
...🖤🖤...
Mulai saat ini Biundra sudah menetapkan akan membenci senyum milik Galaksi, dari sekian banyak orang yang ia kenal, Biundra suka berteman dengan Galaksi. Galaksi adalah laki-laki teramah, terbaik, and he has a very beautiful smile. Tapi secara perlahan Biundra mulai benci senyum itu, padahal Galaksi tidak pernah menyakiti hatinya, tapi entah kenapa dia mulai tidak suka keberadaan laki-laki dihadapannya ini.
"Lo perlu apa Bi?" Tanya Galaksi ketika sudah keluar dari kamar Elenora. Laki-laki itu menutup pelan pintu kamar.
Biundra mengeraskan rahangnya, tanda bahwa dia sedang menahan kekesalan. Galaksi masih setia dengan senyum kepadanya, bukankah pertanyaan itu yang harusnya ia lontarkan?
"Em, gue mau kasih ini buat Ele." Biundra berjalan kesisi Galaksi hendak membuka pintu kamar Elenora. Namun tangan Galaksi tiba-tiba bertengger dibahunya, alis Biundra terangkat menandakan ia sedang melontarkan pertanyaan untuk Galaksi tanpa mengeluarkan sepatah kalimatpun.
"Takut Elenora bangun, sini gue aja yang pegang." Galaksi mengulurkan tangannya, meminta papper bag ditangan Biundra untuk diserahkan kepadanya. "Sini.. Nanti gue sampaikan sama Ele."
Biundra menatap tangan Galaksi yang bergerak, meminta segera papper bag ditangannya untuk segera diserahkan. Dengan berat hati Biundra menyerahkan papper bag tersebut.
Biundra bersandar diikuti Galaksi didepannya yang bersandar disamping pintu kamar Elenora. Mereka saling menatap sebentar sebelum Biundra membuka percakapan.
"Jadi kalian lagi pendekatan?"
__ADS_1
"Gak bisa dibilang gitu sih," tubuh Galaksi maju sedikit dan tangannya setengah menutup mulut, dia berbisik. "Soalnya Elenora susah didekati."
Biundra mengangguk, "tapi lo orang yang beruntung. Gua rasa El sudah memperbolehkan lo masuk."
"Iyakah?"
"Elenora tidak pernah memberikan akses kepada siapapun laki-laki untuk masuk kedalam apartementnya. Dan lo laki-laki kedua setelah gue." Biundra menatap kearah lain. "Lo tau Adel?"
"Adel?" Galaksi menggeleng, mungkin Galaksi merasa tidak mengenal nama itu.
"Nama aslinya Adelion. He is a beautiful man, sekelas sama Elenora dulu." Sisi yang Biundra sukai dari Galaksi adalah dia pendengar yang baik, dia hanya diam dan sesekali mengangguk ketika orang lain sedang berbicara. "Dulu akrab banget sama Ele, itu aja gak pernah Elenora izinin buat masuk ke apartemennya."
"Dia sama Adelion bertengkar, they become enemies."
"Kenapa?"
"Rebutan laki-laki."
"W-what?" Galaksi bingung, tapi dunia sudah menua, sudah biasa jika hal itu terjadi.
__ADS_1
"You know lah, gak usah kaget soal kayak gitu."
Galaksi mengangguk dan tersenyum lebar. "Waw, plot twist ya. Tapi gue seneng, jadi laki-laki yang diperbolehkan masuk kekehidupan Elenora."
Biundra terkekeh. "Yap. Gue pulang deh."
"Okey."
Biundra menatap Galaksi sebentar, "lo gak pulang. Elenora tidur juga."
Galaksi menggeleng. "Tadi El bilang kepalanya pusing, baiknya gue nunggu dia bangun sambil bikinin makan aja."
"Baik banget." Galaksi tertawa mendengar kalimat frontal Biundra, yang melihat itu hanya diam, padahal kata itu Biundra maksudkan untuk mengejek Galaksi, namun ternyata Galaksi menganggap ucapannya adalah sebuah pujian.
Entah bodoh atau pura-pura bodoh, Biundra hanya diam menanggapi tawa Galaksi.
Dan karena takut semakin kesal saat menemukan fakta bahwa Galaksi adalah laki-laki yang selalu tersenyum dalam menanggapi apapun. Biundra memilih pergi dari apartement Elenora.
^^^To be continued 🖤🖤^^^
__ADS_1
Ada baiknya aku post dua chapter, karena kemarin lupa post huhu ðŸ˜. Happy reading guys, thank you yang sudah ngikutin kisah Biundra dan Elenora ini. Love you buat kalian nihhh 🖤🖤🖤🖤🖤🖤