FWB (Friends With Benefit)

FWB (Friends With Benefit)
Pertemuan dengan Mr.Collins


__ADS_3


...🖤🖤...


"Ya pa."


"......."


"Iya. Ini Biu udah selesai kok," sembari berbincang dengan sang papa lewat sambungan telepon, Biundra memasukkan semua buku-bukunya kedalam tas. "Iya, Biu samperin Ele sekarang. Okey pa, love you too."


"Bokap Bi?".


"Hem.." Balas Biundra pada Arnav. Biundra berdiri. "Gue cabut duluan Ar, takut Elenora udah pergi duluan."


"Kan lo bisa telepon biar dia gak pergi,"


"Halah, tinggal nyebrang dong." Arnav terkekeh mendengar itu, dia hanya mengangguk membiarkan Biundra keluar kelas dengar terburu-buru menuju gedung fakultas Elenora.


Sampai disana, dia menghela kesal, Elenora tengah duduk dikerumini teman-temannya. Dia berjalan pelan masuk dan membalas sapaan beberapa orang yang mengenalnya.


"El..." Panggilnya.


"Eh, hai Bi." Biundra menelan salivanya, balasan sapan Elenora membuatnya terdiam. Entah kenapa hari ini Elenora terlihat begitu sangat cantik, ah, mungkin karena sudah lama mereka jarang bertemu. "Kenapa?"


"Ada dihubungin sama bokap gue gak?"


Elenora mengangguk. "Iya, om Edwan baru aja ngechat gue, why?"


"Lo gak bawa mobil kan? Yuk bareng gue." Ajaknya.

__ADS_1


Dia berjalan mengikuti Elenora keluar kelas yang sedang melambaikan tangan kearah teman-temannya untuk salam perpisahan. Elenora menatapnya. "Kan janjiannya jam dua Bi, ini masih jam setengah satu."


"Ke apart gue dulu El, gue baru beli ice cream banyak. Ngadem dulu."


Biundra mengerutkan dahi saat Elenora berhenti dan menggeleng menatapnya. "Kita ketemuan disana aja ya, soalnya gue mau pergi sama Galaksi."


"Kemana? Gue bisa ikut."


Elenora memukul bahu Biundra. Perempuan itu terkekeh pelan. "Kami mau pergi sama keponakannya Galaksi, dia minta rekomendasi buku anak-anak Bi."


"Keponakan? Buku anak-anak?" Biundra tertawa. "Yang bener aja El, lo gak suka anak kecil, i know."


Tawa Biundra dibalas tawa juga oleh Elenora. "Biu, lo lupa kalau gue ambil jurusan psikologi? Gue mempelajari tentang prilaku, fungsi mental, gue...."


"Tapi bukan psikologi anak." potongnya.


"I know. Setidaknya gue tau buku anak-anak." Elenora melenggang pergi yang langsung diikuti Biundra, "Biu, don't follow me. Okey?"


Elenora menghentikan langkahnya lagi, Biundra mengikuti arahan dagu Elenora. Perempuan itu menunjuk kearah laki-laki yang tengah duduk bersama anak kecil laki-laki. Galaksi dan keponakannya.


"Kalian mau naik motor? El, lo gak pernah naik motor sebelumnya."


Elenora terkekeh sembari berjalan lagi. "Lo gak tau kan? Selama sebulan ini gue udah puluhan kali naik motor, gue baru tau seseru itu naik motor."


"Kalau bokap-kak Quin tau lo naik motor. Mereka bakal marah sama lo." Kalimat Biundra menghentikan langkah Elenora. Ia tersenyum tipis karena akhirnya mendapat kelemahan Elenora. "Gue anter."


"Bi, kenapa sih? Kata lo, gue harus berteman sama orang lain biar gak bergantung sama lo. Ini gue lagi usaha loh." Biundra ingat soal ucapannya, tapi dia juga tidak tau kenapa dia tidak ingin Elenora hari ini pergi tidak dengannya. "Lo gak usah lapor sama bokap atau ke kak Quin, gue udah izin sama mereka dan mereka kasih izin karena dari apart ke kampus gak makan waktu lama. Gue gak akan sakit cuma 15 menit naik motor."


...🖤🖤...

__ADS_1


Pria berperawakan gagah itu menatap putranya heran. Sejak ia dan putranya itu duduk sekitar 20 menit lalu, tidak ada kata sapaan yang mengandung kerinduan dari sang putra. Wajahnya muram, hanya sapaan kabar lalu memilih duduk dan memainkan benda pipih ditangannya.


"My son kenapa?" Tanyanya heran, tidak biasanya putranya itu memperlakukannya seperti ini. Biasanya putranya itu akan berlari memeluk dan bertanya banyak hal karena mereka jarang sekali bertemu. "Wajahmu tidak enak dipandang."


"Pa."


"Hm.." Akhirnya bersuara dan menatap sang papa setelah menaruh ponselnya ditas meja. "Kenapa Bi? Ada masalah dikampus?"


"Bukan."


"Lalu apa?"


"What do you think about Elenora?"


"Hm.. She is beautiful, cutest, why..."


"No, no that..."


"Bicara yang jelas." Tegasnya, dia sedikit tidak paham arah pembicaraan sang putra. "Papa don't understand."


"She changes." Edwan masih mendengarkan. "Selama ini jika kita ada janji. Kami akan menghabiskan waktu bersama selagi menunggu papa selesai dengan urusan, she didn't mind it, right? Tapi tadi, dia memilih menghabiskan waktunya bersama temannya, sebelum kemari. And see, dia terlambat."


"Barangkali ada urusan penting."


"Cih," Biundra berdecih, membuatnya melirik sekikas.


"Temannya seorang laki-laki?"


"Hm."

__ADS_1


Edwan mengangguk. Kini ia paham titik permasalahan yang dimiliki putranya itu. Edwan hanya tersenyum tipis dan kembali menyandarkan punggungnya, membiarkan sang putra hanya mengomel sendiri menatap layar ponsel.


^^^To be continued 🖤🖤^^^


__ADS_2