
Menjelang sore Nando baru memulangkan Jennifer. Tentunya setelah mereka berdua menghabiskan waktu bersama di hari libur ini.
“Makasih untuk hari ini Nando..” Senyum Jennifer begitu mobil Nando sampai di depan teras rumah kedua orang tuanya tepatnya di samping mobil kakaknya, Leo.
“Enggak. Seharusnya aku yang bilang terimakasih sama kamu sayang.. Terimakasih karena sudah menemaniku di hari libur ini.” Nando menggeleng menolak kata terimakasih dari Jennifer dan justru balik berterimakasih pada gadis pujaan hatinya itu.
Jennifer tertawa. Jennifer tidak merasa melakukan apa apa dan tidak seharusnya mendapatkan kata terimakasih. Tapi menolak kata terimakasih dari tunangannya juga pasti akan berbuntut panjang.
“Baiklah, terserah kamu saja.” Pasrah Jennifer.
Nando tertawa. Pria itu kemudian mendekatkan dirinya pada Jennifer membuat Jennifer mendadak merasa gugup. Meski memang bersentuhan dengan Nando sudah bukan lagi hal asing, namun setiap pria itu mulai mendekat, Jennifer tetap saja merasa gugup.
“Sebelum turun, bisa kamu berikan aku satu ciuman dulu sayang?” Tanya Nando dengan suara pelan seperti bisikan.
Jennifer menelan ludah. Saat ini mereka berdua sedang berada di teras depan rumah kedua orang tuanya. Dan Jennifer tidak mungkin berani mencium Nando. Tentu karena Jennifer takut kedua orang tuanya melihatnya yang pasti akan membuat mereka murka dan sangat marah. Karena bagaimanapun juga berciuman bukan suatu yang harus dilakukan mengingat mereka masih berstatus tunangan.
“Jangan gila Nando. Ini di depan rumah. Apa kamu mau mendapat pukulan dari papahku?”
Nando tersenyum geli. Yang Nando maksud satu ciuman bukanlah ciuman di bibir yang akan berakhir menjadi ciuman panas dan basah. Tapi hanya satu ciuman singkat di pipi saja sebelum Jennifer turun dari mobilnya.
“Ayolah sayang.. Aku juga tidak bodoh. Aku juga tidak mungkin mau berciuman di tempat yang sangat tidak tepat seperti sekarang. Hanya satu ciuman di pipi. Apa itu juga akan membuat om marah?”
Mendengar itu kedua pipi Jennifer langsung memerah. Jennifer merasa malu sendiri karena berpikir terlalu panjang dan mengira Nando meminta ciuman seperti apa yang biasa Nando mulai padanya.
“Kalau untuk ciuman itu aku juga merasa tidak akan puas kalau melakukannya di depan rumah sayang. Bagaimana kalau nanti malam saja? Aku akan masuk diam diam dan naik ke balkon kamar kamu?” Goda Nando yang membuat wajah Jennifer semakin memerah seperti udang rebus.
__ADS_1
“Iiihh.. Kamu apaan sih ngomongnya. Nggak lucu tau. Udah ah aku mau turun..” Enggan terus di goda oleh Nando, Jennifer pun segera melepas seatbelt nya. Namun saat Jennifer hendak meraih pintu mobil untuk turun, Nando langsung mencegahnya dengan menggenggam erat tangan Jennifer. Hal itu membuat Jennifer mau tidak mau harus kembali menatap Nando.
“Nando kamu..”
“Satu kecupan di pipi kanan. Aku janji tidak akan merembet kemana mana sayang.” Sela Nando dengan nada merengek.
Mendengar nada rengekan dari calon suaminya, Jennifer pun mau tidak mau melakukannya. Gadis itu mencium pipi Nando singkat sebelum akhirnya melepas genggaman tangan Nando yang mengendur kemudian turun dengan gerakan cepat dari mobil Nando.
Nando yang mendapat apa yang dia mau tersenyum. Pria itu kemudian ikut turun dari mobilnya menyusul Jennifer yang sudah lebih dulu berlari masuk kedalam rumah kedua orang tuanya. Nando berniat berpamitan pada kedua orang tua Jennifer, calon mertuanya.
