
...🖤🖤...
"Sorry ya."
"It's okey." Laki-laki itu tersenyum tipis, dia duduk bersandar menatap Elenora yang masih sibuk mengusap hidungnya yang terus mengeluarkan cairan setelah lama menangis. "Aku tau pasti sakit banget, suka sama sahabat sendiri."
"Euum, gitulah."
"Kalian kenapa bisa ngejalin hubungan rumit gitu sih?" Laki-laki itu bertanya, pure karena penasaran. "It's okey kalau gak mau kasih tau, aku cuma-"
"Gak tau." Jawab Elenora memotong, "aku lupa sejak kapan semua ini berjalan."
"El..."
"Hem." Elenora mengusap jejak air matanya, lalu menatap laki-laki dihadapannya dengan mata sayu. Dia menatap tangannya yang diangkat oleh laki-laki itu.
"Kamu nyakitin tangan kamu Elenora," laki-laki itu menatap kearah lain, menyusuri ruangan apartement Elenora. "Kotak p3k dimana? Biar aku obatin."
"Ini gak sakit."
"Sekarang memang tidak terasa, tapi nanti sewaktu mandi akan terasa." Laki-laki itu bangkit dari duduknya, entah berjalan kemana dan kembali sudah menenteng kotak p3k. Laki-laki itu berjongkok didepannya, meraih telapak tangan Elenora dan membersikan luka-luka bekas kukunya, lalu menutupi luka dengan plaster. "Siap.."
"Terima kasih Galaksi." Menatap dua plaster yang ada ditelapak tangannya.
"Sama-sama." Galaksi duduk lagi ditempatnya semua, "El, boleh aku ngomong?"
__ADS_1
Elenora terkekeh. "Kan dari tadi emang lagi ngomong."
"That is not what I mean." Elenora mengangguk, dia hanya bercanda tadi, membuat Galaksi tersenyum dan meminta izin lagi untuk melanjutkan niatannya. "Can i help you?"
"Menolong apa? I don't understand." Maklum, kapasitas otaknya hanya untuk Biundra.
Galaksi tersenyum tipis, mengusap kedua tangan Elenora yang sudah dia genggam. "Biarkan aku membantumu untuk melupakan Biu,"
Mata Elenora melebar sempurna, belum pernah ada yang mengatakan ini sebelumnya. Elusan kembali terasa pada punggung tangan Elenora, membuatnya tersadar dari lamunan bodohnya. "Galaksi, kamu tau kan? Kalau aku terima kamu untuk jadi penyembuh lukaku, itu sama saja aku jahat sama kamu. Aku membuatmu jadi pelampiasan saja."
"I'am okey Ele, aku gak apa-apa selagi aku bisa dekat sama kamu." Galaksi tersenyum lagi. "Aku tinggal jadi sepertimu kan? Menjadi teman yang selalu mengerti teman, kalau tersakiti hanya cukup memahami, aku akan belajar darimu."
Elenora menggeleng tidak yakin. "I don't want to hurt you."
"El...."
"Gak ada yang sia-sia disini," Galaksi tersenyum. "Aku gak bisa kasih alasannya, tapi izinin aku buat bantu kamu lupain dia. Atau setidaknya, kita buat dia menyadari perasaanmu. Bagaimana?"
Alasan?
Galaksi punya alasan untuk melakukan ini, itu berarti dia tidak boleh jatuh kelubang yang sama. Dia tidak boleh memiliki rasa pada Galaksi seperti kepada Biundra. Bisa jadi, alasannya nanti malah akan menyakitinya lagi.
...🖤🖤...
Galaksi mengelus puncak kepala Elenora, dia duduk dilantai dan membiarkan tubuh Elenora berbaring disofa panjang. Tangan lainnya sedang bertautan dengan tangan Elenora, sudah setengah jam laki-laki itu bertahan pada posisinya. Galaksi hanya diam memandangi wajah bersih Elenora yang terlelap.
Mata Galaksi terlepas dari menatap sosok cantik dihadapannya saat suara kata sandi yang berbunyi dan pintu apartement terbuka. Dia dan sosok laki-laki tinggi disana saling menatap.
__ADS_1
Galaksi tersenyum. "Hai Bi,"
"Oh, hai." Balas Biundra. "Lo disini?"
"Eum," Galaksi mengangguk, perlahan dia melepaskan genggaman tangan mereka. Galaksi tidak ingin Elenora terbangun karena pergerakannya, setelah terlepas, Galaksi berdiri dan menatap Biundra. "Lo ada urusan? Elenora baru saja tidur, tidak perlu gue banguin kan?"
"No need." Ucap Biundra, Biundra menatap Elenora yang tidak terlihat wajahnya karena tertutupi Galaksi. "Leher Elenora bisa sakit kalau tidur disitu,"
"Iya, tadi udah gue kasih tau tapi gak mau pindah."
"Biasanya kalau udah pindah, ya digendong."
"Benarkah?" Galaksi menatap Elenora yang terlelap nyaman.
"Biar gue--"
Biundra berhenti saat melihat Galaksi berjongkok, menepuk pipi Elenora pelan sembari menyelipkan lengannya kebelakang leher Elenora. "Ele, aku gendong ya.."
"Eum," gumamnya, Elenora tidak menjawab, namun tangannya yang langsung bergerak memeluk leher Galaksi adalah sebuah jawaban.
Galaksi sudah menggendong Elenora, dia menatap Biundra sebenrar. "Gue pindahin Elenora bentar."
Biundra hanya mengangguk, dia merasa tidak nyaman saat ada seseorang yang memeluk teman baiknya. Selama ini hanya dia yang mengurusi Elenora saat perempuan itu dalam mode manja, sekarang? Biundra hanya menatap kepergian Galaksi yang menggendong Elenora masuk kedalam kamar.
Biundra tersenyum tipis. Kenapa mendadak rasa tidak suka menghantam dadanya.
^^^To be continued 🖤🖤^^^
__ADS_1