Forbidden Love

Forbidden Love
Lupa waktu


__ADS_3

Jennifer turun dari mobil Mutia tepat di depan gerbang kediaman keluarganya. Dengan senyum lebar, gadis itu melambaikan tangan ketika Mutia kembali melajukan mobilnya berniat untuk pulang kerumah setelah mengantar Jennifer sampai tujuan dengan selamat. Seharian ini mereka benar benar banyak bertukar cerita. Meski sebagian besar sebenarnya mereka menceritakan tentang Nando dan Jennifer yang akhirnya memutuskan untuk bersama.


Setelah mobil Mutia berlalu menjauh darinya, Jennifer pun memanggil pak satpam yang kemudian dengan sigap membukakan pintu gerbang untuk Jennifer.


“Selamat malam non..” Sapa pak satpam dengan sopan pada Jennifer.


“Malam pak..” Senyum Jennifer menjawab dengan ramah.


“Baru pulang non?” Tanya pak satpam sambil membuka lebar pintu gerbang untuk Jennifer masuk.


“Iya nih pak.. Makasih ya pak.. Kalau begitu saya masuk dulu.”


“Oh iya non, silahkan.”


Jennifer kemudian melangkah melewati halaman luas kediaman kedua orang tuanya. Gadis itu merasa waktu hari ini begitu sangat singkat. Mungkin karena dirinya yang terlalu asik dengan Mutia dan Lala siang tadi.


Jennifer melangkah masuk ke dalam rumah dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Gadis itu benar benar merasa senang karena akhirnya bisa kembali berkumpul dengan dua sahabatnya.


“Kamu baru pulang?” Tanya tuan Ardiansyah yang duduk di sofa ruang tengah.


Langkah Jennifer berhenti ketika mendengar suara sang papah. Senyumannya semakin lebar saat Jennifer mendapati sang papah yang sedang membaca buku tebal di tangannya.


“Eh papah.. Iya ni pah.. Jennifer sebenarnya sudah pulang dari tadi sore.. Tapi gara gara keasikan ngobrol sama Mutia dan Lala, Jennifer jadi lupa waktu.” Jawab gadis itu sambil mendekat pada tuan Ardiansyah kemudian duduk tepat disamping papahnya itu.


“Memangnya Lala sudah pulang?” Tanya tuan Ardiansyah lagi yang memang tau tentang Lala dan Azka yang berbulan masu keluar negeri.


“Sudah pah.. Semalam katanya dia sampai di jakarta.”


Tuan Ardiansyah mengangguk anggukkan kepalanya mengerti.

__ADS_1


“Lalu kamu sudah makan?”


“Sudah kok pah.. Tadi makan diluar sama Mutia dan Lala juga. Jennifer bener bener kangen banget ngobrol ini itu sama mereka berdua pah. Makannya hari ini Jennifer menghabiskan waktu sama mereka berdua.” Jawab Jennifer yang kemudian menceritakan aktivitasnya hari ini dengan Lala dan Mutia.


“Jadi hari ini kamu nggak pergi sama Nando?”


Pertanyaan tuan Ardiansyah kali ini berhasil membuat senyuman di bibir Jennifer pudar seketika.


“Nando?” Tanya Jennifer membeo.


“Iya.. Biasanya kan kalian berdua sangat lengket dan seperti tidak rela berpisah barang sedetikpun.” Jawab tuan Ardiansyah tersenyum meledek.


Detik itu juga Jennifer mengingat sesuatu. Karena terlalu asik dengan dua sahabatnya, Jennifer sampai lupa memberi kabar pada Nando. Apa lagi tadi siang Jennifer juga sudah mengatakan akan mengajak Nando makan malam bersama di rumahnya.


“Ya ampun.. Kan aku jadi lupa..” Jennifer berdecak merasa nelangsa sendiri. Nando pasti marah padanya sekarang.


“Kenapa dek?” Tanya tuan Ardiansyah merasa bingung juga penasaran dengan ekspresi dan respon Jennifer karena di singgung tentang Nando.


Tanpa menunggu jawaban dari papahnya, Jennifer pun buru buru bangkit dari duduknya kemudian melangkah cepat berlalu dari ruang tengah meninggalkan papahnya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri bungsu kesayangannya itu.


Sedang Jennifer, gadis itu sedikit berlari saat menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Dan begitu sampai di kamarnya, Jennifer segera merogoh tas selempangnya mengeluarkan ponsel miliknya lalu mencoba menghubungi Nando.


