
...🖤🖤...
Mereka sudah duduk diruang utama, duduk disofa panjang. Tangan Biundra terus memainkan helai demi helai rambut Elenora yang terurai. Dulu Elenora selalu merengek ingin memotong habis rambut panjangnya, tapi Biundra larang karena dia memang menyukai perempuan berambut panjang.
Elenora menelan salivanya, sikap Biundra sangat berubah, ada apa dengan Biundra?
"Sebenernya lo mau ngomong soal apa sih? To the point aja," Elenora berakting melihat jam tangannya, seakan-akan dia tengah dikejar waktu.
"Lo mau kemana sih El, kayak buru-buru gitu."
Berusaha mencari jawaban, Elenora hanya terkekeh. "Mau nonton sama Galaksi."
Wajah Biundra terlihat serius dan tangan laki-laki itupun sudah menjauh dari kepala Elenora.
"Give me five minutes of your time." Elenora tidak menjawab, dia hanya mengangguk. "Gue, semakin intens sama Floretta."
Elenora mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan, kita dengarkan maksud dari laki-laki disampingnya ini.
"Gue lihat lo juga semakin deket sama Galaksi."
"Eum, gitulah." Jawabnya cepat.
"Gue rasa,,," Biundra menggantungkan ucapannya hingga membuat Elenora menoleh padanya. "Pertemanan kita cukup sampai disini."
Hah?
Elenora mengerjapkan mata, menimang perkataan yang baru saja teman baiknya itu lontarkan. Sampai disini? Apanya, hubungan rumit mereka? Elenora menelan saliva, dia tetap mempertahankan ekspresi datarnya.
__ADS_1
Biundra tersenyum tipis, mungkin melihat bagaimana santainya Elenora menanggapi ini. "I know, ini mungkin terlalu tiba-tiba, tapi... Aku ingin fokus."
Fokus?
Fokus untuk apa?
Elenora masih tidak dapat mencerna kalimat demi kalimat Biundra, bukankah selama ini hubungan mereka baik-baik saja, Elenora tidak pernah mengganggu hubungan Biundra dengan siapapun, dia juga tidak menuntut banyak meski terkadang dia merasa kesal karena ditinggalkan. Tapi, apa kurangnya?
"Beberapa waktu belakang, aku merasa nyaman bersama Floretta, i mean, kami cocok satu sama lain." Biundra menjelaskan. "Dia, sosok yang mampu memanjakan gue, you know El, you know me."
Ya. Elenora tau kalau Biundra memang tipe yang manja, tapi selama ini dia menutupi manjanya dengan sikap romantis kepada para kekasihnya dulu. Jika Biundra mencari seseorang yang dapat memanjakannya, bukankah Elenora selalu melakukannya? Bahkan Elenora selalu dapat menangani sikap manja Biundra jika sedang kumat. Bahkan Elenora saja sempat envy kepada para kekasih Biundra yang selalu dimanjakan.
Tapi ini fakta baru. Biundra mencari seseorang yang dapat memanjakannya. Seharusnya Biundra dapat melihatnya kan?
"El sorry, kalau ada perasaan..."
Elenora tersenyum, membuat Biundra menghentikan kalimatnya, "you sure?"
"Sumpah Biu, gue pengen ngomong ini dari kemarin."
"Hah?"
Elenora terkekeh. Sebelum mengeluarkan kalimat apapun, dia lebih dulu menelan salivanya. "Dari lama pengen banget gue ngomong gitu sama lo, gue emang udah gak nyaman juga deket sama lo yang kearah lain."
"Maksud lo?"
"Waktu gue minta untuk gak ketemu dulu, sebenernya gue pengen kayak yang lo bilang tadi. Fokus." Elenora terkekeh. "Jangan pernah mikir kalau gue punya perasaan sama lo Bi, sama sekali enggak, gue malah seneng kalau lo beneran udah dapet orang yang sayang sama lo, yang bisa manjain lo lebih dari gue."
Elenora sengaja mengatakan hal itu, dia ingin menegaskan kepada Biundra kalau dia juga mampu memanjakannya.
__ADS_1
"Lo yakin?"
"One million hundred persen gue yakin." Ujarnya tegas, dia menahan semua dengan mengggengam kuat tangannya dan melupakan rasa sakit karena kuku-kukunya yang menancap pada telapak tangannya. Dada Elenora sesak, tapi tidak ingin menunjukkannya pada Biundra.
Biundra menahan Elenora dengan meraih pergelangan tangan perempuan itu. Elenora menatap. "But, gue masih butuh lo El, in here."
Elenora mengangguk. "Aman, panggil gue aja kapan lo butuh."
"Lo gak apa-apa kan El?"
"Lo berharap gue kenapa?" Elenora terkekeh.
Biundra menggeleng, "lo kayaknya perlu memperluas pertemanan deh El,"
"Kenapa?"
"Biar lo mandiri aja. Gue takut kalau gue gak bisa ada buat lo karena terlalu fokus sama Floretta."
"Yalah si paling mandiri." Elenora menarik tangannya. "Jangan pikirin gue, happy aja sama hidup lo. Gue pulang."
"Hemm.." Biundra melepaskan tangannya secara perlahan.
Elenora menggenggam tangannya lagi dengan kuat, hanya sekedar basa-basi untuk mengantarkannya pulang saja tidak Biundra lakukan. Wajahnya masih datar karena terlalu banyak pikiran, dia lupa membalas sapaan pekerja wanita diapartemen Biundra. Elenora terlalu sibuk mengurusi rasa sakitnya yang tidak kunjung mereda.
Selama dalam perjalanan sampai dilantai apartemennya, Elenora menahan semuanya. Dan air mata Elenora jatuh ketika dia melihat seorang laki-laki tengah berdiri bersandar pada pintu apartement miliknya. Elenora mengusap bulir bening yang membanjir, dia berjalan cepat hingga laki-laki yang sedang sibuk memainkan ponsel itu menatapnya. Bibir laki-laki itu tersenyum lebar saat melihatnya datang.
"Hai...." Tubuh laki-laki itu menegang.
Elenora tidak perduli tanggapan laki-laki ini terhadap dirinya, memeluk tanpa izin, menangis tanpa permisi. Yang Elenora dapat rasakan, hanya membalas pelukannya dan menepuk lembut punggungnya.
__ADS_1
Elenora membutuhkan seseorang yang menenangkannya bahwa keputusannya tidak akan salah. Biarkan Biundra bahagia dengan pilihannya, dan biarkan sampai kapan Biundra akan bertahan pada perempuan selain dirinya.
^^^To be continued 🖤🖤^^^