FWB (Friends With Benefit)

FWB (Friends With Benefit)
Ide ekstrim


__ADS_3


...🖤🖤...


Lynne mendengus, tangannya mencubit lengan Jason dan membuat kekasihnya itu meringis kesakitan. "Gak usah sok-sokan deh bantuin El cari pengganti, kamu pikir El lihat laki-laki dari wajahnya? mau setampan apapun kalau El tidak ada rasa ya tidak mempan."


Elenora mengacungkan jari jempolnya, mendukung kalimat dukungan dari Lynne.


Ivano yang sedari tadi hanya mengangguk dan tertawa tiba-tiba mengeluarkan kalimat penengah sebagai orang dewasa. "Sudah, jangan dipojokkan Elenoranya,"


Elenora mengerucutkan bibir menatap Ivano yang ikut membelanya.


"Begini saja Elenora," dengan antusias semua menatap kekasih Movie itu. "Bagaimana kalau aku kenalkan dengan teman sekantor??"


Lagi. Semua kembali tertawa. Kekasih Movie hanya menatap kebingungan karena semua tertawa kecuali dirinya dan Elenora. "Loh kenapa?"


Movie menepuk-nepuk punggung Ivano lembut membuat pria itu melihat kearahnya. "Kamu menawarkan itu juga seakan memaksa El untuk move on dari Biundra."


Ivano menggeleng kuat. "Sebetulnya bukan untuk membuat Elenora melupakan Biundra, tapi ini seperti sebuah cara agar kita tau bagaimana perasaan Biundra pada Elenora."


Percakapan menjadi serius. Semua menyimak perkataan Ivano.


"Betulkan?" Ivano menatap Lynne, hanya perempuan itu yang mengangguk dan tiga lainnya hanya memandang menerawang. "Jadi dari situ kia bisa ambil kesimpulan bagaimana reaksi Biundra saat tau Elenora menemukan sosok yang lain, Elenora kan paham bagaimana perasaanmu saat tau Biundra memiliki kekasih, yakan?"


Elenora mengangguk.

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu?"


"Sakit." Jawab Elenora.


"Nah, kita cari tau apakah Biundra akan merasakan sakit juga saat tau kamu sedang bersama orang lain." Tutur Ivano, ketiganya langsung mengangguk paham dengn maksud dari pembicaraan Ivano.


Lynne mengangkat tangannya. "Dulu aku pernah mas, kasih saran seperti itu sama dia, tapi Elenora terlalu bucin."


"Kamu belum menemukan cara terbaik untuk menyampaikan." Lynne mengangguk paham, yap, dia memang memberikan saran pada Elenora dengan teriak-teriak. "Baiknya, kalau memberi saran pada orang keras kepala harus melalui heart to heart."


Elenora mendengus karena dia dikatai orang keras kepala.


"Tapi betulkan ucapan saya?"


"Jadi bagaimana?" Ivano bertanya lagi pada Elenora. "Teman sekantorku mungkin memang tidak sekeren Biundra seperti yang kalian ceritakan itu. Tapi setidaknya mereka masih bisa dipamerkan kekeluarga dan teman-teman. Yaah, semacam tidak malu-maluin lah."


"Gimana El?" Jason mulai ikut mendorong ide tersebut.


Saat Movie mengangkat tangannya, membuat semuanya menatap kearah perempuan itu. "Kalau ternyata reaksi Biundra biasa saja setelah melihat El bersama laki-laki lain, bagaimana?"


"Itu baru mau aku tanyakan." Cerocos Elenora.


Ivano mengangguk menimang pertanyaan sang kekasih. "Ya sudah jelas, bahwa Biundra sama sekali tidak memiliki rasa pada Elenora."


Kalimat itu sontak membuat Elenora menutup kedua telinganya. "Belum siap sama pernyataan itu."

__ADS_1


"Ya sudah mas Iv," Lynne menyela. "Biarkan Elenora berpikir, nanti kalau dia setuju pasti langsung mengabari maa Ivano buat diminta kenalan sama teman-teman mas."


"Ohh tidak masalah, kabari saja." Meneguk kopi miliknya.


Semua kembali tertawa saat mendadak Eelenora menghela napasnya memikirkan ide ekstrom itu. Sudahlah, tidak perlu heran jika mereka berkumpul. Elenora akan menjadi bahan ledekan mereka sampai kedepannya.


Disela cercaan dan ejekan mereka untuk Elenora. Tiba-tiba Clara datang langsung duduk disebelah Elenora, wajah Clara lebih kecut dibandingkan Elenora yang menjadi bualan mereka. Semua orang menatap bingung.


"Kenapa? Gue tebak pasti berantem sama Gerario kan?" Tanya Lynne yang mendapat persetujuan dari sang pusat perhatian.


"Gue putus."


"Halahhh.." Movie bersuara, "palingan entar sore balikan lagi."


"Kali ini serius."


"Akhirnya..." Elenora memeluk Clara. "Gue punya temen jomblo disini, gak jadi obat nyamuk sendirian."


Clara menepuk pelan lengan Elenora yang melingkar di tubuhnya. Kekasihnya sama seperti kekasih Movie, seorang pria dewasa yang memiliki sebuah perusahaan tidak besar tapi cukup sibuk. Jarang ada waktu untuk Clara sekedar menonton, sekali ada waktu pasti disela itu ada saja mendapat panggilan dari kantor. Sering kali Clara meminta putus tapi berujung balikan.


Berbeda dengan kekasih Movie, Ivano termasuk laki-laki pekerja kantoran tapi selalu memiliki waktu luang untuk kekasihnya. Itu yang membuat Clara kadang merasa iri pada Movie.


Ivano berdiri. "Sudah jangan ditekuk, aku pria paling dewasa disini bukan? Aku yang traktir untuk karaokean, bagaimana?"


^^^To be continued 🖤🖤^^^

__ADS_1


__ADS_2