
...🖤🖤...
"Elenora dimana?"
Clara, Lynne, dan Movie melihat kearah Biundra. Laki-laki itu berdiri tepat dibangku Elenora yang kosong tanpa sepatah kata permisi, kebiasaan. Movie mengangkat tangan untuk Biundra agar melihat kearahnya.
"Eum, aku lihat dia kekantin bersama Galaksi." Jawab Movie semangat. Kedua temannya sudah paham dengan suara lantang itu, Movie kan sangat semangat jika masalah memanas-manasi Biundra.
"Galaksi?" Tanya Biundra.
Movie mengangguk semangat, bibirnya tersungging bahagia. Entahlah, dia ingin Biundra merasakan perasaan sakit ketika tau bahwa Elenora bersama orang lain selain dirinya. "Sejak dosen masih dikelas, Galaksi sudah menunggu diluar cukup lama. I don't know, but he seems very interested in Elanora."
Movie menggeser tubuhnya ketika terasa tangan Lynne mencubit lengannya, pergerakan itu sengaja dia lakukan karena tau kalau Lynne sedang menyuruhnya diam. Tidak boleh melebih-lebihkan.
"Gue dengar Galaksi yang mengantar El pulang, kemarin."
Biundra melihat kearah lain, entah tidak perduli atau menutupi perasaan kesalnya.
"Movie berlebihan," Lynne bersuara dengan diiringi tawa. "Galaksi hanya mengantar sampai ke stasiun saja, soalnya gue nganter juga."
__ADS_1
"Setidaknya itu nganter." Clara menimbrung, entah berniat membenarkan ucapan Movie atau malah sengaja ikut menjadi kompor untuk Biundra.
Mereka semua tau, bahwa Biundra dan Elenora itu memiliki jadwal pulang bersama, tapi semua tau bahwa kemarin sempat terjadi perdebatan dan berakhir Elenora memilih untuk pulang sendiri. Biundra selalu menjadikan Elenora prioritasnya sejak dulu, entah memiliki kekasih atau tidak, tapi tidak untuk akhir-akhir ini.
Biundra mengangguk sebelum merapikan tas yang dia sandang dibahu kiri. "Kalau gitu gue pulang duluan."
"Okey, hati-hati Biundra."
Biundra tidak membalas Lynne, dipergi saja menuju pintu. Saat didepan kelas dia bertemu dengan Galaksi dan Elenora yang berbincang dengan iringan tawa kecil, keduanya menghentikan candaan ketika melihat Biundra disana.
"Hai Bi," sapa Galaksi,
Biundra mengangkat tangannya membalas sapaan Galaksi, lalu dia menatap Elenora. "Gue tunggu diapart gue."
...🖤🖤...
Elenora duduk dikursi meja makan diapartemen Biundra. Disana dia hanya menyaksikan Biundra membuat jus buah, laki-laki itu menolak bantuan darinya.
Karena bingung, Elenora memilih duduk dan menonton saja. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut laki-laki itu sejak tiga puluh menit dia datang.
Sekitar lima menit Biundra menyibukkan diri, akhirnya sebuah gelas tinggi ditaruh dihadapan Elenora.
__ADS_1
"Minum." Suruhnya.
Elenora menatap gelas itu sebentar, lalu meraihnya dan mengendus pelan.
"Gak gue racun."
"We never know." Jawabnya, sembari menyeruput jus buah. Hum, cukup membuat tenggorokannya terasa segar.
Mereka tenggelam dalam kesegeran jus buatan Biundra. Laki-laki itu memang pandai membuat segar orang, hehe, dibalik gelas bening itu Elenora tersenyum tipis, namun bibir yang sedang melengkung itu mendadak memudar saat melihat Biundra yang tengah menatapnya.
Elenora menaruh gelas dengan pelan. "Kenapa?"
Tangan Biundra maju mengusap bibir Elenora, mungkin ada jejak jus dikedua ujung bibirnya.
"We need to talk." Ucap Biundra setelah selesai urusannya dengan bibir Elenora.
"About what?" Tanyanya, matanya menatap ke gelas yang menyisakan setengah jus, entah kenapa Elenora tidak berani menatap mata Biundra. Tatapan laki-laki itu terlalu serius hari ini.
"About our relationship."
Elenora mendongak baru berani menatap Biundra, dadanya berdegub kencang hanya karena Biundra mengajaknya bicara soal apa tadi? Akkk, Elenora ingin berteriak, Biundra ingin membicarakan soal hubungan mereka.
__ADS_1
Apa ini adalah jawaban dari perasaan Elenora?
^^^To be continued 🖤🖤^^^