Forbidden Love

Forbidden Love
Ke khawatiran seorang kakak


__ADS_3

Karena merasa tidak tenang terus memikirkan Jennifer, Leo pun memutuskan untuk mendatangi Jennifer langsung ke kampusnya saat waktu istirahat makan siang berlangsung. Dan begitu dirinya turun dari mobil di parkiran kampus tempat Jennifer kuliah, Leo melihat Mutia yang hendak masuk ke dalam mobilnya. Leo yang memang tau Mutia sangat dekat dengan Jennifer segera memanggil Mutia dengan berseru.


“Mutia !!”


Mutia yang merasa namanya di panggil oleh Leo pun menoleh. Gadis itu mengeryit saat mendapati Leo yang sedang melangkah mendekat padanya.


“Kak Leo..” Gumam Mutia pelan. Mutia mengurungkan niat untuk masuk ke dalam mobilnya dan menutup kembali pintu mobil miliknya itu.


“Hay..” Sapa Leo tersenyum begitu sampai tepat di depan Mutia.


Mutia balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dalam benaknya Mutia sudah bisa menebak akan kedatangan Leo sekarang. Apa lagi jika bukan menyangkut tentang Jennifer.


“Hay juga kak..”


Leo tidak langsung menanyakan tentang Jennifer pada Mutia. Namun Leo lebih dulu menatap ke sekelilingnya mencari sosok adiknya itu berharap Jennifer muncul dari arah mana saja.


“Mutia, kamu enggak bareng sama Jennifer?” Tanya Leo kemudian.


Tepat sekali tebakan Mutia. Leo datang untuk menanyakan tentang Jennifer padanya.


“Itu kak, Jennifer udah pergi sama Nando. Katanya sih mau makan siang.” Jawab Mutia apa adanya.


Senyuman di bibir Leo langsung memudar. Lagi lagi posisinya sebagai orang yang selalu melindungi Jennifer di gantikan oleh Nando.


“Begitu ya? Kira kira kamu tau nggak mereka berdua makan siang dimana? terus mereka perginya sejak kapan? Dari tadi atau baru saja?”


Pertanyaan beruntun Leo membuat Mutia mengeryit. Gadis itu merasa aneh dengan sikap Leo yang begitu ingin tau segalanya tentang Jennifer dan Nando. Padahal Leo sendiri juga tau Jennifer dan Nando adalah pasangan sekarang.

__ADS_1


Melihat keryitan di kening Mutia, Leo pun tersenyum di sertai helaan napas pelan.


“Aku hanya khawatir dengan Jennifer. Meskipun memang dia dan Nando adalah pasangan kekasih, tapi sebagai seorang kakak memastikan keamanan untuk adik satu satunya adalah hal yang paling penting untukku.” Ujar Leo yang tidak ingin membuat Mutia salah paham padanya.


“Ya kak.. Aku mengerti kok. Tapi Jennifer dan Nando sudah pergi sejak tadi. Dan aku juga tidak mau mereka makan siang dimana sekarang.” Jawab Mutia. Kali ini Mutia terpaksa harus sedikit berbohong dengan mengatakan Jennifer dan Nando pergi sejak tadi. Karena pada kenyataannya mereka belum 10 menit meninggalkan kampus. Mutia hanya tidak mau Jennifer dan Nando terganggu. Ya, Mutia juga berharap Nando bisa menggantikan posisi Leo di hati Jennifer.


“Oh.. Ya sudah deh kalau begitu.”


“Ya kak, ah ya kak. Maaf aku harus buru buru pergi sekarang. Aku duluan ya kak.”


Leo hanya menganggukkan kepala dengan senyuman tipisnya. Pria itu menatap Mutia yang memasuki mobilnya kemudian melaju dengan kecepatan sedang berlalu dari parkiran depan gedung universitas tersebut.


Leo menghela napas kasar. Rasanya dirinya tidak siap jika Jennifer tiba tiba tidak lagi membutuhkan perlindungan darinya.


Tidak kehabisan akal, Leo pun merogoh saku celana bahan warna abu abunya. Pria yang mengenakan kemeja putih tulang yang di lengannya di lipat sampai batas siku itu langsung mencoba menghubungi Jennifer untuk menanyakan perihal keberadaan gadis itu sekarang dengan Nando. Namun sayang, karena ternyata nomor Jennifer tidak bisa di hubungi.


