
...🖤🖤...
"Hai sayang..." Edwan berdiri saat seorang perempuan berlari memeluk manja kearahnya. Tidak lupa dia kecup puncak kepala perempuan itu, matanya menatap kearah anak laki-laki yang memeluk paha Elenora. "Who is he? Oh God, he is very handsome."
Edwan berjongkok, mengelus pipi anak laki-laki didekat Elenora. Melihat itu Elenora terkekeh. "Dia Angin om, keponakan temen El. Sayang, salam sama om."
"Halo om,"
Anak kecil itu menunduk kecil pada Edwan. Membuat Edwan terkekeh gemas. "Mirip Biu dulu sewaktu kecil,"
"Not like me." Tanggap Biundra ketus, Edwan dan Elenora hanya saling pandang. Biundra berucap tanpa melihat kearah Elenora.
Anak laki-laki bernama Angin itu terkejut karena nada suara Biundra sedikit meninggi, dia langsung bergerak memeluk kaki Elenora lagi. "It's okey Angin."
"Jangan perdulikan dia Angin," Edwan mengulurkan tangannya agar Angin mendekat. "Sini, duduk dekat sama om ya."
"Maaf ya om, El terlambat." Ujarnya dengan wajah memelas. "Tadi Angin gak bolehin El pulang, dibujuk gak mau malah nangis, jadi El bawa aja deh."
"Many reason." Edwan dan Elenora melihat kearah Biundra.
Edwan melirik kearah Elenora, dia dapat menangkap gerak gerik putranya yang kesal. Ia tau kalau ada sesuatu yang mengganggu Biundra, tapi Edwan tidak berani menyimpulkan.
Makan siang mereka ditemani dengan canda dan tawa oleh kegemasan Angin. Edwan terlihat ingin memiliki sosok menggemaskan dikehidupannya.
__ADS_1
"Astaga El, om jadi ingin punya sosok kecil." Rengeknya.
Elenora tertawa. "Haha, rundingkan saja dengan tante Helen."
"Kamu ini, mana bisa lagi tantemu itu mengandung. Bagaimana kalau kamu saja." Alis Elenora mengkerut. "Jadi menantu om dong, rasanya ingin menggendong cucu."
Hal itu semakin membuat Elenora tertawa. "Kemarin El nawarin kak Kavi, tapi katanya gak mau sama El."
"Jangan kak Kavi dong sayang, kan ada Biu."
"Don't me. Biu hectic." Biundra menanggapi dengan malas, hanya laki-laki itu yang terlihat tidak senang dengan makan siang mereka ini. Padahal, Edwan belum tentu dapat mengajak makan setiap hari, mereka melakukan ini jika Edwan sedang berada di Indonesia saja.
Edwan hanya menggeleng, dia menatap Elenora dan perempuan itu tersenyum. "El kasih cucu aja deh, tapi gak mau jadi menantu om."
"Yahh, bukan cucu kandung mana puas."
"Betul loh El, om mau kamu bersama Biu." Ya kalau boleh jujur, Elenora juga mau bersama Biundra, tapikan masalahnya sekarang apakah Biundra mau dengannya? Sekedar candaan saja tidak ditanggai canda oleh Biundra. Laki-laki itu sedang permisi ketoilet dan belum kembali sejak lima belas menit yang lalu. "Om sama tante suka bingung sama kalian, suka bersama tapi kenapa tidak ada rasa sih? Heran."
Elenora tersenyum. "Yah om, namanya juga dari kecil sama-sama terus, jadi ya gak pakai perasaan lagi lah."
"Ini serius?"
"He'em." Jawab Elenora.
"Salah kami dong ya. Seharusnya kami memberikan jarak dari dulu, biar kalian ada rasa."
__ADS_1
"Ya gak gitu juga om," Elenora terkekeh. "Biu udah punya pacar loh om, tante gak kasih tau ya?"
"Enggak sih, kami jarang komunikasi, terakhir ya sewaktu makan bersama bulan lalu. Kamu ingat? Saat itu tante ngambek sama om karena belum bisa pulang kerumah, you know lah, pekerjaan banyak dan sampai sekarang tante masih mendiami om."
"Astaga..." Edwan hanya tersenyum melihat kesedihan Elenora soal hubungannya dengan sang istri. Helena memang selalu marah ketika tidak bertemu dengannya dalam jangka waktu lama, biasanya dia akan mengalah dan memilih untuk kembali dirumah dan melakukan work from home, sayangnya saat ini tidak bisa karena Evelyndra juga kesulitan jika mengurus perusahaan sendiri, dan berakhir Edwan membiarkan Helena tetap mendiaminya. "Om, butuh bantuan El?"
"No problem." Edwan berdiri, mengelus puncak kepala Elenora setelah mengelus pipi Angin. "Sudahlah, pesawat om sebentar lagi. Kamu pulang saja, sepertinya Angin mengantuk."
Elenora melihat kearah Angin, sedikit menunduk, karena anak kecil itu tengah bersandar dilengannya. "Iya om,"
Edwan membungkukkan dirinya untuk memeluk Elenora, tidak membiarkan perempuan itu berdiri takut membangunkan Angin yang mulai memejamkan matanya.
"Hati-hati om,"
"Iya sayang, see you."
"See you,"
Edwan berjalan keluar restaurant dan berpapasan dengan putranya, dia menepuk bahu Biundra pelan. "Antarkan El pulang,"
"Hm.."
"Perbaiki sifat jelekmu, tidak tau apa masalahnya, semua kamu juteki." Biundra tidak menjawab, laki-laki itu hanya membalas pelukan sang papa. "Papa pergi,"
"Hati-hati pa."
__ADS_1
Biundra melambaikan tangan sang papa yang sudah berjalan menuju taxi. Ia masuk kedalam restaurant, kembali ketempat Elenora berada. Melihat perlakuan Elenora pada anak kecil disampingnya membuat Biundra menghela napas. "Gue tunggu dimobil."
^^^To be continued 🖤🖤^^^