
...🖤🖤...
Perempuan dengan kaos oblong hitam dan celana joger abu-bau mendengus kesal menghadap ketiga temannya, sejak kapan pula apartemennya menjadi markas tongkrongan mereka. Xena kesal, tapi dia sedikit beruntung karena tiga laki-laki itu datang tidak dengan tangan kosong, lumayan untuk menemaninya bergadang beberapa hari kedepan. Ah, tapi Xena masih tetap kesal karena kamarnya menjadi berantakan. Arnav duduk dimeja belajarnya, membantunya mengerjakan tugas. Jason tiduran dikasurnya sembari bermain PlayStation dengan Biundra yang duduk dilantai sembari memakan beberapa cemilan.
Xena berjalan mendekat, menendang pantat Jason yang sedang bertelungkup.
"Apaan sih Anjiir." Umpat Jason.
"Jangan makan dikasur begoo, nanti banyak semut." Eluhnya kesal, ia meneguk soda ditangannya. "Lagian kenapa kalian jadi pada nongkrong disini sih.."
"Sekali-kali sih Xen, pelit amat lo." Jason mendengus kesal,
"Gara-gara lo nih Ar,"
Arnav yang sedang fokus pada tugas Xena tersentak kaget, menatap perempuan berantakan itu. "Lah kok gue sih,"
"Kan gue cuma minta lo yang dateng kesini, malah ngajak ni berdua."
__ADS_1
Biundra yang sedari tadi diam, mulai ikut berkomentar. "Ya lagian kenapa lo cuma ngundang Arnav, mau mesum ya kalian berdua."
Jason terkekeh mendengar ejekan Biundra, sedangkan Arnav hanya menggeleng dan kembali pada tugas Xena, untuk Biundra sendiri sudah mendapat jitakan keras dari Xena. Mereka sudah saling mengenal masing-masing, karena terlalu mengenal membuat mereka tau kalau Arnav pernah menyukai Xena, oh bahkan mungkin masih, meskipun mereka tau kalau Xena tidak akan menyukai Arnav.
"Lo pikir gue kayak lo, sama temen sendiri main mesum."
Jason kembali terbahak, Biundra yang merasa kalimat itu ditujukan khusus untuknya langsung terdiam.
Xena tertawa. "Kenapa? Nyadar lo,"
Biundra menaruh stik PlayStation keatas kasur, menatap Xena dan Jason yang menatapnya. "Gue nanya soal perasaan El ke gue tadi malam."
"Do you believe that?" Biundra mengangguk saat Jason bertanya. "Mungkin Elenora berbohong, bisa aja kan?"
Arnav dan Xena mengangguk, hanya Biundra yang menggeleng. "No, dia kelihatan yakin gitu kok."
"Lo kecewa?" Xena bertanya sembari berjalan menuju Biundra, duduk diatas kasur tepat didekat Biundra duduk dilantai.
Biundra menggeleng samar. "Gak tau. Tadi waktu kami ngobrol, El bilang kalau gue cuma merasa bersalah sama dia, makanya gue kayak gini."
__ADS_1
"Bersalah?" Arnav bertanya ulang.
"Gue jadi kepikiran, apa gue terlalu jauh ya sama Elenora?"
Jason tertawa, membuat semua menoleh padanya, mengerutkan dahi karena kebingungan. "Lo baru menanyakan hal itu sekarang? Kalian sudah lama loh melakukan itu,"
Xena memukul kaki Jason yang lurus didekat dia duduk. "Diem lo bangs*t." Xena mengangkat dagu Biundra agar mendongak melihatnya. "Yang perlu ditanya itu diri lo Bi, lo gak ada rasa deg-degan waktu ngelakuin itu sama Elenora?"
"Eum, kira-kira El deg-degan gak ya?"
"Jawab!! Bukan malah nanya balik begoo." Arnav memukul kepala Biundra dengan buku ditangannya. Lalu melepaskan tangan Xena dari dagu Biundra, Jason hanya menggeleng melihat Arnav karena laki-laki itu masih sempatnya merasa cemburu. Arnav kembali duduk kebangku belajar.
Biundra mengelus kepalanya bekas pukulan Arnav. "Dulu pas SMA pernah kami obrolin, kata El cuma degdegan pas ngelakuin doang, tapi dia sama sekali gak ada rasa sama gue!!!"
"Elenora beneran ngomong gitu?" Xena bertanya dan dijawab anggukan dari Biundra. "Tapi perasaan itu bisa berubah kok seiring berjalannya waktu, kalian sering ngelakuinnya kan? Terus act of service lo kedia itu oke banget loh Bi. Actually, itu bisa merubah perasaan juga."
"Xen," Xena menatap Arnav, begitu juga Biundra dan Jason. "Act of service gue ke lo itu sudah maksimal. Yuk coba sama gue, mana tau lo berubah."
"GOBLOOOK!!!" Teriak ketiganya pada Arnav.
__ADS_1
^^^To be continued 🖤🖤^^^