Jennifer benar benar lupa waktu kali ini karena keasyikan mengobrol tentang banyak hal dengan Lala dan Mutia. Dan Jennifer merasa sangat bersalah pada Nando. Apa lagi tadi siang Nando juga sudah menjemputnya namun dengan halus Jennifer menolak yang di sertai alasan yang bisa dengan mudah di terima oleh Nando.


“Loh, kok nggak diangkat sih? Apa dia masih kerja? Dia belum pulang?” Jennifer bertanya tanya sendiri karena Nando tidak mengangkat telepon darinya. Namun gadis itu tidak menyerah dan terus mencoba menghubungi Nando. Jennifer tidak mau jika sampai Nando salah paham dan menganggap dirinya tidak perduli padanya.


Merasa tidak tenang, Jennifer pun langsung mencari kunci mobilnya. Setelah menemukannya, Jennifer pun buru buru kembali keluar dari kamarnya. Jennifer berniat mendatangi Nando secara langsung ke rumahnya. Jennifer akan meminta maaf karena sudah lupa waktu sampai melupakan apa yang Jennifer katakan sendiri pada Nando tadi siang bahwa mereka berdua akan malam bersama malam ini.


“Loh dek, mau kemana lagi?”

__ADS_1


Jennifer menoleh pada papahnya yang masih duduk di tempatnya semula dengan buku tebal yang juga masih berada di tangannya.


“Pah, aku harus pergi sekarang. Aku mau kerumah Nando sebentar. Nggak papa kan? Bolehkan pah?”


Tuan Ardiansyah terdiam menatap wajah putrinya yang terlihat sangat panik sekarang. Hari sudah malam dan seharusnya Jennifer istirahat bukan malah pergi setelah berada diluar seharian ini. Tapi melihat ekspresi putrinya tuan Ardiansyah tidak sampai hati untuk melarang. Apa lagi jika alasannya adalah ingin pergi kerumah Nando.


“Ini sudah malam dek.. Harusnya kamu istirahat, bukan malah pergi lagi..” Ujar tuan Ardiansyah berusaha selembut mungkin berbicara pada Jennifer.


“Pah.. Hanya sebentar. Jennifer janji nggak akan lama dan akan langsung pulang setelah ketemu sama Nando. Please pah.. Ini penting banget..” Jennifer merengek berharap mendapat izin dari sang papah.


Tuan Ardiansyah menghela napas sekali lagi merasa tidak tega jika harus melarang putrinya. Apa lagi melihat Jennifer yang terlihat sangat terburu buru sekarang.


“Apa perlu papah antar?” Tanya tuan Ardiansyah kemudian.


Jennifer menggelengkan kepalanya cepat.


“Enggak, nggak usah pah. Jennifer sendiri aja nggak papa. Yang penting papah ngizinin.” Jawabnya.


Tuan Ardiansyah tersenyum. Pria itu yakin putrinya sedang tidak berbohong dan benar benar ingin menemui Nando, tunangannya.


“Papah akan izinkan dengan satu syarat.” Ujar tuan Ardiansyah lembut namun juga tegas.


“Syarat apa pah?” Tanya Jennifer penasaran juga bingung.


“Kamu harus pulang dengan Nando nanti. Dan sebelum jam 11 tepat, kamu harus sudah sampai dirumah lagi.”


Tanpa berpikir sedetikpun Jennifer langsung menganggukkan kepalanya setuju dengan syarat yang di ajukan oleh papahnya.


“Iya pah.. Jennifer hanya sebentar. Jennifer janji.” Senyum Jennifer yakin.

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari sang papah, Jennifer pun bergegas. Gadis itu mempercepat langkahnya keluar dari kediaman kedua orang tuanya. Begitu sampai di samping mobil yang di belikan oleh papahnya, Jennifer pun masuk dan langsung menghidupkan mesin kemudian melaju dengan kecepatan sedang berlalu dari pekarangan luas kediaman kedua orang tuanya.


Sementara tuan Ardiansyah, Pria itu hanya bisa menghela napas dan tertawa geli dengan tingkah putrinya. Tuan Ardiansyah percaya putrinya tidak mungkin macam macam dengan Nando. Putrinya adalah gadis baik baik yang tau batasan dalam bergaul dengan lawan jenisnya.


__ADS_2