Tanya Jennifer bingung.
“Aku lihat sejak kemarin kamu sama Nando mesra banget. Nando mengantar kamu sampai depan kelas. Aku juga bisa tebak hari ini kamu pasti datang lagi dengan Nando kan? Kamu nggak bawa mobil sendiri kan?”
__ADS_1
Jennifer terkekeh geli mendengarnya. Jennifer sendiri tidak menyangka dirinya bisa begitu dekat dengan Nando. Tapi yang pasti Jennifer merasa Nando memang orang baik. Dan Jennifer merasa tidak salah memilih Nando sebagai orang yang dia beri kesempatan untuk masuk ke dalam kehidupannya.
“Aku hanya sedang mencoba melupakan apa yang memang sudah seharusnya aku lupakan.”
Mutia terlihat terkejut.
“Maksudnya kamu memanfaatkan Nando begitu?” Tanya Mutia tidak percaya.
“Bukan memanfaatkan sebenarnya. Kan aku sama Nando juga sudah sepakat. Kita tidak akan tau apa yang akan terjadi kan kalau kita nggak mencoba. Aku merasa tidak ada salahnya aku mencoba dekat dengan Nando.” Jelas Jennifer menjawab kebingungan Mutia.
“Oohh.. Begitu. Iya sih memang, kita tidak akan tau hasilnya kalau kita saja takut mencoba. Aku yakin kok Nando memang yang terbaik buat kamu Jen.. Aku do'akan semoga dengan kamu sepakat bersama Nando, kamu bisa benar benar melupakan perasaan kamu sama kak Leo..” Senyum Mutia mengerti dan merasa sependapat dengan apa yang menurut Jennifer baik.
“Amiin.. Makasih do'anya ya Tia.”
“Iya sama sama. Pokonya kamu nggak perlu sungkan. Kamu bisa menceritakan apa saja yang ingin kamu ceritakan ke aku ataupun Lala. Kami berdua menyayangi kamu Jen..”
Jennifer tertawa pelan.
“Ya.. Aku sangat percaya itu. Karena aku juga sangat menyayangi kalian.”
--------------
Saat waktu makan siang tiba, Nando bergegas bangkit dari duduknya di samping Daniel. Saat ini mereka berdua sedang berada di restoran. Ya, mereka berdua baru saja bertemu dengan rekan bisnis guna membahas tentang kerja sama yang sedang perusahaan mereka jalin.
“Mau kemana?” Tanya Daniel menatap Nando yang terlihat sangat buru buru.
“Aku ada janji dengan Jennifer.” Jawab Nando tersenyum tipis.
“Jennifer? Memangnya kamu nggak makan dulu? Ini sudah waktunya makan siang.”
Nando menggeleng pelan menolak tawaran Daniel untuk makan bersama siang ini.
__ADS_1
“Aku akan makan siang dengan Jennifer nanti. Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa apa yang aku katakan tadi.” Ujar Nando kemudian bergegas berlalu dari hadapan Daniel dengan langkah lebar dan cepat.
Daniel menghela napas, berdecak, lalu menggelengkan kepalanya. Daniel tau Nando memang sudah jatuh cinta pada sosok Jennifer meskipun memang Nando belum mau mengakuinya di depannya. Namun Daniel yakin pilihan Nando tidak salah. Jennifer yang terbaik untuk Nando.