
...🖤🖤...
"Huahh, lelaahhh!!!" Rengek Elenora saat masuk kedalam apartment, dia menaruh jaket dan tas secara asal. Kakinya setengah berlari menuju dapur, membuka kulkas dan mencari cola dingin.
Dia tenggak dengan rakus ketika kaleng cola sudah dia buka. Seperti lama tidak bertemu air. "Hahh.. Segerrrr..." Dia menikmati cola dingin sembari berjalan menuju ruang tamu untuk mengambil tas dan jaketnya dengan bernyanyi kecil menyenandungkan lagu yang sempat dia nyanyikan di tempat karaoke tadi. Tangannya meraba saklar, dia lupa menghidupkan lampu. Saat masuk dia hanya ingin menyegarkan tenggorokan tanpa butuh penerang.
Saat lampu menyala, cola ditangannya terlepas karena terkejut dengan sosok yang duduk disofa, menatapnya tajam.
"Biu, astaga!!!" Pandangannya turun kebawah, air colanya sedikit tumpah, buru-buru Elenora meraih tissue dan membersihkan lantainya. "Huh, besok harus ngepel dong, bisa lengket."
"Bahagia banget kelihatannya."
Elenora mendongak, melihat Biundra dengan kalimat datarnya. Elenora mengangkat kedua bahunya. "Biasa aja tuh."
"Kelihatan banget loh,"
"Bukti?"
"Itu barusan nyanyi-nyanyi gak jelas." Biundra melihat kedua tangannya di depan.
__ADS_1
Elenora hanya menggidik acuh, buat apa juga menjelaskan panjang kali lebar pada Biundra. Mereka kan sedang bertengkar, dan Biundra adalah laki-laki tidak mau kalah.
"Where have you been?" Biundra bertanya karena Elenora tidak membalas ucapannya tadi.
Elenora berdiri, membuang sampah tissue kedalam tong sampah yang dia taruh didekat sofa. "Kan gue udah bilang, hang-out sama temen-temen."
"Lo gak tau ini jam berapa?"
Elenora mengangguk, mengetuk jam tangannya. "Tau, jam sepuluh."
Biundra berdecih. "Hang-out apaan sampai jam sepuluh malem. Emangnya lo besok gak kampus?"
"Yaelah Biu, hang-out doang gak bikin gue kesiangan." Balasnya. "Gue gak mabok kok, cuma karaokean doang elah, lebay banget."
Elenora mengerutkan dahinya, menatap Boundra dengan bingung. "Emangnya gue gimana biasanya, Biu, lo aneh tau gak? bisa to the point aja?"
Biundra berdiri, menghampiri Elenora dan menariknya hingga bersandar pada laki-laki itu. Biundra duduk ditangan Sofa, "lo selalu kabari gue kemanapun lo pergi ya El."
"Iya. Lo lagi marah kan? Ya maleslah gue chat lo cuma buat ngabarin itu."
"Cuma?"
__ADS_1
Elenora mengangguk, Dia naik keatas pangkuan Biundra, kedua kakinya dia gantung dibangku sofa dan tangannya melingkar dileher Biundra. "Iya."
"Lo tau El, mau marahan gimana pun kita, dulu lo tetep ngabarin gue kan?" Membenarkan posisi duduk Elenora di pangkuannya. "Meskipun gue gak bales, yakan?"
"Iya sih,"
"Ya kenapa lo gak minta maaf."
Elenora menggeleng. "Gue gak salah Biu, kenapa gue harus minta maaf?"
"Lo gak nurut sama gue,"
"Biu, Please don't act like I'm yours." Ucapan Elenora mendapat anggukan dari Biundra.
"Oke, gue minta maaf soal itu." Elenora mengangguk. "Gue mungkin sedikit berlebihan, but what I do is because your mama asked for it."
"Ya.. Ya... Paham paham.." Elenora tersenyum tipis, Biundra selalu menggunakan orang tuanya sebagai alat untuknya menurut, Elenora bergerak memeluk Biundra dan menggerakkan tubuh mereka. "Jadi kita baikan?"
"Of course." Biundra menarik tubuhnya untuk menatap Elenora, Elenora paham saat laki-laki yang memangkunya ini memejamkan mata dan mengerucutkan bibirnya.
Yeah.. Pertengkaran mereka akan diselesaikan dengan cara dewasa.
__ADS_1
^^^To be continued 🖤🖤^^^
Shiit, confused because it has to have 500 words to post