
...🖤🖤...
Biundra menelan salivanya kasar, menatap tajam pada layar ponselnya. Salah satu teman sekelasnya mengirimnya sebuah foto, Biundra tidak perduli tentang foto mesra itu, tapi entah bagaimana dadanya terasa panas dan dia berusaha menahan amarah.
Tangannya bergerak mencari nomer telepon teman baiknya itu. Masih berdering, tidak biasanya Elenora mengabaikan panggilannya, biasanya Biundra akan langsung mendengar suara manis Elenora setelah deringan ke dua. Bahkan ini sudah panggilan ke sepuluhnya, tidak ada satupun yang di angkat.
"Sialaaann!!!!!" Biundra kembali mencoba menekan panggilan pada nomer Elenora. Dia melemparkan ponselnya kesembarangan arah dengan mulutnya terus mengumpat kasar. Tubuhnya bergerak kesana-kemari dengan gelisah, sembari menunggu panggilan kesebelas ini akan di angkat.
Kalau sampai tidak diangkat, Biundra akan lebih marah.
Panggilan terangkat dengan deringan cukup lama. "H-halo, kenapa Biu?"
Suara Elenora terdengar gagap dan hati-hati, Biundra menarik napasnya dan menghembuskannya dengan sangat pelan sebelum menjawab orang di sebrang saba. "Lo dimana?"
"Apart." Jawabnya langsung.
"GUE HABIS DARI SANA ANJIIR!!!!" Suara Biu mengeras, dia tidak perduli jika suaranya sampai keluar apartement. "Gak usah bohongin gue El!!!!"
"I-iyaa, maaf, gue lagi diluar." Suara Elenora terdengar gemetar.
Masih mencoba tenang, Biundra bertanya lagi. "Lo tidur di mana semalam?"
"Di apart."
"Gak usah BOHONG ELENORAA!!!" Teriaknya lagi. Biundra tidak bisa menahan dadanya yang mendadak memanas. "Jangan coba-coba bohongin gue. Sharelock!!!"
"Gue pulang sekarang,"
"Budek lo!!! Sharelock gue bilang!!!!" Rasanya, tenggorokan Biundra sudah serak karena terus berteriak.
__ADS_1
"Gue ke apart lo, Biuu. Jangan marah-marah, gue takutt!!!"
Telepon masih tersambung, Biundra terdiam sebentar. "Tidur dimana lo?"
"Rumah Movie,"
"Masih berani bohong lo!!"
Suara Elenora terdengar gemetar dan beberapa kali menghela napas pelan. "Di hotel."
"Gue tunggu."
...🖤🖤...
Dada Elenora berdegub sangat kencang, tangannya gemetar menekan kata sandi apartement Biundra. Suara Biundra terdengar marah, bagaimana ini???
Saat kakinya melangkah masuk, sebuah mata tajam Biundra sudah menunggunya.
Biundra tidak menjawab, Elenora berjalan mendekati Biundra yang hendak masuk kedalam kamar.
Brak!!!
Elenora tersentak kaget, untung saja dia tidak benar-benar berdiri di tengah pintu, Biundra menutup secara kasar. Elenora menelan salivanya, tenggorokannya terasa kering. Tangannya mulai mengetuk pintu kamar pelan.
"Biu, maaf."
Pintu kembali terbuka, menampilkan sosok Biundra dengan wajah masih sama marahnya, tapi tatapannya tidak setajam tadi.
"Enak?" Pertanyaan itu yang pertama kali Biundra keluarkan.
"A-apanya?"
__ADS_1
"Enak udah nidurin laki-laki sembarangan?"
"G-guee..."
Tangan Biundra terlipat didada. "Gimana? Dia nurut gak sama lo?"
Elenora menelan salivanya lagi, dia tau arah pertanyaan Biundra. "Gak gitu,"
"Who is he?"
"Gak tau."
"Gak tau?" Biundra membeo.
"Gak kenal,"
"Stranger??" Elenora mengangguk. "Gue gak suka ya lo kayak gitu El, lo pergi tanpa seizin gue dan pagi-pagi ada yang ngirim gue foto lo sama laki-laki. Terus juga ada yang chat gue kalau dia lihat lo sama laki-laki itu ke hotel."
Elenora tidak menjawab.
"Jawab gue El, sepengen itu lo mau nyicip laki-laki lain? Lo kalau gabut bisa minta sama gue."
"Gue...."
"Seenaknya lo main tidur sama orang, gak kenal lagi itu siapa. Lo gak ngertiin perasaan gue pas tau itu ha!!!"
Perasaan.
Elenora mendongak, dia tidak salah dengar kan? entah seberani apa dia mendekati Biundra. Meraih kedua lengan laki-laki itu yang melipat di dada, dia turunkan keduanya. Elenora mendekat dan mengecup rahang Biundra yang mengeras. "Jealous hum?"
^^^To be continued 🖤🖤^^^
__ADS_1