
...🖤🖤...
Sebuah hotel ternama diibu kota telah disewa oleh keluarga besar Collins. Anak terakhir mereka akan melangsungkan acara pernikahan hari ini, mulai dari pintu utama hotel telah dihiasi seindah mungkin bernuansa putih, berbagai rangkaian papan bunga terpajang sepanjang jalan. Ini adalah hari bahagia keluarga Collin, hari yang mereka nanti telah menjadi kenyataan.
"Mr.Collins, hahahaha." Seorang pria berbadan gemuk menyalami pria bertubuh tinggi dan gagah dipintu utama hotel. "Akhirnya, sekian lama anda ingin membuat acara, tercapai juga."
"Benar sekali," Tuan Collins terbahak bahagia.
Pria berbadan gemuk itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, suaranya kecil namun dapat didengar oleh beberapa orang disana. "Keren juga putramu, mendapatkan besan sesempurna itu."
Tuan Collins memukul lengan pria berbadan gemuk dengan pelan. "Kecilkan suara anda Tuan, nanti didengar besanku."
"Ya... ya.. ya.. Maaf,"
"Telinga saya terasa panas." Ucap pria tidak kalah gagah disamping Tuan Collins. "Kalian sedang membicarakan saya,"
"Astaga Mr.Oxley." Pria itu turut menyalami, "saya tidak melihat anda."
"Karena anda sibuk membicarakan saya," mereka berdua berpelukan, Tuan Oxley mengarahkan pria berbadan gemuk itu untuk masuk kedalam tempat dimana mereka akan menggelar acara.
Tuan Oxley menghampiri besannya. "Wah, kenapa mendadak jantung saya berdebar."
"Besan, anda tidak serangan jantung kan? bisa ditunda dulu, jangan buat pesta anakku menjadi drama kematian." Ujar Tuan Collins kesal, ini hari yang dia nantikan, jangan sampai siapapun menghancurkan acara bahagianya.
"Sialaan, anda butuh dihajar." Tuan Oxley tidak kalah kesal. "Sepertinya saya tidak siap memberikan putri kecil saya kepada keluarga anda."
"Jangan dong besaan, ini yang saya inginkan sejak dulu." Tuan Collins menyikut lengan Oxley, kepalanya menunjuk kearah wanita dan pria tampan diujung panggung, sedang membereskan bunga bersama. "Sepertinya kita akan mengadakan pesta dua kali, besan."
"Sial, anakku kenapa bisa kepincut sama anakmu sih." Tuan Oxley menggeser diri selangkah. "Sepertinya kita harus berhenti bekerja sama dalam bisnis, bosan jika hidup kita hanya antara Collins dan Oxley."
...🖤🖤...
"Evelyn, tolong cek adikmu ya, tadi dia terus saja meminta kamu menemaninya." Ujar Helena pada putri pertamanya, Evelyndra mengangguk, dia menaruh rangkaian bunga dan berjalan kearah lain. Helena tersenyum pada Aquinora yang menatap Evelyndra selama perempuan itu berjalan menjauh. "Sudah berapa lama tidak berhubungan dengan Ely?"
Aquinora menatap Helena datar. "Tidak ingat tante, mungkin sudah dua tahun."
"Semakin cantik ya,"
"Keluarga Collins semua sempurna, fisik, materi, attittude." Jawab Aquinora. "Tante, Quin mau menemui papa sebentar."
__ADS_1
"Ah baiklah," tangan Helena terulur. "Biarkan tante yang menyelesaikan rangkaian bunganya."
"Terima kasih," Aquinora kembali berpamit pada nyonya Collins sebelum pergi meninggalkan.
...🖤🖤...
"Hai anak papaa,," Tuan Oxley meraih bahu Aquinora bangga, menepuk pundak putranya untuk mendekat, dia menatap rekan bisnis lainnya. "Ini putraku, dia memegang kendali perusahaanku yang di Indonesia. Tampan kan,"
"Dasar pamer," umpat kecil dari besannya. "Untuk apa tampan kalau tidak bisa move on."
Aquinora tidak mengambil hati dari ucapan Tuan Collins. Pria itu sudah berjalan kearah laki-laki tinggi yang hendak mengarah kemereka. "Perkenalkan, ini putra keduaku, namanya Kavindra. Dia memang jarang terlihat karena dia adalah seorang angkatan militer, gagah bukan?"
