FWB (Friends With Benefit)

FWB (Friends With Benefit)
Menolak membantu


__ADS_3


...🖤🖤...


Sekitar pukul satu siang, kata sandi apartemennya telah berbunyi, Biundra menoleh pada jam dinding, dia berdiri memasukkan kedua tangannya kedalam saku. Menatap perempuan yang datang dengan menentang sesuatu dikedua tangannya. Kedua tangan yang penuh itu tersodor kedepannya.


"Bawain, berat."


Biundra meraih beberapa papper bag dan plasik agar berpindah ketangannya. "Lama amat."


"Ngantri geprekkk, sekali udah ambil giliran ehhh habis, sialaan," Elenora melepaskan kedua alas kaki, dia taruh keujung pembatas agar tetap membiarkan sepatunya tergeletak ditunggakan kecil. "Airr, haussss..."


Biundra melihat Elenora berlari menuju dapur, membuka kulkas dan langsung meraih minuman dingin. Biundra menaruh barang bawaan Elenora keatas meja, melihat isinya, beberapa cemilan dan ada plastik berisi beberapa merk obat.


Biundra tersenyum tipis, Elenora selalu memperhatikkannya, ia berjalan kesisi kulkas yang terbuka.


Saat pintu tertutup,


"Astaga!!" Tubuh Elenora tampak menegang ketika ia berdiri disebelah kulkas tanpa suara, tentu saja hal itu membuat Elenora kaget setengah matii. "Biu, lo ngagetin gue aja."


Biundra tertawa kecil karena melihat Elenora begitu lucu. "Sorry."


"Hmm..." Balasnya sembari membuka penutup botol.

__ADS_1


"El, bisa ngomong serius sama gue."


"Ha? Tumben, biasanya main ngomong aja sama gue." Elenora menegak air didalam botol dengan ganas, antara haus dan menahan kegugupan.


"Bantuin gue putus sama Floretta."


"Uhukk..." Elenora tersedak air putih, buru-buru Biundra meraih kotak tissue dan ia ambil selembar untuk membersihkan air yang keluar dari mulut Elenora, perempuan itu juga ikut meraih tissue beberapa lembar untuk memberaihkan diri.


"Pelan-pelan El..." Ujarnya disela-sela membersihkan.


"Lo gilaa ya anjir!!" Bentaknya.


"Lah, kok marah?"


"Eum, bosen."


"Bosen!!! Astaga!!" Elenora mengusap wajah dengan gusar. "Dia sesuka itu loh sama lo Biu, tuh dia nitipin berbagai macam obat yang bagus untuk lo karena semalem lo ngomong sama dia kalau lagi gak enak badan!!"


"Gue udah sembuh."


"Lo bilang lo suka sama bu Floretta, lo lupa!!"


Biundra mendekat, mengelus leher Elenora dengan lembut. "Jangan teriak-teriak, nanti sakit El, urat lo sampai nimbul gini."

__ADS_1


Elenora mundur, membuat tangannya yang semula mengelus menjadi mengambang diudara. Melihat itu Biundra menarik tangannya dan ia masukkan kedalam saku.


"Biu, jawab, lo bilang lo suka sama bu Floretta. Lo bilang kalau bu Floretta perempuan yang selama ini lo cari, lo cocok sama dia."


Biundra menggeleng. "Gue gak pernah bilang cocok sama dia, gue bilang nyaman sama Floretta."


"Biii, it's the same. Nyaman sama cocok sama saja."


"No.." Biundra menggeleng. "Nyaman sama kayak ke Ariana, Bella, Cindy, Diana, Erika, Fani, Geisya, Hanin, Indira, Jesslyn dan lain-lain....."


Biundra menyebutkan semua mantan yang dia ingat, sekaligus mengingatkan kepada perempuan dihadapannya, nama-nama perempuan yang Elenora mengambil andil untuk membantunya putus.


Elenora terlihat gelisah, "Biu, cari orang lain aja ya. Gue gak bisa.."


Mendengar itu membuat Biundra kaget. "Kenapa?"


"Sorry, gue mau pulang." Elenora menghela napas pelan. "Lo udah janji. Kalau bantuin lo putus sama Jesslyn adalah terakhir bantuan dari gue."


Biundra terdiam, dia tidak mencegah Elenora yang mulai berjalan menuju ruang utama. Sikap aneh Elenora membuatnya sedikit bingung, apa ia salah? Biasanya Elenora akan menerima permintaannya untuk membantu.


Ya memang. Biundra tidak pernah lupa soal janjinya waktu itu, bahwa Elenora akan membantunya putus untuk terakhir kalinya. Biundra tidak menyangka Elenora akan ingat, padahal itu adalah kejadian lama.


^^^To be continued 🖤🖤^^^

__ADS_1


__ADS_2