
Sinta menatap suaminya yang terlihat sangat tidak semangat menyantap makan malamnya. Padahal hari ini Sinta sengaja pulang lebih awal agar bisa membuatkan makan malam sepesial untuk Leo, suami yang sangat di cintainya.
“Sayang..” Panggil Sinta pelan.
Namun sepertinya Leo sama sekali tidak mendengar panggilannya. Pria itu terus saja fokus dengan apa yang sedang di pikirannya sekarang.
Sinta menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya. Leo tidak akan tidak fokus jika tidak sedang memikirkan sesuatu.
“Leo, apa masakanku tidak enak?” Kali ini Sinta bertanya dengan suara sedikit tegas juga Nada yang sedikit meninggi yang berhasil membuat Leo langsung tersadar dari semua yang sedang menguasai pikirannya.
“Eh apa? Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Leo balik bertanya dan tampak tidak mengerti dengan yang Sinta pertanyakan.
“Aku tanya apa masakanku tidak enak?” Merasa jengah dengan sikap suaminya, Sinta pun kembali mengulang pertanyaannya dan enggan untuk menjawab pertanyaan Leo.
Leo berdecak. Sinta memang lumayan bawel dan terus menuntut jika sudah sedang ingin tau sesuatu darinya.
“Tidak ada masalah dengan masakan kamu. Masakan kamu enak, bahkan sangat enak.” Jawab Leo yang memang berkata jujur apa adanya. Istrinya adalah wanita multitalent yang bisa melakukan segala hal. Tidak hanya pintar dalam mengelola bisnis keluarga, Sinta juga sangat pandai memasak dan membuat berbagai cemilan.
“Lalu kenapa kamu seperti sangat malas memakannya?” Sinta kembali melontarkan pertanyaan.
__ADS_1
Leo menelan sisa makanan di dalam mulutnya kemudian menghela napas. Jika dirinya jujur pada Sinta bahwa dirinya sedang memikirkan Jennifer dan Nando, Sinta pasti akan sangat marah nanti. Dan bukan tidak mungkin kejujurannya akan menyulut api pertengkaran di antara mereka berdua.
“Maaf sayang. Aku hanya sedang ada masalah dalam pekerjaan.” Leo tidak menyangka mulutnya akan begitu lancar berbicara tentang kebohongan pada istrinya sendiri. Padahal sejak awal prinsipnya dalam menjalin hubungan dengan Sinta adalah selalu berbicara jujur dan apa adanya. Tapi sekarang justru Leo sendiri yang memulai kebohongan itu.
Sinta berdecak. Wanita itu melepaskan garpu yang di pegangnya kemudian tangannya meraih tangan Leo dan mengusapnya lembut. Sinta tau memimpin perusahaan memang bukan pekerjaan yang mudah. Tentu karena Sinta mengalami sendiri bagaimana bingung dan pusingnya saat perusahaan yang di pimpinnya mengalami kendala.
“Aku tau itu. Kamu bisa menceritakannya sama aku. Siapa tau aku bisa membantu kan?” Senyum Sinta menatap Leo dengan penuh pengertian.
Leo terkejut. Apa yang dia katakan bukanlah sesuatu yang sebenarnya. Dan sekarang Leo bingung sendiri harus bagaimana menjawabnya. Karena sebenarnya sedikitpun Leo tidak mendapati masalah apapun selama memimpin perusahaan yang papahnya pasrahkan padanya. Tentu saja karena Leo bukan orang bodoh. Disamping itu pengalaman Leo juga luas.
“Sebenarnya itu bukan hal yang penting. Hanya beberapa sikap karyawan saja yang membuat aku sedikit terpikirkan. Yah.. Ada yang kadang tidak sopan.” Sekali lagi mulut Leo dengan lancarnya berbohong pada Sinta. Dan Leo sangat mengutuk dirinya sendiri karena kebohongan yang dia ucapkan itu.
Sinta mengeryit. Wanita itu sedikit bingung. Apa yang Leo katakan benar benar aneh menurutnya. Bagaimana mungkin seorang CEO merasa pusing memikirkan sikap karyawannya. Sedang biasanya yang Sinta alami adalah banyak para karyawan yang sengaja menarik perhatian dan simpati seorang bos dengan bersikap ramah dan baik.
