
...🖤🖤...
"El... Elenoraa!!!" Biundra berteriak kencang saat memasuki apartemen Elenora, bahkan saat pintu baru terbuka saja suaranya sudah menggema masuk. Tidak ada sahutan dari dalam, tapi tetep membuat Biundra nyelonong saja toh sudah biasa. "Eleee...."
Tidak ada jawaban membuat Biundra frustasi, kamar Elenora kosong. Dia melihat jam tangan menunjukkan pukul setengah dua belas malam, tidak mungkin perempuan itu masih berada di mall, pikirnya. Mulutnya masih berteriak memanggil nama Elenora, dari lengkap, singkat, hingga panggilan yang sering dia gunakan. Kakinya melangkah sampai didapur, nafasnya menghela lega. Sosok langsing dengan dress mini hitam sedang berjongkok didepan kulkas, astaga, pahanya terekspos sangat jelas.
"El..."
"Hmm..."
Biundra terdiam sebentar, apa mungkin Elenora marah padanya?
Sebelum memanggil lagi, Biundra menarik nafas sebentar. "El..."
"Apasih Biu,," suaranya terdengar kesal.
"Kenapa gue teriak gak lo sahutin?"
"Penting banget apa? Lo gak lihat gue lagi sibuk gini?" Elenora menjawabnya tanpa memperlihatkan wajah, tangannya sibuk merapikan buah, minuman dan beberapa cemilan cokelat kedalam kulkas. Elenora suka kerapian. "Ngapasih?"
"Sorry, gue lupa soal nganterin lo belanja."
"Santai aja."
"Lo boleh marah."
__ADS_1
Elenora berdiri, membuat mata Biundra melepar kala melihat wajah perempuan dihadapannya.
"Gak ada hak gue marah."
Biundra tidak menanggapi, tangannya menarik ujung kaos lengan panjangnya. Dia usap pada bibir merah Elenora. "Lo pakai lipstik kemerahan."
"Sengaja, gue mau nemuin temen-temen gue."
"Ke club?"
"Iya."
"Anjiir, kek jablay lo."
"Serah guelah." Menutup pintu kulkas, membawa keranjang buah dan menaruhnya kedalam rak khusus keranjang. "Gue emang kurang belaian."
"Gak berasa."
Biundra sangat tau kalau Elenora pasti sedang menahan kesal padanya. Biundra menahan lengan Elenora agar tidak beranjak pergi. "El, lo boleh marah karena gue ingkar janji."
"Elah, santai aja kali." Melepas tangannya dari gengaman Biundra, dia menepuk pundaknya. "Gue paham kok Biu, lo kan baru jadian sama Jesslyn. Pasti lo maunya nempelin dia mulu kan? Ya gak apa-apa, gue masih bisa sendiri buat belanja."
"Serius?"
"Iyaa. Santai aja," Elenora memutat tubuhnya. "Buktinya, gue baik-baik aja."
Biundra mengecup bibir merah Elenora cepat, membuat mata perempuan itu melebar, memukul dadanya kuat. Sebelum mengumpat, Elenora sempatkan untuk mengusap bibir bekas ciuman Biundra. "Bangs*t lo Biu, ngilangin lipstik gue aja."
__ADS_1
"Gak usah pergi, yaaa."
"Apasih, minggir." Mendorong tubuh Biundra dengan kasar.
"Gak usah pergi El," menahan tubuh Elenora dengan memeluknya dari belakang. "Gue lari-lari kesini loh."
"Suruh siapa?" Melepaskan pelukan mereka.
"Nurut El, gak usah pergi. Gue gak suka lo pakai pakaian kayak gini."
Elenora melihat tubuhnya. "Perasaan biasa aja."
"EL!! Gue bilang gak usah pergi, ya nurut!!!"
Elenora sempat kaget dengan nada tinggi Biundra, tapi dia kembali menguasai dirimya. "Anjiir, apansih gak jelas."
"Lo gak mau dengerin omongan gue."
"Ya lo gak ada hak ngatur-ngatur gue!!!" Elenora ikut menggunakan nada tinggi. Ini pertama kalinya mereka menggunakan nada tinggi untuk berdebat.
"Okey. Terserah lo mau ngapain!! I don't care!!!"
"Yoai." Balas Elenora, Biundra memang tidak ada hak atas dirinya, jadi untuk apa dia menuruti kemauan teman baiknya itu.
Elenora tidak paham kenapa laki-laki itu mendadak memasang wajah kesal padanya, seharusnya dia yang marah kan?
Pintu apartement tertutup dengan sangat kuat, bahkan Elenora yang berada didapur, cukup jauh dari pintu utama saja bisa tersentak kaget karena saking kuatnya. Elenora sangat tidak paham, dia tetap meraih tas dan kunci mobil untuk menyusul teman-temannya.
__ADS_1
^^^To be continied 🖤🖤^^^