Aquinora dan Kavindra saling bertatap, lalu membuang muka secara bersamaan. Tuan Oxley mencibir, "untuk apa gagah kalau...."
"Pa sudahhh," Aquinora menahan sang papa untuk mengatakan hal lainnya.
"Papamu memang selalu ingin berdepat sama saya, Quin." Ujar Tuan Collins.
Aquinora tersenyum, namun senyumnya memudar saat papanya maju. "Anda yang memulainya,"
"Come on pa, kenapa malah berantem sih." Kavindra bersuara, Tuan Oxley dan Tuan Collins memang seperti musuh saat berdua. Namun setelah bersitegang beberapa menit lalu, keduanya tertawa bersama sembari merangkul satu sama lain. Dasar.
...🖤🖤...
Aquinora meraih gelas itu. "Baik, terima kasih."
Kedua bersadar pada pagar menatap ketempat acara. Seluruh bangku dengan meja bertuliskan nama tamu sudah hampir sepenuhnya terisi, beberapa yang kosong kemungkinan terkena macet, tapi acara juga belum mulai. Meja tamu diberi jarak beberapa meter karena ditengah-tengah mereka ada sebuah jalan, untuk mempelai perempuan berjalan menuju altar pernikahan. Hotel ini adalah hotel kedua yang memiliki tempat kusus acara pernikahan, dan keluarga Collins adalah salah satu investornya.
"Sudah bertemu kak Ely?" tanya Kavindra.
"Sudah, tadi."
"Maaf,"
Aquinora menoleh. "Untuk apa?"
"For forbidding you to love my sister," Kavindra menatap kedepan, menatap sang mama dengan nyonya Oxley yang sedang berbincang canda. "I should have realized that I shouldn't like my own brother. Even though we're not blood related."
"Jadi kamu mau menyerahkan Ely padaku?"
"Tidak juga sialaan."
__ADS_1
Keduanya tertawa, Kavindra dan Aquinora berpelukan. Laki-laki memang seperti itu, mudah melupakan tentang pertikaian mereka dua tahun lalu hanya dengan berbincang kecil.
...🖤🖤...
"Biu memanggil kakak?"
"Tidak, siapa yang bilang?" Biundra tersentak kaget saat sang kakak yang baru saja pulang setelah sekian lama masuk kedalam ruangannya. Evelyndra tersenyum tipis, ia menoleh pada sosok Elenora yang duduk tidak jauh dari mereka.
"Ele gugup?"
Elenora menggeleng. "Tidak kak Ely, sepertinya Biu yang gugup, dia dari tadi duduk gelisah."
"Enak saja." Biundra menepis ucapan Elenora, laki-laki itu berdiri dengan santai. "Lihat, aku biasa saja kan?"
"Terserahlah," jawab Elenora.
Evelyndra berdiri tegap. "Ya sudah kalau aman, kakak keluar sebentar, melihat apa tamu sudah hadir semua. Agar pernikahan kalian langsung segera dilaksanakan."
Evelyndra menutup pintu dengan pelan, Biundra juga menghembuskan napasnya.
"Kamu gugup?"
"Tidak aku bilang," Biundra masih mengelak, padahal gerak-gerik Biundra sangat terlihat jelas dari mata Elenora. Biundra berjalan menghampiri Elenora. "Sepertinya kamu yang gugup, sini pegang tanganku sebagai penguat."
Elenora meraih tangan Biundra yang dingin. Calon suaminya itu duduk disampingnya, masih dengan sikap tidak tenang. "Tanganmu dingin."
"Ac," jawab Biundra.
"Tadi kak Ely memberiku jamu penenang, mau minum?"
"Aku tidak gugup!!"
"Jamu penenang Biu, bukan jamu gugup."
"Baiklah, sini aku minum." Biundra merampas botol kecil milik Elenora dan langsung dia minum sampai habis. Elenora mengelus punggung Biundra dengan pelan.
"Lebih tenang,"
"Hmm..."
Tangan mereka kembali bertaut, Elenora hanya tersenyum tipis melihat wajah pucat Biundra.
__ADS_1
"Sialan, kenapa dia tidak mau berhenti." Biundra memukul kedua lututnya yang gemetar.
^^^🖤🖤^^^