Forbidden Love

Forbidden Love
Kunjungan Leo dan Sinta


__ADS_3

Setelah yakin dengan keputusan untuk menjalani hubungan yang lebih serius, Jennifer dan Nando pun kompak memberitahu kedua orang tua mereka masing masing. Dan apa yang mereka beritahukan membuat kedua orang tua mereka merasa sangat bahagia.


Di tempat lain tepatnya di kediaman Leo dan Sinta. Mereka berdua baru saja bangun pagi ini. Kebetulan hari ini adalah hari libur sehingga mereka berdua akhirnya memutuskan untuk mengunjungi tuan dan nyonya Ardiansyah. Mereka bahkan mempersiapkan banyak bawaan sampai tidak lupa juga membawakan cemilan kesukaan Jennifer, yaitu bakso goreng.


Kedatangan mereka berdua disambut dengan hangat dan penuh kegembiraan oleh tuan dan nyonya Ardiansyah.


“Ya ampun kenapa nggak kasih tau dulu sih mau kesini. Jadi kan mamah nggak sempat nyiapin apa apa buat kalian berdua.” Ujar nyonya Ardiansyah.


Leo dan Sinta tersenyum mendengarnya. Mereka berdua memang sengaja datang diam diam untuk memberikan kejutan pada tuan dan nyonya Ardiansyah.


“Nggak papa mah, nggak usah repot repot. Kami berdua memang sengaja kesini nggak kasih tau mamah sama papah dulu supaya mamah nggak repot nyiapin ini itu.. Kan yang anaknya kita berdua. Harusnya kita yang nyiapin buat mamah sama papah. Bukan malah sebaliknya.” Ujar Sinta dengan bijak.


Tuan dan nyonya Ardiansyah tertawa mendengarnya. Mereka berdua saling menatap satu sama lain kemudian mengangguk dengan kompak.


“Leo, kamu memang nggak salah memilih Sinta sebagai istri kamu. Nggak cuma cantik dan pintar. Sinta juga sangat baik dan pengertian.” Puji nyonya Ardiansyah.


“Iya dong mah.. Makannya Leo cinta banget sama Sinta. Dia ini benar benar sangat luar biasa.” Tambah Leo ikut memuji dengan penuh percaya diri.


Sinta yang di puji seperti itu tertawa pelan. Wanita itu merasa melayang karena pujian yang di lontarkan oleh mamah mertua juga suami tercintanya.


“Kalian terlalu berlebihan dalam memuji. Jangan sampai aku terbang jauh ke angkasa sana.”


Mendengar itu mereka semua tertawa. Obrolan terus berlanjut hingga akhirnya tiba waktunya makan siang.

__ADS_1


Sinta dan nyonya Ardiansyah pun segera membuat makan siang dan menghidangkannya di atas meja makan dengan bantuan dari bibi.


“Nak, lebih baik sekarang kamu panggil papah dan suami kamu. Ini biar mamah sama bibi yang menyelesaikan.” Senyum nyonya Ardiansyah berkata pada Sinta.


“Hem baik mah..” Angguk Sinta menurut saja.


Sinta kemudian melangkah menjauh dari meja makan menuju ruang keluarga dimana Leo dan papah mertuanya sedang mengobrol.


“Makan siang sudah siap..” Ujar Sinta muncul dari pintu yang terbuka lebar.


Suara lembut dan ceria Sinta berhasil menarik perhatian Leo dan papahnya. Mereka berdua kemudian tersenyum dan segera bangkit dari duduknya untuk makan siang bersama di meja makan.


“Mah, pah, Jennifer kemana? Kok sejak tadi nggak keliatan? Apa dia di kamarnya? Biar aku panggilin yah, biar sama sama makan siang.” Ujar Sinta begitu mereka sudah berkumpul dan duduk di masing masing kursi di meja makan.


Mendengar apa yang papahnya katakan, diam diam Leo mengepalkan tangannya. Pria itu merasa sangat kesal begitu tau Jennifer sedang pergi dengan Nando sekarang.


“Begitu yah.. Mereka sepertinya sangat lengket yah..” Sinta berkata sambil melirik Leo diam diam. Sinta ingin memastikan sendiri bagaimana ekspresi suaminya begitu mendengar tentang keserasian Jennifer dan Nando, tunangannya.


