
Setelah perdebatan dengan papahnya, Leo pergi tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya. Pria itu benar benar merasa sangat marah karena papahnya lebih mendukung dan membela Nando dari pada dirinya yang adalah putranya sendiri. Apa lagi papahnya juga mengecapnya sebagai pria yang tidak bisa menjaga kehormatan perempuan hanya karena Leo pernah tinggal satu atap dengan Sinta di amerika. Hal itu benar benar tidak bisa Leo terima begitu saja.
“Brengsek !!” Umpat Leo memukul stir mobilnya.
Pria itu merasa sangat marah juga kecewa pada papahnya yang tidak sedikitpun mau mempertimbangkan alasan ketidak sukaannya pada Nando. Terlebih lagi Leo merasa alasannya sangat masuk akal karena di awal dirinya menanyakan hubungannya dengan Jennifer, Nando malah acuh tak acuh.
“Aku nggak akan biarin Jennifer benar benar menikah dengan Nando. Aku nggak mau adikku menderita pada akhirnya. Aku akan lakuin segala hal untuk membuat Jennifer pisah dengan Nando.. Yah.. Apapun caranya.” Gumam Leo penuh tekad.
Pria itu menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar. Ketika Leo hendak mempercepat laju mobil yang di kendarainya, tiba tiba ponsel yang ada di saku dalam jas hitamnya berdering.
Leo berdecak. Deringan ponsel itu semakin membuat emosinya memuncak karena Leo merasa terganggu. Namun Leo juga tidak mau mengabaikan telepon tersebut karena berpikir siapa tau telepon tersebut dari rekan sesama bisnisnya yang memang siang ini ada janji temu dengannya guna membahas tentang kerja sama yang sedang berlangsung antar perusahaan mereka.
Leo menghentikan laju mobilnya di tepi jalan yang cukup sepi. Pria itu kemudian merogoh saku dalam jasnya. Sekali lagi Leo berdecak. Sinta ternyata yang meneleponnya.
Sebenarnya Leo malas mengangkat telepon dari istrinya itu karena sedang dalam keadaan hati yang tidak baik. Leo tidak ingin berdebat dengan istrinya yang pasti akan memicu pertengkaran. Namun jika Leo mengabaikan, itu juga tidak akan baik pada akhirnya.
“Huft.. Oke, tetap tenang Leo. Jangan membuat istri kamu curiga.” Gumam Leo sebelum akhirnya mengangkat telepon dari Sinta. Istri tercintanya.
“Halo sayang...” Leo berusaha melembutkan suaranya begitu mengangkat telepon dari Sinta. Pria itu tidak ingin jika sampai istrinya tau dirinya baru saja berdebat dengan papahnya pagi ini.
“Leo, kamu dimana? Kemana pergi tidak pamit dulu?”
__ADS_1
Leo memejamkan kedua mata dan mengusap kasar wajah tampannya. Leo memang pergi dari rumah saat Sinta masih terlelap damai dalam tidurnya.
“Kenapa tidak membangunkan aku?” Todong Sinta lagi bertanya.
“Ah ya sayang.. Aku minta maaf karena pergi tanpa pamit sama kamu. Aku ada rapat penting pagi ini. Dan yah.. Aku tidak tega membangunkan kamu karena kamu yang tampak masih sangat terlelap tadi sayang.. Aku benar benar minta maaf.”
Sinta menghela napas kesal dari seberang telepon. Wanita itu merasa sangat marah sebenarnya karena begitu bangun Leo sudah tidak ada lagi di sampingnya. Di tambah Leo yang pergi tanpa pamit dan sama sekali tidak membangunkannya lebih dulu.
“Aku benar benar malas jika harus sarapan sendiri.” Dumel Sinta yang bisa dengan jelas Leo dengar.
“Oh sayangku.. Aku akan menjemput kamu siang nanti. Kita makan siang ke restoran favorit kamu. Jadi untuk sekarang kamu sarapan sendiri dulu. Ingat untuk selalu menjaga kesehatan kamu. Oke?” Rayu Leo yang tidak mau jika sampai mood istrinya jelek. Itu tentu akan membuat hubungannya dan Sinta tidak baik baik saja.