Namun baru sampai di depan pintu utama kediaman keluarga Ardiansyah, langkah Nando sudah di cegat oleh Leo yang menatapnya dengan pandangan tidak suka.
“Leo..” Gumam Nando pelan.
“Mau ngapain kamu? Kamu pikir karena kamu adalah tunangan adikku kamu bisa seenaknya keluar masuk ke dalam rumah kedua orang tuaku begitu? Apa kamu pikir kamu punya kuasa disini?”
“Hey, apa maksud kamu apa ngomong begitu? Aku mau masuk karena aku mau pamit sama om dan tante. Memang apa salahnya?” Nando menggeleng menatap aneh pada Leo yang sepertinya malah terpancing emosi.
“Dengar tuan muda Arseno yang super kaya raya, keluarga saya tidak pernah merasa bangga secuilpun dengan hubungan kamu dan adik saya Jennifer. Justru sebaliknya, saya merasa sangat keberatan dengan kedekatan kamu dan adik saya.” Leo berkata dengan penuh penekanan pada Nando yang malah tertawa menanggapinya.
“Ya Tuhan.. Tolong berhenti bercanda Leo. Aku sedang buru buru sekarang. Aku hanya ingin berpamitan pada om dan tante. Jadi tolong kamu sedikit menyingkir dan beri aku jalan untuk masuk ke dalam.” Nando berusaha tetap santai meski Leo terus saja mencoba menggugah emosinya. Nando tau meladeni Leo hanya akan membuang buang waktu.
“Jangan harap kamu bisa masuk ke dalam rumah kedua orang tuaku. Lagian tidak penting kamu pamit atau enggak. Lebih baik sekarang kamu pergi atau aku akan memberi kamu pelajaran.”
“Apa apaan kamu Leo?!”
__ADS_1
Suara tegas tuan Ardiansyah dari arah belakang Leo membuat Leo terkejut. Sedetik kemudian pria itu berdecak. Leo tidak menyangka papahnya akan keluar.
Sedangkan Nando, pria itu justru tersenyum miring menatap Leo. Nando merasa geli karena tingkah ke kanak kanak kan calon kakak iparnya terdengar sendiri secara langsung oleh tuan Ardiansyah, calon papah mertuanya.
“Om.. Kami hanya sedang bercanda saja. Leo ini benar benar kakak yang sangat perhatian pada Jennifer. Ah ya om.. Nando pamit langsung pulang yah..”
Nando melewati Leo begitu saja. Pria itu menghampiri tuan Ardiansyah kemudian menyaliminya dengan sopan.
“Loh kenapa buru buru sekali? Memangnya kamu nggak pengin bersantai dulu sama om disini? Kita ngeteh dulu..” Ujar tuan Ardiansyah berusaha terlihat tetap ramah meskipun sebenarnya sedang menahan amarah dan emosinya karena tingkah tidak sopan Leo pada Nando.
“Nando sebenarnya sangat ingin om.. Tapi yah.. ada pekerjaan yang harus segera Nando tangani sore ini..” Balas Nando tersenyum lebar.
“Ya Tuhan.. Ini hari libur dan kamu masih memikirkan pekerjaan. Jangan sampai nanti Jennifer cemburu mempunyai suami yang gila kerja seperti kamu ini.” Canda tuan Ardiansyah.
Nando tertawa renyah mendengar itu.
“Om tenang saja, Nando akan pastikan Jennifer akan menjadi perempuan yang paling bahagia di masa depan.”
“Yah.. Om percaya itu. Ya sudah kamu hati hati di jalan. Jangan lupakan waktu istirahat kamu hanya karena sibuk dengan pekerjaan.”
“Ya om.. Nando pulang.”
Setelah berpamitan dan mengobrol disertai candaan sebentar, Nando pun berlalu dari kediaman keluarga Ardiansyah dengan mobil mewahnya. Sementara Leo, pria itu masih berdiri di tempatnya dengan perasaan muak.
“Papah mendengar semua yang kamu katakan pada Nando, Leo.”
__ADS_1
Leo berdecak. Papahnya pasti akan menyalahkannya.
“Jangan mengetes kesabaran papah. Jaga sikap kamu kalau kamu memang menyayangi adik kamu.” Tegas tuan Ardiansyah memperingati Leo.