
...🖤🖤...
Segalau apapun Elenora, suasana kelas selalu tampak biasa saja. Bahkan saat Elenora menangis ketika tau Biundra tengah menjalin hubungan dengan orang lain, satu kelas hanya mengejek dan ada juga yang memberikan semangat. Kali ini, suasana kelas menjadi mencekam, Elenora tidak datang dengan senyum manisnya. Salah satu anggota kelas yang jarang sekali mengobrol dengan geng Elenora mendadak menghampiri perempuan beraura gelap itu.
"Elenora sakit?"
Elenora menggeleng, dia tidak menjawab pertanyaan perempuan berkacamata itu.
"Pipi kamu bengkak, are you okey Elenora?"
Elenora menatap perempuan itu datar, tidak menjawab dan membuat perempuan itu mengerjapkan mata bingung. Mendadak tangan Elenora terulur membuat perempuan itu mendekatkan diri, Elenora memeluknya dan bersandar di bagian perut.
"Lo baik banget elah, padahal gue suka bully." Elenora diam saja ketika perempuan itu mengelus puncak kepalanya untuk menenangkan. Elenora memang terkenal berisik dan suka mengganggu mahasiswa/mahasiswi yang pendiam.
Perempuan itu melihat kearah dua teman Elenora yang berjalan mendekat, menatap bingung dengan posisi Elenora itu.
"Sepertinya Elenora sakit, pipinya bengkak." Jawab perempuan yang di peluk Elenora saat melihat tatapan kedua teman Elenora.
Kalimat perempuan berkacamata itu membuat Movie dan Lynne melebarkan mata, berjalan cepat menuju Elenora.
"El,,"
"I'am okey," Elenora menjawab, perempuan itu masih memeluk pinggang mahasiswi yang Lynne dan Movie tau sering dijadikan Elenora bahan bullyan. Mereka berdua menatap perempuan berkacamata itu, dan perempuan itu balas dengan anggukan seakan memberitanda bahwa dia baik-baik saja.
"Berantem sama Biundra?"
__ADS_1
"Enggak," balasnya.
"Terus kenapa? Bukannya lo harusnya seneng ya Biundra putus,"
"Jadi putus?" Movie menengahi, dijawab anggukan oleh Elenora. "pantes, tadi gue lihat dia caper sama dosen muda fakultas sastra bahasa. Keren loh Biundra, sejauh itu dia berjuang."
"Anj*ng." Umpat Elenora, dia meringis menatap perempuan yang dia peluk. Elenora melepaskan pelukan, menepuk lengan perempuan itu pelan. "Ehh, thanks ya."
Setelah ucapan terima kasih dan balasan anggukan, Elenora menatap kedua temannya dan membirkan perempuan berkacamata itu pergi kebangkunya.
"Lihat nih." Menunjuk pipinya yang memar. "Anjiir, Jesslyn kuat banget nampar sampai pipi gue bengkak."
"Serius El?" Movie meringis mengelus pipi Elenora. "Udah lo kompres kan? Gue takut ada pembengkakan."
"Udah, Biundra yang lakuin." Elenora menggerakkan rahangnya yang terasa kebas. "Jesslyn mungil, gue gak nyangka dia punya kekuatan sebesar itu."
"Biundra makin kesini makin kesana sih." Lynne menggeleng heran.
"Ele, seriusan deh, kalau gini terus lo yang bakal kesakitan." Lynne menatap lemah, dia tidak tega jika Elenora harus menderita karena cintanya. "Bagaimana kalau akhirnya seluruh mantan Biundra bales dendam ke lo, banyak loh."
"I don't care about that." Elenora bersandar menatap ponselnya. "Gue udah bilang sama Biu untuk jauhin gue."
"Seriously, lo ngomong kayak gitu??"
Elenora mengangguk. "Kalau kalian ada disana kemarin, kalian gak akan pernah nemuin Biu yang yang kemarin, dia beneran bukan Biu yang kalian lihat seperti biasanya."
"Emangnya gimana?"
__ADS_1
"He cries too much." Elenora terkekeh. Lynne dan Movie menatap kaget, Biundra yang keren itu menangis? Wahh, ini hebat. Tapi mereka semakin menatap kaget saat Elenora mengatakan, "apa gue coba terima tawaran dari mas Ivano ya?"
Beberapa detik kemudian Elenora mengangguk yakin. "Kali aja temen-temen mas Ivano ada yang cocok sama gue kan? Tapi gue takut gak cocok, ahh gak jadi deh, mau cari sendiri aja." Lynne dan Movie menggeleng, memahami bagaimana keputusan Elenora yang berubah-ubah.
...🖤🖤...
"Hai Elenora."
Elenora menoleh, pada sosok laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya. Elenora mengembangkan bibir manisnya. "Hai Galaksi."
"Kamu tau namaku?"
"Um, Biundra yang kasih tau." Elenora mengulurkan tangannya yang langsung ditanggapi oleh laki-laki dihadapannya. "Elenora."
"Galaksi, salam kenal." Galaksi mengelus pungging tangan Elenora lembut.
"Salam kenal kembali. Oh ya," Elenora membuka ponsel dan menekan sebuah aplikasi lalu menyodorkan ponsel miliknya pada laki-kaki didekatnya itu. "Tukar nomer telepon yuk,"
"Oh, boleh." Laki-laki itu segera meraih ponsel Elenora dan memasukkan nomernya.
Galaksi menyerahkan kembali ponsel pada sang pemilik, Elenora meraih dan langsung memasukkan kedalam tasnya. "Kirain sekelas sama Biu?"
"Enggak.." Laki-laki itu tersenyum.
"Hei..." Sapaan Biundra memotong ucapan Galaksi, laki-laki di samping Elenora hanya tersenyum tipis ketika Biundra datang dan merangkulnya, bahkan menyelipkan elusan lembut dipipi Elenora. Biundra menatap Galaksi. "Yuk,, duluan."
"Okey, hati-hati." Lintang membalas lambaian tangan Elenora.
__ADS_1
"Apa-apaan itu," Biundra heran dan langsung menurunkan tangan Elenora untuk berhenti melambaikan tangannya.
^^^To be continued 🖤🖤^^^