FWB (Friends With Benefit)

FWB (Friends With Benefit)
Arti sebuah lukisan


__ADS_3


...🖤🖤...


"Kalau kamu milikku, aku tidak akan membiarkan punggungmu terlihat banyak orang."


Pipi Elenora memanas, Galaksi selalu saja mampu membuatnya tersipu malu.


Mereka berjalan masuk dengan bergandengan tangan, Galaksi memberikan tiket mereka kepada petugas, lalu mereka dibiarkan masuk.


Sudah cukup ramai, banyak pelukis yang menaruh karya mereka disini. Mereka berjalan menuju ruangan khusus, Galaksi tidak hanya mengajaknya untuk melihat lukisan, mereka akan membeli salah satu dari lima lukisan yang akan dilelang malam ini.


Galaksi adalah sesuatu bagi Elenora. Sebelumnya ia tidak pernah berpikir bagaimana kehidupan Galaksi, laki-laki itu terlihat seperti orang kebanyakan, santai dan sederhana, sama sekali tidak berlebihan.


Mereka berdua duduk disebuah meja bundar dengan berberapa macam buah segar dan botol berisi champagne,


"You wont it?" Mata Galaksi menuju botol champagne.


Elenora terkekeh dan berbisik kecil. "No, kalau aku mabuk malah membuatmu malu."


"Kamu tidak pernah membuatku malu."


"Shhh.." Jari lentik Elenora tertempel dibibir. "Jangan membual disini."


Galaksi hanya tersenyum, mereka kembali fokus pada permainan saat satu pria dan dua wanita maju kedepan, dua wanita itu membuka tirai dan menampilkan sebuah lukisan indah disana.


Galaksi mendekat, "itu adalah lukisan karya milik Salvador Dali, katanya lukisan itu merupakan simbol bawah sadar dari relativitas ruang dan waktu. Setahuku lukisan itu ada dimuseum, tidak menyangka jika dilelang untuk malam ini."


Elenora mengangguk-angguk mendengrkan, dia tidak terlalu tau soal lukisan. "Apa kamu akan membelinya,"

__ADS_1


"Bukan yang ini."


"Lalu?"


"Nanti. Sebenarnya, ini mau tante,"


"Ouh," Elenora mengangguk.


"Tante yang memberikan aku tiket untuk melihat pameran, jadi kupikir hanya melihat. Tidak taunya malah dikasih uang untuk salah satu lukisan yang akan dilelang." Jelas Galaksi dengan berbisik.


Semua itu menjelaskan bagaimana kehidupan keluarga Galaksi, jauh dari penampilan laki-laki itu, tidak akan ada yang menyangka jika Galaksi mampu bergaya mewah diluar kampus.


Sekitar pukul sepuluh acara selesai, Galaksi memenangkan lelang dari laki-laki berperawakan tinggi dan gagah, tentu dengan harga fantastis yang tidak bisa Elenora bocorkan. Kabarnya lukisan mahal itu sudah akan langsung dikirim kekediaman tante Galaksi.


Mereka masuk kedalam ruangan khusus untuk lukisan yang dipamerkan. Galaksi dengan telaten menjelaskan arti dari setiap lukisan yang ada dihadapan mereka, hingga ada salah satu pria dewasa menghampiri mereka.


"Galaksi?"


Galaksi membungkuk tepat ditelinganya, "aku tau kamu bosan, kamu boleh berkeliling sendiri, tapi jangan terlalu jauh. Nanti aku susul, lalu kita pulang."


Elenora mengangguk setuju, merasa telah diselamatkan oleh Galaksi.


Elenora berjalan sedikit jauh, tapi tetap dalam pantauan Galaksi, karena tidak paham jadi Elenora hanya menatap sebentar lalu berpindah kelukisan yang lain.


Ada satu lukisan yang membuatnya tertarik. Terpanjang didinding paling ujung.



"The scream,,"

__ADS_1


Elenora menoleh, mengrenyit kaget pada wanita disebelahnya. Wanita itu menunjuk kelukisan yang ada dihadapan mereka.


"Karya milik Edvard Munch, ada yang berpendapat kalau objek ini ketakutan karena langit yang warnanya merah darah. Dan warna langit itu sendiri kabarnya terinspirasi dari meletusnya Krakatau pada 1883 yang berdampak pada muramnya warna langit di berbagai negara dunia ini." Jelas wanita itu.


Elenora meneliti lukisan itu lagi, ketakutan? tapi yang dia lihat adalah seseorang yang tampak begitu gelisah. Tatapan Elenora semakin melekat. Kenapa dia begitu gelisah? Kegelisahan itu digambarkan dengan mulut yang menganga lebar seolah berteriak? Kira-kira apa yang dia lihat di depan, ya?


"Apa yang kamu lihat dari lukisan itu?"


Elenora menoleh pada wanita itu sebelum kembali menatap lama pada lukisan didepannya. "Kegelisahan. Kira-kira apa yang dia lihat hingga dia terlihat begitu gelisah dan seperti berteriak."


"Jawabannya tergantung pada pemikiran yang melihatnya." Wanita itu tersenyum. "Kesini sama siapa? Biundra?"


"Galaksi,"


"Ouh iya, saya lihat dia yang memenangkan lukisan karya Salvator Mundi."


Elenora mengangguk mendengarkan. "Saya tidak menyangka ibu juga menyukai lukisan."


"I'am not, saya hanya diajak."


"Tapi bisa menjelaskan salah satu karya, sama saja dengan mengetahui segalanya."


"Tidak juga, heii..." pekik wanita itu saat seorang pria melingkarkan tangannya dipinggangnya. "Sudah selesai? Mari pulang, aku sudah mengantuk."


"Iya," mata pria itu menatap Elenora. "Siapa?"


"Elenora Oxley, mahasiswi diuniversitas tempatku mengajar."


"Ouh," pria itu mengangguk. "Kami pulang duluan ya, senang bertemu denganmu."

__ADS_1


Elenora mengangguk, menatap sedih pada wanita yang baru saja mengajaknya bicara, Floretta, wanita itu datang bersama pria lain selain Biundra? Bahkan mereka tampak mesra. Apa yang terjadi?


^^^To be continued 🖤🖤^^^


__ADS_2