Sementara Leo yang enggan untuk ikut ke dalam obrolan tentang Jennifer dan Nando, hanya diam saja dan berusaha bersikap biasa saja. Meski sebenarnya dia sangat kesal sekarang. Namun Leo berusaha menahannya dan tidak memperlihatkan kekesalannya pada istrinya, Sinta.


“Yah.. Mereka berdua bahkan juga sudah mempunyai rencana untuk hubungan mereka yang lebih serius..” Tambah tuan Ardiansyah dengan sangat bangga. Pria itu memang sangat percaya pada Nando dan yakin bahwa Nando memang calon suami yang baik untuk putri bungsu kesayangannya.


“Maksudnya pernikahan?” Tanya Sinta yang pura pura terkejut mendengar apa yang papah mertuanya katakan.

__ADS_1


“Iya.. Karena sejatinya memang tujuan pasangan kekasih sepakat bersama itu ya untuk menuju hubungan pernikahan. Seperti kalian berdua dulu. Bukan begitu Leo?” Kali ini tuan Ardiansyah meminta persetujuan putranya yang sejak tadi diam saja dan berusaha menahan diri untuk mengatakan sesuatu yang sangat ingin dia katakan. Yaitu bantahan untuk hubungan Jennifer dan Nando.


“Ah iya.. Iya pah. Tapi menurut aku Jennifer itu masih terlalu muda untuk menikah. Apa lagi dia juga masih kuliah.” Senyum Leo dengan pelan mengisyaratkan rasa keberatannya dengan rencana Jennifer dan Nando untuk menuju ke pelaminan.


“Itu dia... Pemikiran kamu benar benar searah dengan adik kamu Leo.”


Leo tersenyum merasa bangga saat nyonya Ardiansyah mengatakan itu. Harapan kandasnya hubungan Nando dan Jennifer kembali mencuat di benak Leo. Ya, Leo memang tidak setuju dengan hubungan mereka berdua.


“Dan karena adik kamu adalah perempuan yang cerdas. Jadi dia meminta untuk Nando lebih sabar sampai dia selesai kuliah. Setelah itu baru mereka berdua menikah. Benar benar keputusan yang sangat bijak. Dan hebatnya lagi Nando dengan sangat pengertian mau mengerti.” Tambah nyonya Ardiansyah.


Senyuman bangga di bibir Leo seketika memudar. Padahal Leo pikir mamahnya akan berpikir ulang untuk menyetujui rencana pernikahan mereka. Tapi ternyata mamahnya juga menyetujuinya bahkan dengan penuh rasa bangga begitu percaya pada Nando.


Obrolan terus berlanjut sampai mereka selesai makan siang. Setelah itu mereka pun kembali bersantai bersama, namun kali ini bukan di ruang tengah, melainkan di taman belakang rumah.


Leo dan tuan Ardiansyah duduk bersama di kursi panjang sembari menikmati cemilan dan secangkir teh hangat. Sedangkan Sinta dan nyonya Ardiansyah, mereka sedang memetik bunga yang bermekaran untuk hiasan ruangan di dalam rumah.


“Pah.. Jujur aku keberatan dengan hubungan Jennifer dan Nando. Aku merasa Jennifer masih terlalu muda untuk menikah. Apa lagi Nando dan Jennifer juga baru sebentar bersama kan? Aku nggak mau kalau sampai Jennifer menderita nantinya pah.” Ujar Leo berusaha menjelaskan rasa tidak setujunya dengan hubungan Nando dan Jennifer.


Tuan Ardiansyah yang mendengar itu tertawa. Pria itu tau Leo sedang mengkhawatirkan adik satu satunya itu. Namun menurut tuan Ardiansyah ke khawatiran Leo terlalu berlebihan.


“Kamu tenang saja Leo. Papah tau kamu sangat menyayangi adik kamu dan enggak ingin adik kamu terluka sedikitpun. Tapi papah rasa ke khawatiran kamu itu terlalu berlebihan. Papah tau siapa dan bagaimana Nando. Dan papah percaya Nando bisa menjaga Jennifer dengan baik. Lebih baik kamu do'akan saja yang terbaik untuk Jennifer.” Senyum tuan Ardiansyah dengan santai sembari menepuk nepuk pelan bahu putra sulungnya itu.


Leo melengos kesal. Bahkan Nando sudah berhasil mempengaruhi pikiran kedua orang tuanya, begitu pemikiran Leo tentang Nando sekarang.

__ADS_1


__ADS_2