FWB (Friends With Benefit)

FWB (Friends With Benefit)
SPECIAL PART (2)


__ADS_3


...🖤🖤...



Biundra semakin gelisah saat berdiri sendirian dialtar pernikahan megahnya, dia melihat kearah Kavindra yang tangannya terus bergerak memintanya untuk berdiri tenang, Biundra mengangguk patuh. Mata Biundra menatap Evelyndra yang tersenyum dengan mengepalkan tangan, memberinya semangat.


Dan sialnya ia tidak bisa tenang, peluh sudah membanjiri dahinya.


Disisi lain, mempelai perempuan begitu tenang menggenggam buket bunga rustic, bunga sederhana dengan nuansa vintage. Elenora menatap sang papa, wajahnya begitu tegang.


"Pa, are you okay?"


"I'am not, papa gugup Ele, bagaimana ini?"


Elenora tersenyum, menggenggam tangan sang papa dengan lembut. "Kita minta jeda sebentar bagaimana? atau mau digantikan oleh kak Quin."

__ADS_1


"No, that will never happen." Ujar Tuan Oxley pelan. "Sampai kapanpun, tugas seorang ayah adalah wali untuk pernikahan putrinya. Kamu putri satu-satunya papa, papa masih hidup, untuk apa digantikan oleh kakakmu."


"Papa sedang tidak baik, El tidak masalah."


"Papa yang akan menjadi masalah jika harus digantikan." Tuan Oxley menghela napas sebentar. "Apa kata orang jika papa tidak menjadi walimu, itu dosa besar El. Papa tidak akan melakukannya, tenang saja, papa bisa atasi."


Elenora tersenyum. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada sang papa.


Tirai terbuka, membuat tuan Oxley dan Elenora mulai berjalan menuju altar pernikahan, melewati ratusan tamu undangan dua keluarga itu. Para teman-teman Elenora dan Biundra menatap kagum pada mempelai perempuan. Elenora begitu cantik dengan gaun panjang berwarna putih, sebuah mahkota kecil diatas kepalanya, sentuhan make-up tipis, bibir manisnya mengembang sempurna.


Sampai dialtar pernikahan, Tuan Oxley menyerahkan tangan putrinya yang ia genggam kepada Biundra. "Titip Ele ya Biu."


Tuan Oxley gemetar, Biundra mengganti panggilan kepadanya, dia ingin berteriak, tapi harus tetap menjaga image coolnya.


Biundra menggenggam kedua tangan Elenora dengan erat, raut wajah mereka melukiskan betapa bahagianya mereka hari ini. Ikrar janji yang akan keduanya ucapkan akan menjadi saksi untuk kehidupan mereka selanjutnya.


Biundra menghembuskan napas sebentar sebelum mengucapkan ikrar. Tangan yang saling bertautat sudah basah karena tangannya berkeringat dingin. "Saya mohon kepada semua yang hadir di sini untuk menjadi saksi bahwa pada hari ini, saya Biundra Collins mengambil Elenora Oxley sebagai istri saya yang sah, dan saya berikrar, akan mencintai istri saya dan membuatnya bahagia, akan setia kepadanya dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan, akan bersama-sama mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya, akan menjadi suami yang baik dan menghiburnya dalam kesulitan, dan akan membina keluarga yang rukun dan bahagia di waktu senang dan di waktu susah."

__ADS_1


Bibir Elenora terus mengambang, bagaimana bahagianya saat mendengar ikrar seindah ini. Ia ikut menarik napas pelan. "Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi,  saya Elenora Oxley dengan niat yang suci dan ikhlas hati memilihmu Biundra Collins menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidupku. Saya bersedia menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak  yang akan dipercayakan Tuhan kepada saya."


"Yang disatukan oleh Tuhan tidak akan dapat dipisahkan oleh manusia."


Untuk melengkapi ikrar janji, mensahkan mereka untuk mejadi suami dan istri, kedua dipersilahkan menunjukkan kisah kasih mereka.


Biundra maju, mengelus pipi Elenora dengan ibu jarinya, tangan lainnya masih bertautan. Elenora membalasnya dengan senyum indahnya. Keduanya berciuman, lembut tanpa paksaan ataupun membara, cukup lama, keduanya seakan tidak perduli ada ratusan mata yang melihat kearah mereka. Biundra menarik pinggang Elenora untuk menempel padanya, ia begitu haus pada Elenora, rasanya kecupan adalah hal yang kurang hingga ciuman mereka begitu dalam.


Biundra mendengus kesal ketika seseorang melepaskan pelukannya pada Elenora. "Tahan, masih banyak tamu, bisa dilanjutkan nanti saja."


Mendengar kalimat Kavindra, seluruh tamu terkekeh, bahkan ada yang tertawa keras memaklumi bagaimana rasanya menikahi orang yang dicintai.


"Berisik, minggir, mengganggu saja." Melepaskan tangan Kavindra dari bahunya, dan melepaskan tangan Kavindra dari pinggang istrinya. Biundra kembali menarik Elenora dan melanjutkan ciuman yang tertunda.


Tuan Oxley dan Tuan Collins berdiri, menatap kepada para tamu, mereka mengatupkan kedua tangannya, meminta maaf pada pertujukan posesif mempelai pria.


"Mari, kita makan saja, biarkan pengantin baru itu berbuat sesukanya." Teriak Tuan Oxley, menarik para tamu bisnisnya untuk mengenyangkan perut.

__ADS_1


^^^🖤🖤^^^


__ADS_2