FWB (Friends With Benefit)

FWB (Friends With Benefit)
Jadi, siapa yang salah?


__ADS_3


...🖤🖤...


Biundra menatap datar pada Elenora yang terus saja tertawa pada ponselnya, entah apa yang sedang Elenora lihat, membuat Biundra kesal bukan main. Dia menurunkan ponsel itu hingga membuat sang pemilik menatapnya bingung.


"Lo tau kan lo lagi sama gue."


"I know. Terus?" Tangannya di hempaskan dari ponsel.


"El," panggilan Biundra membuat Elenora kembali menjauhkan benda pipih tersebut. "Lo masih marah sama gue?"


"Euh, Bi lo tu kenapa sih? Pusing gue," Elenora menaruh ponselnya di atas meja, perempuan itu mulai meraih sendok dan garpu. "Bahas soal marah mulu, gue udah okey sekarang."


"You sure?"


"Hmm.."


"I'am not sure, right? Gue ngerasa lo gak serius maafin gue." Biundra meletakkan sendok dan garpunya, dia bersandar dan melipat tangannya di depan dada. "Talk to me. You haven't forgiven me? Ele jawab."


"Astaga, mulai deh." Menegak air putih disebelah tangan kirinya. "Bi, besok free gak?"


"Gak usah ngalihin pembicaraan."


Elenora berdecak. "Biu, come on. Gak usah deh nyari masalah. Lo tu kayak perempuan tau gak, sesuatu yang gak penting lo buat jadi masalah biar ada bahan buat berdebat."


"Tapi gue ngerasa gitu kok. You don't really forgive me." Biundra meraih sendoknya lagi untuk melanjutkan makannya.


"Astaga. I don't care about you don't believe me. Yang jelas, gue forgive you." Elenora meletakkan sendoknya dan berdiri membuat Biundra menatap bingung.


"Mau kemana lo?"


"Toilet."


Biundra meraih tas Elenora dan membuat perempuan itu menatap bingung. "Apaan sih lo?"

__ADS_1


"Gue sita tas lo biar gak pergi ninggalin gue."


"Astaga Biundra." Elenora mendorong tasnya dalam pelukan Biundra dan menaruh ponselnya diatas meja, di hadapan Biundra secara kasar. "Nihh, hape gue sekalian lo sita."


"Okey." Meraih ponsel tersebut dan dia dekap bersama tas Elenora.


"Chilldish." Umpat Elenora dan berjalan menjauh. Biundra tidak perduli.


Ponsel Elenora berbunyi dan hidup, menampilkan pop-up pesan dari Galaksi yang membuat dahi Biundra berkerut.


...🖤🖤...


"Bi, lo inget kan kalau besok time to go home? Udah hampir sebulan gue gak balik loh."


Elenora menatap Biundra yang mematung dikursi makan miliknya. Setelah makan siang bersama, mereka memilih kembali ke apartement Elenora. Sebenarnya Elenora enggan membawa Biundra pulang, tapi laki-laki itu merengek meminta ikut. Jadilah mereka disini, Elenora memotong buah-buahan segar yang hendak dia campur dengan yogurt dan Biundra yang duduk dengan pandangan menerawang.


Elenora menyadarkan Biundra dengan menepuk lengan laki-laki itu menggunakan lengannya, kedua tangannya sedang sibuk, satu memegang pisau dan tangan lainnya memegang buah.


"Hm.."


"Pulang besok,"


"Dih, why?"


"Gue ada janji ketemu sama Retta."


"Retta? Who is she?"


"Dosen fakultas bahasa sastra."


"What? Are you kidding me? Namanya Floretta, lo manggilnya Retta, kalian sedekat itu? Dan lagi lo manggil dosen tanpa embel-embel 'bu' seriusan lo." Elenora menggeleng, tapi beberapa detik kemudian dia mengangguk karena mengingat pembicaraan dia dengan dua temannya tadi, "lo lagi deket sama dosen itu?"


Biundra tidak menjawab.


"Biu, gue tau lo gak mungkin ambil mata kuliah sastra kan?" Elenora terkekeh, dia menghela napasnya pelan. Sialan, Biundra masih tidak berubah. Bahkan tingkatan levelnya sekarang adalah seorang dosen.

__ADS_1


"Biu," Elenora memanggil lagi dengan nada lebih rendah.


"Iya, gue lagi deket sama dia."


Elenora menelan pil pahit, dia kira Jesslyn akan menjadi yang terakhir bagi Biundra. Dan kepergian Jesslyn adalah awal dari kebahagiaannya. Elenora salah, mungkin ada baiknya jika dia benar-benar harus melupakan Biundra. "Okey, gue pulang sendiri besok."


"Lo bisa pergi sama Galaksi." Potongan buah terhenti, Elenora melihat Biundra bingung. "Kenapa? Benerkan kata gue, Galaksi sendiri yang nawari kemanapun lo pergi kalau gak ada gue, lo bisa bawa dia."


Pisau tajam itu Elenora letakkan di atas meja. "Lo meriksa isi chat gue?"


"Gue gak sekepo itu ya."


"Biundra, gak usah denial. Gue tau lo lihat isi pesan gue sama Galaksi tadi kan?" Elenora mencoba menetralkan nafasanya.


"Gak berminat."


"Astaga Biu, gue tau lo gak se-childhish gini." Elenora menatap datar pada sosok laki-laki yang entah sejak kapan selalu merubah-rubah sikapnya.


Biundra berdiri, wajahnya menantang. "Kalau iya kenapa?"


"Biu, sejak kapan lo jadi ikut campur sama kehidupan pribadi gue," wajah Elenora tidak kalah tajam. "Sekalipun gue gak pernah cek cek hape lo ya, apa lagi sampai lihat isi chat. It is privacy. You know that. Gue kecewa sama lo."


"GUE CUMA GAK SUKA AJA EL!!!"


"APA YANG GAK LO SUKA??" Elenora ikut berteriak. Dia menunduk karena Biundra tidak menjawab. "Seharusnya lo turutin apa yang gue ucapin kemarin Bi, kita gak usah ketemu dulu, lo akhir-akhir ini berubah."


"Berubah!!! gue?" Menunjuk dirinya. "Gak salah. What has changed here is you, NOT ME!!" Menepuk dadanya.


"BUKTI!!!" Mata Elenora memerah, dia tidak tau apa kesalahannya hingga membuat Biundra selalu berteriak padanya akhir-akhir ini. "Kasih gue bukti, perubahaan gue dimana. Gue gak tau Bi, gue ngerasa gue selalu salah dimata lo."


"Lo emang salah." Biundra pergi dari hadapannya.


Lagi. Biundra lagi-lagi pergi disaat mereka berdebat entah soal apa.


Elenora terisak. Dia menangis kecil melihat kepergian Biundra, Elenora berjongkok memeluk kedua lututnya.

__ADS_1


"Yeah.. Ini emang salah gue Bi, my fault because i love you."


^^^To be continued 🖤🖤^^^


__ADS_2