FWB (Friends With Benefit)

FWB (Friends With Benefit)
Si posesif


__ADS_3


...πŸ–€πŸ–€...


Jangan terlalu memusingkan melihat dua manusia dengan wajah bahagia. Biundra dan Elenora berjalan menuju gedung universitas dengan bergandengan tangan. Keduanya tampak sangat bahagia.


Tentu saja pertunjukan itu menimbulkan banyak pertanyaan bagi semua orang yang tidak sengaja melihat. Gandengan tangan berubah menjadi merangkul, Biundra merangkuk Elenora dengan lagak manjanya. Astaga. Arnav terlihat mual.


"Bisa berhenti seakan dunia milik kalian berdua?" Ujar Arnav ketika keduanya berhenti tepat didepan kelas Biundra. "Masih ada penghuni mesra lainnya, jadi gak usah sok paling mesra disini."


"Bacoot." Jawab Biundra, ia melepaskan rangkulan dan menatap Elenora dengan dalam. "Ahh, gak may pisah sama Elll,"


"Ewh..." Arnav, Xena, Jason, dan dua teman lainnya langsung mendadak geli ketika Biundra memeluk Elenora, enggan melepaskan.


"Sirik bilang boss."


"Lebih ke jijik sih Bi," jawab Xena.


Biundra melengos saja, menatap Elenora yang tersenyum tipis. "Sudah ah, mau kekelas."


Elenora lebih tampak biasanya dengan sikap berlebihan Biundra, perempuan itu melepaskan tangannya dan melambaikan tangan pada Xena. Elenora berjalan menyebrang menuju gedung fakuktasnya. Tentu dengan tatapan intimidasi dari ketiga temannya.


"Ada apa nihhh,"


Elenora menahan senyumnya bukannya menjawab. Dia berjingkrak riang sembari menarik Lynne untuk masuk kedalam, diikuti Movie dan Clara.


"Kalian harus percaya kalau Biu sama bu Floretta gak ada hubungan."


Movie mencibir. "Teruss, lo ngerasa ada kesempatan. Gak usah berharap El, lo bakal sakit lagi entar."


"Betul," Clara sangat menyetujuinya.


"Iih, kalian dengerin dulu." Kesalnya. "Biu ungkapin perasaannya sama gue."


Movie menggebrak meja. "Kan, gue bilang juga apa."


"Lo gak bener Mov, jadi dukung atau enggak!!"

__ADS_1


Movie malah tertawa besar, dia pasti mendukung apapun yang terjadi pada para sahabatnya. Kekesalan pada Biundra dulu adalah hari yang lewat, itu mungkin karena Biundra belum memahami perasaannya terhadap sahabatnya, Elenora. Kini Movie mendukung jika memang keduanya saling menyukai bukan?


"I'am always happy for you." Lynne berjalan memeluk Elenora, "kesabaran lo pasti membuahkan hasil kan El, jadi lo pacaran sama Biundra sekarang?"


Elenora menggeleng, membuat ketiga temannya bingung. Namun mereka tersenyum merekah ketika Elenora mengangkat tangannya, menunjukkan sebuah cincin dengan berlian indah tersemat dijari manisnya.


"I'am someone's fiancΓ©. Now!!!"


...πŸ–€πŸ–€...


Biundra berjalan bersama Jason menuju kantin gedung fakultas psikologi, selain karena soto dikantin ini enak, keduanya ingin menemui pasangan masing-masing. Jason langsung berjalan memeluk Lynne, sedangkan Biundra menatap ketiga perempuan didepannya.


"Ele, mana?"


"Tadi sama Galaksi, jadi kami duluan kekantin."


Hal itu membuat Biundra berjalan dengan cepat menuju kelas Elenora, namun sosok kekasihnya itu tidak ada. Dia keluar dan sempat bertanya dengan beberapa teman sekelas Elenora lainnya, dan menemukan Elenora sedang berdiri bersama Galaksi dibawah pohon besar. Biundra tidak melangkah kesana, hanya berdiri menatap Elenora yang begitu tenang berbicara.


Biundra sengaja. Barangkali mereka berdua membutuhkan ruang untuk mengobrol.


...πŸ–€πŸ–€...


Elenora mengangguk. "Dia mengatakannya semalam."


"Itu bagus, berarti tugasku membuatmu lupa sudah gagal Elenora." Mereka berdua saling melemparkan senyum. "Sejauh apapun kamu pergi, tempatmu kembali adalah Biundra."


"Kamu laki-laki yang sempurna."


"Aku tidak sempurna Elenora, jika aku sempurna, aku bisa mengambilmu dari Biundra." Senyum Galaksi tampak kecewa. "Tapi sudahlah, aku turut bahagia."


Galaksi melangkah mendekat. "Boleh peluk untuk terakhir?"


Elenora mengangguk, membuat Galaksi bergerak langsung memeluk Elenora, beruntung Elenora membalas itu. Tidak lama. Galaksi menyadari keberadaan Biundra, ia tidak ingin membuat kesalah pahaman.


"Aku pergi,"


Elenora mengangguk. "Ee Galaksi tunggu."

__ADS_1


Galaksi menghentikan langkahnya, laki-laki itu berbalik dan melihat Elenora berjalan menghampiri. "Boleh aku tanya?"


"Silahkan."


"Apa alasanmu mendekatiku?"


Galaksi tersenyum tipis, tangannya terulur menyelipkan helai rambut Elenora yang terlepas dari belakang telinga. "Kamu ingat Jesslyn?"


"Jesslyn? matan Biu ya?"


Galaksi mengangguk. "Dia sepupu aku, and i love her."


Elenora dia menatap Galaksi untuk melanjutkan cerita.


"Dia nangis malam itu, katanya Biundra selingkuh sama sahabatnya, aku tidak percaya karena aku tau kalau kalian cuma bersahabat. Tapi saat aku cari tau, aku lebih marah, kamu membantu Biundra karena dia bosan dengan Jesslyn." Galaksi masih mempertahankan senyumnya. "Aku berniat deketin kamu untuk balas rasa sakit Jesslyn, tapi aku salah, semakin mendekatimu aku malah jatuh cinta."


Keduanya tertawa kecil. "Dan semakin lama aku mengenalmu, aku tau bahwa kamu membantunya karena terpaksa. Maaf kalau dulu aku sempat berniat jahat sama aku, sekarang tidak,"


"Lalu, bagaimana kamu dengan Jesslyn?"


Galaksi menggeleng kecil. "Dia tidak tau soal perasaanku, dia masih menganggap aku seperti kakak laki-lakinya, aku sudah move on."


"Semangat Galaksi," tanpa meminta izin, Elenora bergerak memeluk Galaksi erat, memberikan elusan dipunggung laki-laki itu.


Pelukan erat Galaksi mengendur saat mendengar langkah kaki yang mendekat.


"Sudah acara pelukannya."


Galaksi tersenyum pada sosok dibelakang Elenora, sayangnya ia tetap mengeratkan pelukannya membuat laki-laki itu menggeram kesal.


"Terakhir kali dong, Biundra."


Biundra menarik Elenora menjauh dari pelukan Galaksi. "Iya, tapi sebentar saja."


"Dasar posesif."


^^^END πŸ–€πŸ–€^^^

__ADS_1


__ADS_2