
...🖤🖤...
"Astaga!!!! ****** bangkee," umpatnya, perempuan itu berjalan menuju kamarnya, memukul kepala laki-laki manis dengan keras hingga membuat sang korban meringis. "Lo ngundang dia kesini?"
"Enggak woo,"
Menatap dengan kesal, dia bertanya dengan dagu terangkat. "Gue mana tau kalau Arnav disini, gue emang mau main kesini aja."
"Gak ada. Gue sibuk Biu," eluhnya, akhir-akhir ini teman-temannya suka datang keapartemennya, dia yang pemalas membuat tempat tinggalnya semakin berantakan.
"Gue bantuin beresin deh Xen," menyodorkan papper bag besar. "Dari nyokap, katanya bokap lo nanyain lo mulu kenapa gak pernah pulang."
"Tante Helen kesini?" Mengintip isi papper bag dari Biundra. "Kok gak mampir,"
"Bentar doang, ada arisan bulanan dideket apart gue." Biundra duduk disisi ranjang, menatap Arnav dimeja belajar, sudah dapat ditebak kalau sesuatu yang sedang dikerjakan oleh Arnav adalah milik Xena. Dasar bucin, Biundra terkekeh, dia keluar mengikuti Xena menuju dapur, Xena sedang memasukkan semua kotak berisi makanan dari mamanya. Keluarga Xena cukup dekat dengan keluarga Collins, karena almarhum mama Xena dulu adalah rekan bisnis papanya. Sejak mamanya meninggal, keluarga Xena jarang berkunjung karena papa sibuk menghandle urusan restaurant. "Arnav kenapa jadi rajin ke apart lo Xen? Kalian ada hubungan?"
"Ngaco." Jawabnya tegas, Xena lelah, dia merasa semua teman-temannya tidak ada yang memahami dirinya. "Dia sendiri yang mau ngerjain tugas gue."
"Lo gak mau coba sama Arnav. Dia bucin banget sama lo loh."
"Gue gak suka kaum Adam."
"Gak usah ngomong gitu sama gue, gue tau fakta sebenarnya." Xena tidak membalas, "lo suka sama cewek cuma gegayaan lo doang kan? Padahal lo mah masih suka sama cowok."
Xena berdiri, dia menatap tajam Biundra dan bersandar pada kulkas yang sudah dia tutup. "Gak usah ngajak gue bahas itu Biu, lo mau apa kesini? Gue tau ini gak soal makanan yang tante Helen kasih ke gue kan? Apa lagi soal diri gue."
"Dih, kebaca ya?"
__ADS_1
"Yalah." Xena membuka kulkas lagi, meraih botol cola dan dia lempar pada Biundra. "Soal Elenora lagi?"
"Emh, si paling bisa baca pikiran orang."
"Gak perlu punya kekuatan supranatural juga bisa baca pikiran lo Biu," Xena menggeleng pelan, mulai menegak cola, memakan buah-buahan diatas meja. Xena duduk diatas kitchen set, berhadapan dengan Biundra yang duduk dikursi makan. "Udah dapet jawaban belum?"
"Soal apa?"
"Perasaan lo ke Elenora lah."
"Berapa kali gue bilang, kalau gue gak ada rasa sama dia Xen. Awhh.." Biundra menjerit saat kepalanya terasa sakit akibat pukulan benda keras. Biundra melihat kebelakang, "sakit begoo."
"Lo tu yang bego," Arnav berjalan melewati Biundra dan berhenti dihadapan laki-laki itu, berdiri disebelah Xena dan meminum kaleng soda milik Xena. "Gue baru sadar kalau lo itu segoblok ini anj*ng parah, bangs*t."
Xena memukul mulut Arnav kasar. "Istigfar, kasar banget itu mulut."
"Iyalah."
"You sure?"
"100% yakin."
Arnav mengangguk. "Padahal jelas banget loh kalau lo itu suka cemburu sama Elenora."
"Itu karena rasa bersalah gue."
"That's not a good reason, Biu. Gue yakin sebenernya lo ada feel ke Elenora, cuma lo denial aja." Biasanya Biundra akan membantah, tapi entah kenapa kali ini dia hanya diam mendengarkan. "Kenapa lo gak bolehin Elenora deket sama Galaksi? He's a gentle, kind, caring man, I see that. Kasih alasan terbaik yang ngeyakinin gue soal kenapa Galaksi gak boleh deket sama Elenora."
"Pikiran mateng-mateng jawabannya Bi," Xena menatap Biundra yang sedang menimang jawaban.
__ADS_1
Terlalu lama menunggu, Arnav mengibas tangannya. "Gak usah dijawab Biu, gue tau jawabannya." Biundra menatap Arnav lagi, "karena Galaksi sesempurna itu kan? Makanya lo takut Elenora jatuh hati sama dia, bukan ke lo."
Duarr!!!
Tepat. Biundra hampir mengangguk karena menyetujui alasan yang diberikan oleh Arnav. Tapi dia tidak ingin melakukan hal itu, dia hanya diam menatap datar.
Arnav menoleh pada Xena yang mengelus puncak kepalanya, ahh, Biundra tau kalau jatung Arnav pasti sedang menari. "Pikiran lo jadi terbuka gini si Ar,"
Melepaskan tangan Xena dari kepalanya. "Bac*t!!" Mereka berdua kembali pada si tukang mengelak perasaan. "Jadi, bener gak omongan gue."
"Not all true, sihh.."
"So, what's wrong?" Arnav menoleh pada Xena.
"Eum, kalau deskripsi soal Galaksi emang bener, but soal gue takut El suka sama Galaksi sih enggak."
"Masih denial gak tuuuhhh..."
"Gue gak lagi denial, anj*ng."
Arnav mencebik. "Lo ada alasan lain?"
Biundra menunduk, dia masih belum tau soal perasaannya tapi kenapa dia tidak ingin mengakui kebenaran dari pernyataan Arnav. "I don't know.."
Arnav hendak mengumpat namun tangan Xena menutup mulutnya, satu tangan lainnya merangkul Arnav untuk mendekat. "Ar, biarin dia berpikir sendiri, bukan ranah kita untuk menyudutkan Biu soal perasaannya. Bisa jadi Biu emang gak ada rasa sama Elenora, maybe. Jadi kita cukup sampai sini aja."
Xena turun dari meja dengan bantuan Arnav, padahal Xena bisa sendiri tapi ada tuan bucin disini. Arnav menepuk bahu Biundra sebelum menyusul Xena. "Biu, saran gue terakhir, lo gak bisa membiarkan Elenora disamping lo terus-terusan hanya karena rasa bersalah lo, she already loves herself, jadi lo lebih baik lepasin dia untuk lebih mencintai dirinya sendiri. Lo punya kegiatan lain dibandingkan mikirin hidup Elenora."
^^^To be continued 🖤🖤^^^
__ADS_1