Leo tidak menduga sedikitpun Jennifer akan bersikap seperti sekarang. Apa lagi setelah berhubungan dengan Nando, Jennifer sudah benar benar tidak lagi membutuhkannya sebagai seorang pelindung dan tempatnya bermanja. Jennifer benar benar memberi jarak dan membatasi diri darinya.


Baru saja Leo menurunkan ponsel dari telinganya, tiba tiba benda pipih itu berdering. Leo yang sedang berharap mendapat telepon balik dari Jennifer, langsung mengangkatnya tanpa melihat dulu layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang meneleponnya.


“Halo, Jennifer kamu dimana sekarang?” Tanya Leo mengira yang meneleponnya sekarang adalah adiknya.


“Aku di depan kampus kamu. Tapi Mutia bilang kamu sudah pergi sejak tadi dengan Nando.” Lanjut Leo lagi.


“Leo, ini aku Sinta.”


Leo langsung terdiam begitu mendengar suara istrinya. Pria itu berdecak pelan kemudian mengusap kasar wajah tampannya. Pikiran dan hatinya benar benar sangat tidak tenang sekarang. Leo tidak bisa percaya pada siapapun selain papahnya untuk urusan menjaga adiknya, Jennifer.

__ADS_1


“Ya Tuhan.. Sinta maaf, aku pikir tadi kamu Jennifer. Aku sedang sangat khawatir pada Jennifer sekarang.” Ujar Leo merasa sangat tidak enak hati pada Sinta, istrinya sendiri.


“Tidak apa apa sayang. Aku mengerti. Aku tau kamu sangat menyayangi Jennifer. Tapi lebih baik sekarang kamu kembali ke perusahaan. Aku sudah menunggu di ruangan kamu. Kita makan siang sama sama.”


Leo menghela napas sekali lagi.


“Ya sayang.. Tunggu aku 15 menit.” Balas Leo.


“Ya.. Hati hati.”


Sinta menutup sambungan telepon setelah itu. Sementara Leo, dia bergegas untuk melangkah kembali menuju mobilnya. Leo masuk ke dalam mobilnya dan menghidupkan mesin mobilnya kemudian melaju dari depan gedung universitas tersebut dengan kecepatan diatas rata rata. Leo benar benar tidak bisa membohongi dirinya sendiri sekarang. Meski Leo tau Nando adalah orang baik, namun Leo tetap tidak bisa sepenuhnya mempercayakan Jennifer pada pria itu. Apa lagi Nando juga pernah mengelak saat Leo menanyakan perihal kedekatannya dengan Jennifer. Itu sungguh membuat Leo merasa ada sesuatu yang tidak dia ketahui tentang keduanya. Meskipun memang mereka berdua selalu terlihat romantis di depannya.


Tepat dalam wakti 15 menit Leo sampai di perusahaan yang sekarang di pimpinnya. Beberapa kali dia mendapat sapaan dari para karyawannya namun Leo hanya menjawab dengan anggukan pelan saja.


Ketika Leo membuka pintu ruangannya dan masuk ke dalamnya, Sinta langsung berdiri dari duduknya di sofa. Wanita yang begitu cantik dengan setelan kasualnya itu tersenyum manis menyambut kedatangan suaminya.


Ya, Sinta memang masih bekerja di perusahaan keluarganya setelah menikah. Itu dia lakukan untuk mengusir rasa bosan dan jenuhnya mengingat Sinta yang bukan tipe wanita yang suka bersantai ria tanpa melakukan apapun.


“Sayang maaf aku...”


“Ssshhttt.. Aku tau kamu sangat mengkhawatirkan Jennifer. Dan aku maklum karena kamu adalah seorang kakak yang baik.” Sela Sinta yang tidak ingin membuat suaminya merasa bersalah karena telah membuatnya menunggu.


“Tapi sayang..” Jari telunjuk Sinta yang awalnya menempel di depan bibir tipis Leo perlahan turun dan membelai lembut bahu tegap suami tercintanya.


“Aku sarankan untuk kamu tidak terlalu berlebihan. Jennifer sudah besar. Dia sudah dewasa dan pasti bisa menilai mana yang baik dan buruk. Jennifer pergi dengan Nando itu wajar karena mereka sudah bertunangan. Jangan terlalu mengekang Jennifer karena itu akan berakibat tidak baik nantinya.”


Leo hanya bisa diam dan menelan ludah mendengarnya. Apapun alasannya dirinya tetap tidak bisa percaya pada orang lain untuk menjaga Jennifer.

__ADS_1


__ADS_2