“Baik, aku akan menunggu kamu di jam makan siang di kantor. Ingat untuk tidak telat menjemput.”
Setelah Leo menjawab, Sinta pun mengakhiri sambungan teleponnya.
Leo menghela napas merasa lega karena bisa dengan mudah merayu istrinya supaya tidak marah. Pria itu kemudian kembali melajukan mobilnya berlalu dari jalanan yang tidak terlalu ramai itu sambil terus memutar otak memikirkan bagaimana caranya memisahkan Jennifer dan Nando. Karena Leo merasa sangat tidak suka pada Nando. Leo juga enggan jika harus mempunyai adik ipar seperti Nando yang sudah membuat Jennifer seakan menjauh darinya.
“Lihat saja Nando. Aku akan membuat Jennifer membenci kamu.” Senyum sinis Leo sambil mempercepat laju mobilnya.
Tidak lama kemudian Leo sampai di perusahaan yang di pimpinnya. Namun pria itu benar benar tidak bisa fokus dengan pekerjaannya karena terus memikirkan bagaimana cara membuat hubungan Jennifer dan Nando renggang.
__ADS_1
“Ellen..” Gumam Leo tiba tiba. Entah kenapa Leo tiba tiba terpikirkan dengan sosok wanita yang pernah sangat mengejar ngejarnya itu. Sosok yang juga sempat Leo benci karena selalu mengganggunya namun kemudian Leo jadikan teman karena Ellen selalu mau menuruti keinginannya.
“Yah.. Ellen.. Aku harap dia masih tinggal di apartemen yang sama.” Senyum Leo penuh arti.
Setelah merasa yakin akan bisa membuat hubungan Jennifer dan Nando renggang dengan meminta tolong pada wanita bernama Ellen itu, Leo pun baru bisa fokus dengan pekerjaannya. Tentu setelah ada rancangan rencana di kepalanya untuk Jennifer dan Nando.
Siangnya, Leo benar benar menepati janjinya. Pria itu menjemput Sinta di perusahaan yang di pimpin Sinta bahkan sebelum waktu makan siang tiba. Leo benar benar tidak ingin membuat istri tercintanya menunggu dirinya.
Begitu waktu makan siang tiba, Leo mengajak Sinta ke restoran yang memang sangat di gemari oleh istrinya itu.
“Ah ya sayang, mungkin malam nanti aku nggak bisa makan malam dirumah yah.. Aku ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini juga. Jadi ya.. Mungkin aku akan pulang sedikit terlambat.”
Sinta berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya begitu mendengar apa yang Leo katakan. Wanita itu menghela napas kemudian melepaskan garpu dan sendok yang di pegangnya.
“Memangnya nggak bisa kamu bawa pekerjaan itu pulang kerumah seperti biasanya? Bukannya kita sudah sepakat untuk tidak selalu menomor satukan pekerjaan? Bukannya kamu juga bilang waktu berdua kita adalah waktu yang sangat berharga dan nggak akan bisa di gantikan dengan apapun sekalipun itu tentang pekerjaan? Apa kamu lupa itu Leo?”
Leo menghela napas pelan. Pria itu kemudian tersenyum tipis dan meraih tangan Sinta yang kemudian langsung di lepaskan oleh Sinta. Sinta menolak di sentuh olehnya.
“Hanya malam ini saja sayang.. Aku nggak bisa mengerjakannya dirumah karena aku juga harus segera memberitahu rekan bisnis aku.. Aku mohon kamu mengerti yah.. Aku janji, hanya kali ini saja. Tidak akan ada hari hari aku pulang telat lagi selain malam ini.” Ujar Leo dengan sangat lembut berusaha memberi pengertian pada Sinta yang marah dan tidak mau Leo sampai mengabaikannya.
“Hanya kali ini saja? Apa kamu serius?” Tanya Sinta kemudian.
__ADS_1
“I'm promise.” Senyum Leo yang akhirnya membuat Sinta luluh padanya.