FWB (Friends With Benefit)

FWB (Friends With Benefit)
Tidak pandai berbohong


__ADS_3


...🖤🖤...


Hah!!!!!!


Mata Elenora membelalak sempurna, keringat diseluruh tubuhnya telah keluar, nafasnya memburu sempurna, seakan esok ia tidak lagi dapat bernafas, Elenora rakus. Kepalanya tertoleh kekiri, matahari telah bersinar terang, Elenora mengusap wajahnya, menelan saliva dengan susah payah. Lalu ia menoleh kekanan, kasur bagian sebelahnya masih sangat rapi, pintu kamarnya tertutup rapat.


Elenora menatap nanar pada langit kamar, dia bermimpi? Bagaimana bisa mimpi itu terasa sangat nyata, Elenora menyentuh bibirnya, membengkak. Tapi tidak ada siapapun dikamarnya.


Ia mengangkat tubuhnya, menatap keluar jendela. Mimpi. Karena terlalu lelah merindukan laki-laki itu hingga membuatnya berhalusinasi.


Elenora berjalan menuju dapur, meraih air putih dingin untuk menjernihkan paginya. Ponselnya berdering membuatnya berjalan menuju kamar lagi.


Nama Helena tertera diponselnya. Membuat Elenora buru-buru mengangkatnya. "Holla tantee..."


"Ele sayang, kenapa tidak ikut pulang?"


"Hah?"

__ADS_1


"Biu pulang, tante rindu kamu."


Elenora tidak menjawab, jika Biundra pulang, mimpi seperti nyata itu memanglah mimpi. "Eum, Ele...."


"Apa kalian bertengkar? Ahh, tante kesal, akhir-akhir ini kalian pulang selalu sendiri-sendiri, padahal biasanya kalian selalu bersama. Apa kalian bertengkar?" Nyonya Collins terus mendesaknya dengan rentetan pertanyaan. "Hum, kata papa Biu, sewaktu kalian makan bersama, kalian terlihat tidak akur, bahkan Biu sama sekali tidak melihatmu dan malah berbicara ketus. Apa Biu menyakitimu?"


Ahhh, nyonya Collins tidak akan membiarkannya menjawab karena wanita itu selalu memberikannya pertanyaan. Helena adalah tipe ibu yang cerewet dengan suara melengking, berbeda dengan mamanya, Giselle lebih suka berbicara dengan tenang dan berbicara dari hati ke hati. Tapi keduanya tetap memiliki niat memaksa.


"Sayang, kenapa tidak dijawab?"


"Tidak tante, kami tidak bertengkar, hanya saja Ele dan Biu memiliki kesibukan masing-masing, you know that, kami beda jurusan. Biu sibuk dengan tugas kelompok, sedangkan Ele lebih banyak praktek. Makanya kami jarang bersama." Tuturnya pelan, berharap semoga nyonya Collins mau mempercayai ucapan bohongnya.


Huft, kenapa semua wanita bisa tau saat seseorang tengah membohongi mereka?


"Untuk apa Ele bohong, dosa tau!!" pekiknya diujung kalimat. Yeah, Elenora sedang melakukan sebuah dosa.


Dan Elenora tidak tau jika nyonya Collins sangat memahami dirinya.


"It's okay kalau kamu berbohong pun, tante paham apa yang sedang kamu sembunyikan."

__ADS_1


"Ele tidak bohong sama tantee!!!"


"Okay,, okay,, relax baby. I know," Helena terdengar diam sejenak, membuat Elenora menghela napas pelan, setidaknya nyonya Collins tidak memaksanya untuk jujur. "As long as you know, that keeping everything alone can make you a selfish person."


Shiiittt, Elenora seakan tertusuk pisau tajam. Helena memberikan kalimat begitu menyakitkan untuknya.


"Kamu masih disana?"


"Eum, ya tante, masih." Gugup, tentu saja Elenora gugup, dia sudah tertangkap basah. "Why?"


"Nothing. Tante hanya merindukanmu."


Elenora tertawa kecil, "mama El bahkan tidak pernah mengatakan hal itu."


"Karena sejak dulu saat mamamu sibuk, kamu selalu bersama tante. Tante yang menemanimu tumbuh menjadi gadis cantik," jelasnya.


Sebelum sesantai sekarang, dulu Giselle memang wanita sibuk, bekerja membantu sang suami, membuatnya jarang berda dirumah untuk memantau putrinya, Aquinora sendiri sudah kuliah di luar negri saat itu. Karena Helena wanita yang tidak bekerja, membuat Giselle terpaksa merepotkan untuk menitipkan Elenora pada Helena, itulah yang membuat Elenora dan Biundra menjadi dekat. Giselle mungkin tidak akan pernah menyangka, jika niatnya menitipkan Elenora malah membuat putrinya menjadi bergantung, tidak, ketergantungan maksudnya, yah, Elenora menjadi ketergantungan pada Biundra.


^^^To be continued 🖤🖤^^^

__ADS_1


__ADS_2