Leo tersenyum kikuk. Sinta pasti menganggap dirinya sangat bodoh sekarang. Bagaimana mungkin seorang yang pintar dan cerdas seperti Leo malah uring uringan memikirkan sikap bawahannya yang menurutnya tidak baik.
“Ah iya sayang.. Aku memang tidak seharusnya memikirkan itu.”
Sinta menghela napas. Entah kenapa Sinta merasa Leo sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
__ADS_1
“Leo.. Kamu tau kan aku paling tidak suka di bohongi?”
“E.. Hem.. Ya sayang aku tau itu. Maka dari itu meskipun apa yang sedang aku pikirkan itu terdengar sangat konyol aku tetap menceritakan sama kamu. Aku tidak mau berbohong sedikitpun dan tentang apapun sama kamu.”
Sinta kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sekarang Sinta percaya, suaminya jujur. Leo tidak sedang membohonginya.
“Baiklah.. Lebih baik sekarang kamu habiskan makanannya. Aku tau kamu pasti lelah seharian bekerja bukan?”
Leo ikut tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Pria itu merasa sangat lega sekarang karena Sinta percaya dengan apa yang di katakannya.
“Bagus Leo.. Kamu harus menutupi apa yang hampir saja kamu lakukan pada Nando tadi siang.” Batin Leo sambil kembali menyantap makanannya.
Mereka berdua akhirnya mengobrol ringan sambil menghabiskan makanan mereka di meja makan. Dan tanpa sadar beberapa kali Leo melontarkan kebohongan yang tidak pernah dia lontarkan sebelumnya. Leo sudah melampaui batas kesepakatan mereka untuk selalu berkata jujur sejak awal mereka berdua sepakat untuk menjalin suatu hubungan. Leo juga tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada hubungannya jika sampai Sinta tau dirinya mengatakan sesuatu yang tidak benar adanya.
Setelah menghabiskan makanannya, mereka pun dengan kompak membereskan meja makan. Ya, Sinta memang menghentikan sementara asisten rumah tangga yang di carikan oleh tuan Ardiansyah. Dia bahkan memindahkan asisten tersebut di perusahaan yang di pimpinnya sebagai office girl. Itu karena Sinta hanya ingin berdua bersama dengan Leo dalam melakukan hal apapun dirumah itu. Sinta juga ingin bebas melakukan apa saja di rumahnya bersama Leo tanpa khawatir apa lagi merasa canggung karena akan ada yang melihat.
“Bagaimana kalau kita nonton dulu, setelah itu baru kita istirahat?” Tanya Sinta setelah selesai mencuci piring kotor bekas mereka makan malam.
Leo yang masih aktif menata piring yang sudah di cuci oleh Sinta di alat pengeringan menoleh kemudian mengeryit. Pria itu menatap istrinya dengan tatapan tampak sedang berpikir.
__ADS_1
“Ayolah sayang.. Seharian ini kita tidak bersama loh.. Kita bahkan tadi siang tidak bisa makan bersama karena sama sama padat jadwalnya. Masa iya kamu nggak mau bersantai barang sejenak sama aku sebelum tidur kemudian besoknya kembali dengan rutinitas di kantor yang begitu padat dan menyita waktu untuk kita berdua.” Sinta mencari alasan dengan nada merengek karena tidak ingin melewatkan waktu berdua dengan suaminya. Karena bagaimana pun juga menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik adalah keinginan terbesarnya. Sinta bahkan sudah punya rencana jika nanti dirinya hamil, Sinta akan berhenti bekerja dan akan fokus saja dirumah untuk menjaga buah hati mereka.
Leo tersenyum geli mendengar istrinya merengek. Padahal tanpa Sinta harus merengek pun Leo pasti akan setuju dengan sarannya karena Leo sendiri juga belum merasakan kantuk menyerangnya. Leo juga merasa membutuhkan hiburan untuk menjernihkan pikirannya.