
...🖤🖤...
Mata tajam itu tidak berpaling sedikitpun, dari dua sosok dihadapannya, Galaksi dan Elenora. Dua orang itu tengah berbincang seru sembari menikmati vodka ditangan masing-masing, berbicara dengan berbisik karena suara music DJ sedang mendominasi gedung. Keduanya tidak memperdulikan tatapan sekitar, mereka berdua lebih terlihat sedang menguasai perhatian.
Galaksi memang terkenal sangat mengerti perasaan orang-orang disekitarnya, tidak egois, murah hati serta murah senyum, semua kata-kata akan terdengar berlebihan untuk mendeskripsikan seorang Galaksi. Tapi itulah faktanya, karena perbuatannyalah seseorang terlihat begitu senang tanpa memperhatikan teman-temannya.
Tangan yang semula mengelus kini bergerak kepinggung, tentu membuat Floretta tersentak kaget dan menoleh pada Biundra. "Kenapa Biu?"
"Nothing," Biundra menegapkan tubuhnya dan bersandar pada punggung Floretta yang sudah kembali asik berbincang, entah apa yang mereka sedang bahas, Floretta dan Lynne tampak sangat seru. Biundra merapatkan bibirnya ketelinga Floretta. "Dance floor."
"Boleh." Floretta berdiri, diikuti Biundra dan mereka benar-benar menari dilantai dansa, bergabung bersama orang-orang yang tengah terpengaruh minuman keras.
Biundra dan Floretta berbincang kecil diiringi tawa. Seharusnya malam ini Biundra merasa senang menghabiskan waktu bersama seseorang yang dia kagumi, bukannya malah merasa kesal pada sesuatu yang harusnya tidak dia urusi. Biundra menoleh saat melihat Floretta tersenyum kepada seseorang dari belakangnya, Galaksi dan Elenora tengah berjalan melewati mereka dan ikut menari dengan jarak tidak jauh dari mereka berdiri.
__ADS_1
Biundra tidak terlalu memusingkan hal itu, dia tetap fokus pada Floretta yang terus mengajaknya berbicara. Nafas Biundra tercekat kala melihat Elenora sudah memeluk leher Galaksi, dalam diam mereka terus tersenyum, seakan sedang berbicara melewati sebuah telepati. Biundra menelan salivanya, gusar saat melihat kedua orang yang berdiri tidak jauh dari mereka sudah mendekatkan wajah, ah tidak!!, mereka sudah menyatukan kedua bibir. Elenora telihat begitu menikmati, sialaan.
Rasanya Biundra ingin berlari dan melepaskan pangutan mereka, namun ia teringat akan pembicaraannya dengan Arnav dan Xena, soal dia tidak boleh ikut campur masalah Elenora dekat dengan siapapun, termasuk Galaksi.
Baiklah. Biundra tetap pada pendiriannya, bahwa dia memang hanya menganggap Elenora seperti adiknya, wanita yang harus menjadi fokusnya hanyalah Floretta. Biundra menarik pinggul Floretta agar mendekat, tanpa meminta izin Biundra menyatukan bibirnya, dan beruntung Floretta membalas. Ia tidak terlalu fokus, karena dalam cium*n itu sesekali Biundra membuka mata dan melihat kearah Elenora yang masih menempel pada Galaksi, Biundra mengeratkan pelukan kala matanya menangkap mata Elenora tengah melihat kearahnya. What it's that? Apa dia salah melihat, meskipun ruangan ini sangat gelap, sebuah sinar lampu berwarna-warni yang memutar terkadang mampu menjadi penerang. Sekali lagi, saat ia tengah berkedip dan membuka mata lagi, Biundra lagi-lagi melihat mata Elenora menatap kearahnya, tatapannya sangatlah berbeda.
Biundra melepaskan pangutannya pada Floretta, dia mengusap wajahnya gusar. Mencari keberadaan Galaksi dan Elenora yang menghilang dari pandangannya, ia tidak berhalusinasi bukan?
"Biu, what happend?" Tanya Floretta kebingungan. "What's wrong? Are you okay?"
"Why? did something happen that I don't know?."
"I'm not feeling well. I guess...."
"Ouh, okay, kita pulang." Floretta meraih tangan Biundra dan membawanya menembus kerumunan. Tanpa meminta izin pada teman-temannya, mereka berdua keluar dari club.
__ADS_1
...🖤🖤...
Setelah menyelesaikan perdebatan antara dirinya dan Floretta, Biundra menang dan memilih kembali. Floretta berkeinginan untuk merawat Biundra yang merasa tubuhnya sedang tidak sehat. Namun Biundra menolak karena ia merasa hanya butuh istirahat,,, padahal tidak. Laki-laki itu memutar kemudinya menuju apartemen milik Elenora, dia hanya ingin pulang untuk menemui Elenora, that's it.
Beruntung kata sandi Elenora masih tanggal lahir perempuan itu, dia menekan secara cepat dan membukanya, seluruh ruangan terlihat sangat gelap, apakah mungkin Elenora masih belum kembali?
"El..." Panggilnya lirih, dia akan memilih stay diapartemen Elenora dari pada kembali keapartemen miliknya sendiri.
Biundra duduk disofa, tanpa berniat menghidupkan lampu.
Sekitar satu jam lebih Biundra menunggu, pintu apartemen Elenora akhirnya berbunyi menandakan seseorang tengah berusaha masuk. Terlihat perempuan sempoyongan masuk dan menaruh tas serta jaket kesembarangan arah.
"Heii...." Sapanya.
^^^To be continued 🖤🖤^^^
__ADS_1
Kemungkinan beberapa part kedepan pov dari Biu,