
...🖤🖤...
"Katanya bosen, kok masih nempel."
Elenora tidak menggubris Movie, mereka tengah duduk didepan parkiran, Ia dan Movie sedang menunggu jemputan dari Ivano.
Terlihat Biundra menggandeng mesra Floretta, membantu wanita s*xy itu masuk kedalam mobil. Biundra sepertinya tidak menyadari keberadaannya. Elenora hanya menghela napas, ia tidak bisa melupakan Biundra. Sampai kapanpun.
Kepalanya mendongak, saat kepalanya dielus lembut. "Hai, Galaksii..."
Laki-laki yang berdiri dibelakangnya itu tersenyum, "kalian kenapa duduk dipanas-panasan?"
"Lagi nunggu pacarnya Movie,"
"Ouh." Galaksi duduk disebelah Elenora, laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Apa ini?" Tanyanya meraih sebuah buku gambar.
"Dari Angin."
Movie menoleh, dia sedikit memajukan tubuhnya dan menyerong untuk menatap Galaksi. Melihat itu, Galaksi tertawa kecil.
__ADS_1
"Keponakan."
"Oh, kirain Angin yang angin gituu,"
"Apa sih Mov," Elenora tertawa, membuka buku gambar dengan banyak lukisan yang emm cukup berantakan tapi dapat terbaca jelas gambarnya. "Wow, beautiful."
Elenora mengusap gambar itu,
"Angin bilang, mau main sama kamu lagi."
"Uhh, jadi kangen Angin." Rengeknya, membuat Galaksi tersenyum sembari mengusap puncak kepala Elenora. "Kapan-kapan deh, akhir-akhir ini lagi banyak tugas gitu,"
"Iya. Kabarin aja." Galaksi berdiri, melambaikan tangannya sembari berlalu pergi setelah mengucapkan salah perpisahan.
"Galaksi tipe idaman banget ya,"
"Kalau boleh jujur ya, Biundra gak kalah idaman sih."
Mendengar itu membuat Elenora menoleh, biasanya Movie tidak pernah mengatakan secuil pujian untuk Biundra. Perempuan itu tertawa kecil.
"Sumpah El, kalau gak playboy ya si Biundra itu idaman banget loh." Elenora masih mendengarkan. "Dulu sebelum tau kalau lo sama Biundra cuma temenan, gue mikirnya kalau kalian itu adalah sepasang kekasih yang sudah bertunangan. I swear, siapapun yang lihat kalian dulu, gak akan nyangka fakta sebenarnya."
"Kami seberlebihan itu kah?"
__ADS_1
"Kalau kata gue sih gak berlebihan ya, but it looks more if you both are sincere from the heart, yang kayak emang gitu cara kalian berhubungan." Movie menggeleng kecil. "Masih gak nyangka kalau kalian cuma temenan, waktu gue tau kalau kalian friend with benefits doang, I feel like screaming into the ears of both of you, you two dumbass."
Mereka berdua sama-sama tertawa, Elenora jarang bicara hanya berdua dengan Movie seperti ini.
"Waktu gue mulai ngerasa hubungan gue hambar sama Ivano, gue ngelihat kearah lo El, kalau lo yang cuma temen aja bisa nahan keegoisan lo buat milikin Biundra. What can't i? Kan? Makanya perasaan gue sama Ivano sekarang ini kayak lo ke Biundra, ingin memiliki lebih tapi sadar kalau kita gak boleh ngelakuin hal itu."
"You and i are different, you have rights while i don't."
Movie menggeleng. "Punya hak atau enggak, bagi gue sama. Ivano sendiri yang bilang, kalau mantannya lebih unggul dari gue dihatinya, unfortunately he can't let me go."
"Why?"
"Because he love me."
Elenora menutup mulutnya. "Sayang? Kalau itu benar, seharusnya dia gak lakuin hal itu."
"I don't care about him."
Elenora tersenyum, kalau dipikir memang dia dan Movie itu sama. Ivano bilang tidak bisa melepaskan Movie karena sayang, tapi tidak bisa melepaskan matannya karena dihatinya lebih unggul. Sedangkan dirinya, Biundra tidak pernah membiarkannya pergi karena laki-laki itu butuh dirinya, tapi tidak pernah berniat menjadikannya hak. Itu sama saja kan?
Apakah semua laki-laki sama?
Ah tidak. Elenora teringat akan papa, kakaknya serta kakak laki-laki yang menyakiti hatinya adalah laki-laki yang baik. Papanya selalu memperlakukan mamanya like a Quin. Aquinora selalu hangat kepadanya dan kepada mama like a Majesti. Dan Kavindra selalu memanjakannya like a Doll. So, how about Biundra?
__ADS_1
He treats me like a prostitute.
^^^To be continued 🖤🖤^^^