
...🖤🖤...
Elenora tersentak kaget saat teman baiknya itu memeluk pinggangnya posesif, padahal beberapa jam yang lalu saat mereka makan siang bersama, laki-laki tampak tidak suka, lalu sekarang apa? memeluknya dengan sangat erat, aneh. Tidak bisakah dia melihat ia sedang apa, Elenora sedang menggendong Angin!!! menggendong anak laki-laki kecil menggemaskan itu menuju kamar dan menaruh pelan keatas kasurnya.
Elenora mengguncangkan tubuhnya agar Biundra melepaskan pelukan itu.
"Bi, astaga, nanti Angin bangun." Eluhnya dengan nada paling rendah. Angin kelihatan sangat mengantuk saat dia bawa tadi, kemungkinan lelah juga karena setengah jam lebih mereka mengelilingi toko buku dan si menggemaskan itu harus ikut Elenora bertemu dengan papa Biundra untuk makan siang karena tidak ingin ditinggal olehnya.
Biundra tidak mendengarkan, dia tetep memeluk posesif hingga Elenora selesai menaikkan selimut untuk Angin sebatas pinggang. Menghidupkan AC karena takut Angin akan kepanasan karena ruangan kedap, tapi dia pakaikan selimut karena takut terasa dingin, maklum suhu tubuh itu suka berubah-ubah.
"Bi, bisa bentaran gak." Rengeknya.
"Enggak."
Elenora mendengus kesal. Dia membiarkan pergerakannya terhalang oleh Biundra, saat selesai dengan urusan Angin. Elenora berjalan keluar dengan Biundra yang masih menempel dipunggungnya, seperti anak kecil yang takut ditinggalkan oleh ibunya. Jangan heran dengan sikap Biundra. Entah apa yang membuat laki-laki itu merubah mode sinis menjadi manja.
__ADS_1
Saat dia berusaha berbalik sembari melepaskan pelukan itu, Elenora tesentak kaget karena Biundra mengecup pelan bibirnya. Sebelum dia bertanya atau mengelak, bibir Biundra kembali menghantam bibirnya dengan lembut. Elenora sempat mendorong dengan menekan bahu Biundra, sayangnya laki-laki itu sudah memeluk pinggangnya sangat erat.
Terpaksa, ah tidak, dengan senang hati Elenora membalas ciuman yang merambah panas itu, Biundra menggendongnya saat kedua tangan Elenora memeluk lehernya dan Biundra membawanya untuk duduk disofa dengan bibir masih saling bertautan. Sudah lama mereka tidak melakukan ini bukan? Anggap saja sedang melepaskan kerinduan.
"Enghhhh,,,, Retta,"
Elenora sempat berhenti saat mendengar Biundra mengerang memanggil nama perempuan lain, namun ia kembali menyadarkan diri bawa siapa status dia dimata Biundra membuat Elenora tidak menanggapi dan kembali melanjutkan tautan mereka lebih dalam. Percuma juga dia memarahi Biundra karena memanggil perempuan lain saat sedang bermain dengannya, dia malah akan terlihat aneh oleh Biundra.
Dirinya telah dibaringkan Biundra dengan laki-laki itu masih berada diatasnya, Biundra lebih dulu melepaskan pangutan. Mereka sama-sama meraih oksigen penuh, Elenora mendongak, instingnya mengatakan ia harus melakukan itu. Kemudian Biundra kembali menunduk menghujani leher Elenora dengan banyak kecupan.
"Kakakk...."
Elenora mendorong tubuh Biundra agar berhenti dari kegiatan mereka. "Bi,"
"Ck," Biundra berdecak tidak suka, dia berdiri dari atas Elenora.
"Kak Elee.."
__ADS_1
"Iya sayang," Elenora berdiri merapikan rambut dan pakaiannya. Ia berlari kecil menuju kamar dan dia buka pelan. "Ehh, Angin kebangun ya?"
"Om sudah datang?" Tanyanya sembari mengucek kedua matanya. "Angin mau pulang,"
"Sebentar ya sayang, om masih diperjalanan." Elenora membawa Angin keruang tamu, mendudukkan anak kecil itu disofa panjang, bersebelahan dengan Biundra yang menatap masam pada laki-laki mungil itu.
Biundra masih menatap Angin tidak suka. Mungkin jika tidak dalam mode aneh, Biundra akan senang melihat Angin yang menggemaskan, tapi lupakan soal mode baiknya, laki-laki itu seperti sedang kerasukan makhluk halus.
Biundra berdiri dan masih menatap Angin tajam. Dia melewati Angin sembari berujar kecil namun tegas. "Pengacau."
Angin yang mendengar itu tersentak kaget dan menatap ketakutan pada Biundra.
Biundra berjalan menghampiri Elenora di dapur, perempuan itu sibuk dihadapab kulkas, kemungkinan sedang mencari minuman dingin untuk Angin. "El, gue pulang."
"Okey. Be careful." Balas Elenora tanpa melihat.
^^^To be continued 🖤🖤^^^
__ADS_1