FWB (Friends With Benefit)

FWB (Friends With Benefit)
Gue suka sama lo


__ADS_3


...🖤🖤...


Drrtt.... Drrtt....


Getar ponsel membuat seseorang yang tengah asik terlelap hingga terbangun, mata terpejamnya tidak membuatnya kesusahan untuk mencari benda pipih itu. Saat ponsel ia dapatkan, matanya menyipit untuk melihat apa yang membuat ponselnya terus bergetar. Notifikasi grup-nya bersama teman-teman sangat banyak, dan log panggilan tidak terjawab terisi penuh dengan tiga nama, Arnav, Xena dan Jason. Satu pesan dari Xena membuat laki-laki yang tengah kebingungan itu membuka.


Xena Gamariel : Biu, lo dimana? aman gak sama Ele, semalem tuh cewek mukanya garang banget bawa lo pulang. Lo gak diapa-apain sama dia kan? Atau malah lo yang ngapa-ngapain? Ah, bodo amat.


Xena Gamariel : Pokoknya kalau bangun, langsung call gue ya. Gue tunggu!!!


Matanya melebar kala melihat pesan dari Jason dan Arnav.


Jason Abadi : Dude, where are you? sama Elenora kan? semalam dia telepon gue buat cari tau keberadaan lo.


Arnav Kusuma : Bi, are you okay. Semalam Elenora maksa mau jemput lo, sorry gue gak bisa nahan, jadi gue lepasin lo.


Mata Biundra terbuka dengan sempurna, dilihatnya tempat dimana dia tidur bukanlah kamarnya, Biundra menoleh kesamping kirinya, ada seseorang yang tidur disampingnya dengan sangat cantik.


"Bangs*t!!!" Umpatnya pelan, takut membangunkan. Tangan Biundra dengan lihai menekan panggilan pada Arnav.


"Ehh Bi, gimana?"


"Anjiir lo, kok lo biarin gue sama El sih!!" Intonasi kasar namun dengan nada kecil, Biundra sesekali menatap kearah Elenora yang masih terlelap disampingnya. "Ini gimana, bisa cantik banget si El lagi tidur."


"Biu, lo bisa gak sih gak usah denial lagi? lo gak capek nepis rasa suka lo itu? ngomong jujur sama El soal perasaan lo." Arnav malah balik memarahinya. "Gak usah ngelak, lo harus gentle, gue yakin kok kalau Elenora juga punya rasa sama lo."


"Gue takut Ar,"

__ADS_1


"Percaya sama gue Bi, lo cuma perlu ungkapin perasaan lo sama dia aja. Udah. Selesai. Urusan dia suka lo balik atau enggak, itu masalah belakangan." Arnav sangat tegas pagi ini. "Jangan terlalu jauh lo nyakitin banyak perempuan karena lo takut buat ungkapin rasa suka lo sama dia. Pertemanan kalian pasti baik-baik aja, entah dia nolak lo atau enggaknya."


"Iya bawel."


"Halah, gue gak yakin sama lo."


"Anjiing lo, pagi-pagi ngajak ribut."


"Eh Biu, kalau gue mau ya tiap menit kayaknya gue perlu ngajak lo ribut. Lo gak pernah mikir soal perasaan Elenora sih, yang lo pikirin cuma perasaan lo doang." Arnav terkekeh. "Cuddle elit, menyatakan perasaan sulit."


"Udah ngejeknya,"


"Belom sih, tapi gue kasih waktu luang buat lo untuk ungkapin."


"Ya.. ya... ya..."


"Morning, Biu..." Biundra tersentak kaget, kepalanya menoleh pada sosok Elenora yang sudah terbangun, dengan wajah bengkak khas bangun tidur, suara serak dan menggeliat pelan.


Biundra berdehem, menetralkan suaranya. Dia baru sadar kalau Elenora akan secantik ini saat bangun tidur. "Morn,"


"Gimana sama mabuk lo? pusing gak?"


Biundra menggeleng. "Gak, biasa aja."


"Ouh, okay, gue bikinin sarapan bentar ya." Elenora duduk ditepi ranjang, meraih jedai dan menggulung rambutnya keatas. Biundra menelan saliva, ia baru sadar betapa s*xy Elenora saat melakukannya tadi. "Lo bersih diri aja, selagi gue buat." Ucap Elenora sebelum meninggalkan kamar tidur.


"Hmm...."


...🖤🖤...

__ADS_1



Sudah setengah jam Elenora berada didapur, dan sarapan oatmeal buatannya juga telah selesai beberapa menit yang lalu. Tapi sosok Biundra belum juga muncul.


"Bi,,," panggil Elenora didepan pintu kamar mandi. "Are you okay? kenapa lama."


"Bentar,,," jawaban datar Biundra membuat Elenora mengangguk dan kembali ke dapur.


Sepuluh menit kemudian Biundra datang dengan keadaan lebih bersih, mengenakan pakaiannya yang masih ada diapartemen Elenora. "Kenapa lama dikamar mandi? gak enak perutnya?"


"No," Biundra duduk meraih mangkuk berisi sereal dan beberapa buah yang dicampur menjadi satu lalu diberi kuah yogurt. Delicious. Biundra memang selalu sarapan seperti ini ketika bersama Elenora. "Lagi mempersiapkan diri."


Elenora menaruh piring terakhir yang dia cuci. "For what?"


"To tell you,"


Elenora berbalik menatap Biundra yang mengaduk-aduk makanan tapi belum ada satu suappun yang masuk kedalam mulutnya. "Ngomong apaan dah."


"Ya ngomong apa aja."


"Konteks-nya Biu,"


"Emang ngomong perlu konteks?"


"Ya masalah lo kalau ngomong ya tinggal ngomong, kenapa sekarang pakai mempersiapkan diri segala." Ujar Elenora.


Biundra mendongak menatapnya dengan wajah kesal. "Lo gak paham ya El, gue tuh suka sama lo anjirr,"


^^^To be continued 🖤🖤^^^

__ADS_1


__ADS_2